Dampak Fenomena Fatherless terhadap Emosional Anak Perempuan
Parenting | 2025-11-20 15:17:47
Fenomena fatherless merupakan fenomena ketidakhadiran peran ayah dalam mengasuh anak. Fatherless merupakan istilah yang di mana seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis (Fajriyanti dkk., 2024). Berdasarkan data UNICEF, sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran atau peran seorang ayah. Padahal, peran ayah sangat krusial dalam tumbuh kembang anak. Ketidakhadiran peran ayah dapat memengaruhi emosional anak. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (Psikologi UGM), Dr. Rahmat Hidayat, menjelaskan, ketiadaan peran ayah seharusnya dipahami bukan hanya secara fisik, melainkan juga emosional.
Fenomena ini sedang marak terjadi karena beberapa faktor seperti perceraian, kematian, ataupun pekerjaan. Hal-hal tersebut membuat kurangnya waktu ayah bersama anak sehingga ayah tidak mampu memberikan kehadiran emosionalnya. Fatherless dapat dihindari apabila ayah yang masih hidup memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya. Kurangnya waktu ayah bersama anak karena kesibukan yang dimiliki dan kurangnya kesadaran terkait tanggung jawabnya sebagai ayah dapat memberi dampak yang buruk terhadap tumbuh kembang anak terutama dalam emosionalnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Santyani dan Suryanti (2023) dalam jurnal The Influence of Daughter’s Attachment to Father on Social Emotional Development, kelekatan anak perempuan usia 4-6 tahun dengan ayah berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosional mereka. Kehadiran ayah secara fisik dan emosional sangat penting karena bisa memberikan rasa aman dan dukungan perasaan bagi anak perempuannya. Kedekatan ayah dengan anak perempuan juga memengaruhi kemampuan sosial mereka. Ayah memiliki cara yang berbeda dalam mendidik anak dibandingkan dengan ibu yang cenderung lemah lembut, hal itu akan mengakibatkan anak lebih berani akan tantangan hidup dan memiliki kecerdasan emosional yang baik. Maka dari itu, kehadiran figur ayah sangat penting bagi anak terutama anak perempuan untuk perkembangan psikologis dan pertumbuhan sosial anak.
Ayah berperan sebagai panutan anak perempuan. Sikap ayah memengaruhi bagaimana cara pandang anak perempuan terhadap lingkungan sekitarnya. Dukungan emosional dari ayah dapat membantu anak perempuan jadi lebih percaya diri. Berdasarkan penelitian dan pengalaman hidup, cara didik ayah lebih cenderung tegas dan mengutamakan kemandirian. Hal tersebut membuat anak perempuan jadi terdorong untuk lebih berani dan itu akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Dengan cara didik yang lebih tegas, emosi anak akan lebih stabil dan tidak cenderung ketergantungan emosional, karena anak telah dihadapkan dengan gaya asuh yang fokus pada keberanian menghadapi tantangan.
Sikap ayah terhadap anak perempuan juga menjadi cara pandang bagaimana seharusnya seorang laki-laki memperlakukan perempuan dengan kasih sayang dan rasa hormat. Ayah adalah cinta pertama putrinya, karena ia adalah laki-laki pertama yang ditemui oleh anak perempuan dan merasakan kasih sayangnya. Hubungan ayah-anak yang dicirikan oleh penolakan, kekacauan, dan paksaan memiliki kadar kortisol pagi yang lebih rendah dan secara temperamen lebih sensitif terhadap perubahan emosional (Byrd-Craven dkk., 2012). Apabila peran ayah tidak ada, maka anak perempuan akan berupaya mencari kasih sayang tersebut terhadap laki-laki lain dan dikhawatirkan anak akan mencari di laki-laki yang salah yang nantinya akan menghancurkan mental anak perempuan sendiri. Maka dari itu, seharusnya ayah adalah sosok role model bagaimana anak perempuan menentukan standar pasangannya. Tanpa figur ayah, anak perempuan akan kehilangan sense of security dan self worth.
Anak-anak yang mengalami kondisi fatherless sering kali mendapatkan tantangan dalam pertumbuhan dan perkembangan sosio-emosional sehingga mempengaruhi kesejahteraan dan perkembangan anak secara keseluruhan (Fadhila dkk., 2025). Anak perempuan yang mengalami fatherless akan cenderung memiliki perasaan tidak aman ketika memiliki hubungan dengan orang lain terutama pada laki-laki, baik pertemanan maupun pasangan. Karena pada dasarnya tugas ayah itu memberi validasi perasaan anak perempuan. Apabila fatherless dialami oleh anak perempuan, mereka akan tidak percaya kepada laki-laki manapun, ia akan merasa takut akan ditinggalkan atau dikhianati. Hal itu akan membuat anak menjadi tertutup dan merasakan kesepian yang membuat emosinya menjadi tidak stabil.
Rasa tidak aman yang ditimbulkan oleh tidak adanya peran ayah akan membuat anak perempuan menjadi cemas berlebih, overthinking, dan trust issue. Secara psikologis, anak perempuan membutuhkan secure base atau tempat merasa aman dan terlindungi. Tugas ayah yaitu menjadi tempat aman anak perempuan secara emosional. Ketika peran ayah tidak hadir, maka anak perempuan akan mudah cemas dan sering berpikir berlebihan karena ia dibiasakan oleh keadaan yang tidak aman secara emosional dan sering mendapati “ketidakpastian” dari seorang ayah yang akan membentuk trust issue dalam diri anak tersebut.
Anak perempuan yang mengalami fatherless akan mengalami kekurangan kasih sayang. Alhasil, anak perempuan akan haus akan cinta dan validasi dari orang lain, dimana itu bukanlah tugas orang lain untuk memenuhi cinta dan validasi tersebut. Anak perempuan yang tidak mendapatkan peran ayah akan terus mencari ‘kekosongan hati’ yang diakibatkan oleh ayahnya sendiri. Ketika hal itu terjadi, anak dikhawatirkan akan dijauhi oleh orang lain karena ‘kehausan’ tersebut dan anak akan berakhir kesepian.
Ketika anak perempuan mengalami fatherless, ia juga akan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Banyak anak perempuan yang kesulitan memercayai pasangannya karena memiliki trust issue terhadap laki-laki dan tidak sedikit pula yang terlalu mudah memberikan kepercayaan terhadap pasangannya karena ia mendapatkan kasih sayang dari seorang laki-laki yang tidak pernah didapatnya dari siapapun termasuk ayahnya sendiri. Hal ini akan membuat emosi anak perempuan menjadi tidak stabil dan akan kesulitan menjalani hubungan dengan lawan jenis.
Fenomena fatherless bukanlah hal yang dapat diselesaikan dengan saling menyalahkan. Fenomena ini harus dipahami dampak jangka panjangnya. Ayah harus sadar akan tanggung jawabnya baik secara finansial maupun emosional. Perlu kesiapan jasmani dan rohani yang matang sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Lingkungan di sekitar juga perlu untuk lebih peka terhadap emosional anak perempuan yang tumbuh tanpa peran ayah. Kehadiran ayah bukan sekadar hadir secara fisik di rumah dan menafkahi tetapi juga harus hadir secara emosional untuk anak terutama anak perempuan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
