Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Laluna Sabilillah

Sebenarnya, Apa Pekerjaan dan Peran Ahli Gizi?

Pendidikan dan Literasi | 2025-11-19 22:58:30

Banyak orang yang mengalami miskonsepsi terkait pekerjaan ahli gizi. Hal ini bukanlah suatu hal yang baru bahkan mungkin sudah ada sedari pekerjaan ini ada. Banyak orang yang mengartikan pekerjaan ahli gizi hanyalah sebagai seorang tukang masak. Namun, nyatanya pekerjaan ahli gizi bukanlah seorang tukang masak. Miskonsepsi ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman publik mengenai prospek kerja bidang gizi. Sebenarnya, apa itu ahli gizi?

Ibu R adalah lulusan D3 Gizi di Poltekkes Malang yang sekarang berprofesi sebagai Kepala Gizi RS Siti Khodijah Muhammadiyah Sepanjang Sidoarjo. Menurut Ibu R, gizi adalah suatu hal yang unik dan memiliki nilai seni. Gizi bukanlah suatu hal yang pakem (tetap, tidak berubah-ubah). Kebutuhan gizi setiap individu yang berbeda-beda dan juga solusi yang tidak ada batasnya, hal itu yang dianggapnya sebagai seni. Baginya, peran ahli gizi ada di tiga pilar utama, yaitu gizi klinik, gizi masyarakat, dan teknologi pangan. Namun, seorang ahli gizi tetap harus memiliki semua kecakapan tersebut. Karena prinsip keilmuan dari ketiga hal tersebut adalah suatu hal yang berkesinambungan.

Di rumah sakit, layanan gizi tidak hanya berada dalam lingkup konseling saja. Layanan gizi dapat dikategorikan ke empat tempat, yaitu gizi klinik sebagai ahli gizi ruangan, manajemen penyelenggaraan makanan, rawat jalan untuk memberikan konsultasi dan edukasi, dan ikut serta dalam penelitian dan pengembangan untuk menjaga mutu instalasi gizi. Layanan Gizi di RS Siti Khadijah meliputi keempat pilar tersebut dimana persiapan diit pasien rawat inap merupakan implementasi dari manajemen sistem penyelenggaraan makan, adanya klinik gizi dan PKRS merupakan implementasi dari gizi masyarakat, asuhan gizi di rawat inap adalah implementasi dari gizi klinis dan pelaksanaan litbang melalui evaluasi sisa makan pasien, pengembangan atau kreasi menu. Dalam pekerjaannya, ahli gizi juga harus memiliki kerjasama yang baik dengan profesi yang lain. Dimana dalam asuhan pasien, ahli gizi merupakan bagian dari Nutrition Support Team. Dengan dokter penanggung jawab pasien (DPJP) sebagai leader dan PPA lain (Perawat, Apoteker, Analis, Gizi, Fisioterapis) sebagai support system.

Sebagai seorang ahli gizi harus bisa menjadi orang yang komunikatif, pengertian, dan dapat mencairkan suasana. Berdasarkan pengalaman pribadi Ibu R sebagai ahli gizi, tantangan terbesar saat memberikan layanan gizi adalah sikap reject (penolakan) dari pasien yang kurang komunikatif. Cara agar pasien dapat menjadi lebih terbuka adalah dengan cara membuka obrolan santai yang diawali dengan perkenalan singkat kepada pasien serta keluarga yang ada. Setelah itu, dimulai dengan percakapan singkat yang santai, seperti menanyakan kabar, apa yang sedang dirasakan, apakah makanan yang diberi dimakan sampai habis atau tidak, dan lain sebagainya. Di percakapan singkat yang diberi kepada pasien, tetaplah harus disispi dengan informasi penting yang dibutuhkan oleh ahli gizi, seperti tinggi dan berat badan, keluhan, riwayat penyakit, kebiasaan makan dan olahraga, dan yang lainnya. Jalan alternatif lainnya adalah ahli gizi juga bisa melakukan pendekatan dengan keluarga pasien jika pasien benar-benar menolak pendekatan dari ahli gizi. Tantangan lainnya yaitu secara instalasi gizi adalah adanya perbedaan dan juga keterbatasan anggaran untuk penyelenggaraan makanan.

Ibu R juga memiliki pengalaman yang berkesan saat memberi layanan kepada pasien. Kala itu, Ibu R sedang menangani pasien yaitu seorang ibu dengan diagnosa diabetes. Sang ibu menunjukkan sikap penolakan karena merasa tidak ada perubahan dari tubuhnya. Sang ibu sudah berusia tua sehingga tidak dapat menyiapkan makanan yang teratur untuk dirinya. Akhirnya, Ibu R pun melakukan pendekatan dengan anak dari sang ibu. Anak tersebut pun mempelajari pola makan yang baik untuk ibunya, sehingga ibunya dapat menerima pendekatan yang disampaikan oleh Ibu R melalui anaknya.

Ibu R. (2025). Wawancara pribadi. 13 Oktober 2025, Sidoarjo.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image