Gaji Besar Bukan Segalanya, Revolusi Prioritas Gen-Z di Dunia Kerja
Lifestyle | 2025-11-21 17:01:17
Sudah jadi rahasia umum kalau banyak Gen Z sekarang berani meremehkan dirinya meski gajinya sebenarnya sudah lumayan. Fenomena ini sering membuat muncul komentar nyinyir seperti,“Anak zaman sekarang kurang kuat!” atau “Kerja kok pilih-pilih, mental yupi banget!”. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, ada perbedaan cara melihat soal kerja antara Gen Z dan generasi sebelumnya yang perlu dipahami. Sebagai mahasiswa yang sebentar lagi masuk dunia kerja, fenomena ini semakin terasa dekat dan relevan.
Apa sih yang membuat Gen Z berbeda dari generasi sebelumnya?
Generasi sebelum kita (terutama Milenial) biasanya menjadikan gaji sebagai patokan utama sukses. Semakin besar slip gaji, semakin puas. Tapi Gen Z sepertinya lagi menyusun ulang prioritas itu. Survei global Deloitte 2025 bahkan menunjukkan hanya sekitar 6% Gen Z yang mengincar puncak posisi perusahaan sebagai tujuan karir utama. Kebanyakan justru lebih memilih pekerjaan dengan penghasilan yang cukup tapi tetap kasih ruang untuk hidup seimbang. Keseimbangan kehidupan kerja bukan bonus lagi, tapi kebutuhan dasar supaya tetap waras di tengah tekanan.
Lingkungan kerja seperti apa yang dibutuhkan Gen Z?
Salah satu alasan terbesar Gen Z memilih angkat kaki adalah lingkungan kerja yang tidak sehat. Budaya toxic, atasan otoriter, komunikasi buruk, sampai kurang apresiasi bikin mereka mikir dua kali buat bertahan. Mereka membutuhkan tempat kerja yang aman, suportif, dan terima kasih kesempatan untuk belajar. Dalam konsep manajemen, ini masuk ke keterlibatan karyawan: ketika karyawan merasa dihargai, mereka bekerja lebih baik dan lebih baik.
Apa yang bisa dilakukan perusahaan?
Tidak juga adil jika semua kesalahan dibuang ke perusahaan. Dunia bisnis sekarang penuh tantangan: persaingan ketat, teknologi berubah dengan cepat, dan tuntutan efisiensi. Nggak semua perusahaan punya kemampuan buat kasih fasilitas ideal. Mengubah budaya kerja yang sudah mengakar puluhan tahun juga jelas bukan hal yang instan.
Pada akhirnya, gaji tetap penting karena semua orang membutuhkan hidup yang layak. Tapi bekerja di tempat yang membuat kita merasa aman, dihargai, dan bisa berkembang adalah nilai yang tidak bisa diganti angka berapa pun. Perubahan prioritas Gen Z ini bukan bentuk manja, tapi pengingat bahwa kerja seharusnya membuat kita tumbuh, bukan burnout. Kalau perusahaan dan Gen Z bisa saling menyesuaikan, dunia kerja Indonesia bisa melahirkan generasi yang produktif, sehat, dan bahagia❤️
(Penulis: Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
