Realita Ahli Gizi, Apakah Benar Dapat Ditempa 3 Bulan?
Politik | 2025-11-26 10:39:18Meskipun Indonesia telah merdeka selama 80 tahun, permasalahan seperti malnutrisi dan stunting masih dapat ditemui di berbagai wilayah di Indonesia. Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai terobosan baru bagi warga Indonesia terutama di kalangan anak-anak untuk menyelesaikan kedua masalah tersebut. Distribusi MBG telah dilakukan oleh pemerintah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, lambat laun, MBG ini justru menjadi polemik baru di masyarakat.
Mulai dari fenomena MBG yang tidak layak konsumsi hingga keracunan massal yang hangat diperbincangkan. Belum tuntas permasalahan-permasalahan tersebut, muncul kontroversi baru yaitu adanya pernyataan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Cucun Ahmad Syamsurijal yang menilai tenaga pengawas gizi untuk dapur umum makan bergizi gratis (MBG) itu hanya perlu pendidikan tiga bulan. Tentunya hal ini menuai kontra dari masyarakat, terutama Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). Seorang ahli gizi mempunyai tugas yang lebih kompleks dari yang terlihat di mata masyarakat.
Sebelum dapat melakukan praktik profesi ahli gizi, seorang calon ahli gizi wajib menempuh pendidikan gizi selama 3-4 tahun dan wajib mencapai gelar Sarjana Terapan Gizi (S.Tr). Dalam menempuh perkuliahan. Seorang calon ahli gizi harus memahami betul bagaimana manajemen proses penyelenggaraan makanan dan pemeliharaan gizi, ilmu bahan makanan dan teknologi pangan, diagnosa gizi, dan lain sebagainya. Sebagai tenaga kesehatan, ahli gizi memiliki peran penting dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Pembangunan kesehatan dari segi gizi harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum kelahiran seseorang.
Nutrisi yang mencukupi kebutuhan dapat mempengaruhi pertumbuhan seseorang di masa depan dan dapat mempercepat proses pemulihan seseorang dari sakit.Ahli gizi tidak hanya bertugas sebagai 'koki' rumah sakit, tetapi juga sebagai tokoh yang sah dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pola makan seimbang. Misalnya, ahli gizi juga ikut melakukan kunjungan pada pasien rumah sakit dan melakukan identifikasi gaya hidup serta pola makan, lalu mengedukasi pasien agar menjaga kecukupan nutrisinya.
Setelah melakukan kunjungan pasien, ahli gizi perlu melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien untuk keinginan menu diet yang akan diberikan pada pasien tersebut. Tentunya hal tersebut bukanlah hal yang mudah karena setiap orang memiliki kondisi masing-masing, mulai dari latar belakang, genetik, dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi kebutuhan nutrisi setiap individu. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan Indonesia Emas 2045 dengan generasi gemilang bergizi seimbang, diperlukan adanya ahli gizi yang profesional di bidangnya, bukan sekadar pendidikan dan pelatihan sementara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
