Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rusydina Ruwaida

Anak Panti, Literasi, dan Nasib Nasionalisme Kita

Edukasi | 2025-11-18 21:36:40
Dokumentasi Kegiatan (Sabtu, 25 Oktober 2025)

Di zaman ketika gawai menjadi guru pertama bagi banyak anak, dan informasi berloncatan begitu cepat tanpa filter, kita sering lupa bahwa nilai paling dasar dalam berbangsa cinta tanah air tidak lahir dari layar digital. Ia tumbuh dari pengalaman, dari cerita, dari interaksi manusia yang penuh kehangatan. Kesadaran itulah yang saya rasakan sebagai mahasiswa Universitas Airlangga saat mengikuti kegiatan Field Study di Panti Asuhan Muhammadiyah Semampir, Surabaya, sebuah ruang sederhana yang mengajarkan saya bahwa nasionalisme bukan konsep besar, tetapi tindakan kecil yang dilakukan dengan hati.

Kegiatan ini membawa saya menyadari satu hal penting: literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis. Ia adalah jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan sejarah bangsanya, jati dirinya, dan cita-cita masa depan. Ia adalah media yang dapat menyalakan semangat nasionalisme tanpa harus berteriak lantang.

Ketika Pahlawan Hidup dalam Cerita

Panti Asuhan Muhammadiyah Semampir bukanlah bangunan megah. Fasilitas literasinya sederhana, koleksi bukunya terbatas, dan ruang belajarnya jauh dari kata mewah. Tetapi ada satu hal yang justru membuat tempat itu begitu kaya: rasa ingin tahu anak-anak yang tinggal di dalamnya.

Saat sesi storytelling tentang Bung Tomo dimulai, saya melihat mata anak-anak itu berbinar. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian ketika nama Kota Surabaya disebut sebagai simbol keberanian. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun tiba-tiba mengangkat tangan dan berkata, “Kak, berarti kalau kita berani belajar dan bantu orang lain, itu juga perjuangan, ya?”

Pertanyaan sederhana itu membuat saya terdiam.

Dalam benak kita, perjuangan sering dipahami sebagai revolusi besar; padahal bagi mereka, perjuangan adalah berani bermimpi, berani belajar, dan berani menjadi diri sendiri. Di usia yang masih belia, mereka memahami esensi nasionalisme lebih jernih dari banyak orang dewasa.

Saya teringat hasil survei Populix (2023) yang mengatakan bahwa 65% masyarakat menilai semangat nasionalisme generasi muda menurun. Namun di hadapan saya, delapan pasang mata kecil justru memperlihatkan sebaliknya bahwa nasionalisme tidak hilang, hanya butuh ruang untuk tumbuh.

Menulis untuk Mengenal Diri dan Negaranya

Setelah sesi bercerita, kami mengajak mereka menulis refleksi sederhana tentang pahlawan yang mereka kagumi, cita-cita mereka, dan harapan untuk Indonesia. Kegiatan itu tampak sederhana, tetapi dampaknya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Seorang anak perempuan menulis tentang R.A. Kartini. Kalimatnya goyah, ejaan banyak salah, tetapi maknanya sangat kuat:

“Kartini itu berani walaupun dia perempuan. Saya juga ingin sekolah tinggi dan mengajar anak-anak kecil supaya Indonesia pintar.”

Di momen itu, saya menyadari bahwa literasi dapat membuka mata anak-anak tentang siapa diri mereka dan apa peran mereka bagi bangsa. Tulisan mereka bukan hanya tugas, tetapi cermin: cermin yang menampakkan keberanian, keinginan, dan cinta pada tanah air.

Seolah Ki Hajar Dewantara berbicara ulang melalui tulisan-tulisan kecil itu, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat anak agar kelak menjadi manusia dan warga yang bahagia. Pendidikan karakter tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga di ruang-ruang kecil penuh ketulusan seperti panti asuhan.

Ketika Fasilitas Terbatas Bukan Alasan untuk Menyerah

Sebagai mahasiswa, saya sempat berasumsi bahwa fasilitas minim pasti membatasi minat baca. Namun observasi kami membantah anggapan itu.

Anak-anak itu justru sangat antusias ketika melihat buku baru. Mereka berebut alat tulis. Mereka bersemangat berdiskusi. Belajar bagi mereka bukan kewajiban, tetapi kesempatan.

Di sinilah saya memahami satu pelajaran penting: Semangat literasi bukan soal kelengkapan fasilitas, tetapi tentang lingkungan yang memberi ruang untuk bertanya, bercerita, dan bermimpi.

Hal ini penting mengingat bahwa literasi di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Minat baca rendah, kesenjangan akses buku lebar, dan gempuran budaya digital sering kali membuat literasi terlupakan. Namun anak-anak di panti asuhan tersebut membuktikan bahwa potensi literasi bangsa tidak pernah hilang—hanya belum sepenuhnya diberi kesempatan.

Refleksi: Menyalakan Nasionalisme Lewat Hal-Hal Sederhana

Pengalaman di panti asuhan ini membuat saya berpikir ulang bagaimana sebenarnya cinta tanah air diwujudkan oleh generasi muda hari ini?

Apakah dengan upacara yang khidmat? Apakah lewat postingan bertema kemerdekaan? Apakah melalui hafalan sejarah para pahlawan?

Semua itu penting. Namun nasionalisme yang paling murni justru muncul saat anak kecil menulis cita-citanya untuk memajukan bangsa, saat mereka belajar mengenal sejarah tanpa paksaan, dan saat mereka merasakan bahwa Indonesia hadir dalam kehidupan mereka melalui pendampingan dan perhatian.

Di era digital, cinta tanah air bukan lagi tentang perang dan senjata. Ia adalah tentang literasi, pendidikan, kreativitas, dan kemauan untuk berubah. Ia tumbuh dari tindakan sederhana: membaca satu halaman tentang pahlawan, menulis satu mimpi untuk Indonesia, atau mendengarkan satu cerita yang menyentuh hati.

Menjembatani Masa Kini dan Masa Depan

Kegiatan Field Study ini tidak hanya mengubah cara pandang saya terhadap literasi, tetapi juga membuka mata saya tentang masa depan Indonesia. Generasi muda di panti asuhan itu mungkin tidak lahir dengan fasilitas mumpuni, tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu tekad untuk belajar.

Jika anak-anak dengan keterbatasan seperti mereka saja mampu bermimpi besar, maka pekerjaan kita sebagai mahasiswa, pendidik, atau warga negara adalah memastikan bahwa mimpi-mimpi itu tidak padam.

Kita tidak bisa membangun masa depan dengan hanya berbicara tentang nasionalisme. Kita harus menciptakan ruang untuk menumbuhkannya. Ruang yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga kasih, harapan, dan keberanian.

Pada akhirnya, saya pulang dari panti asuhan itu dengan satu keyakinan:

Indonesia tidak kekurangan anak-anak yang mencintai tanah air. Yang kurang adalah kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan cintanya.

Menutup Pena, Membuka Harapan

Saya menuliskan pengalaman ini bukan sekadar untuk memenuhi tugas kuliah atau membuat laporan. Saya menuliskannya sebagai pengingat bahwa di tempat-tempat kecil seperti Panti Asuhan Muhammadiyah Semampir, semangat kebangsaan sedang tumbuh secara perlahan, sederhana, tetapi pasti.

Melalui literasi, anak-anak itu sedang membangun Indonesia dari ruang kecil mereka. Dan melalui kegiatan seperti inilah, mahasiswa seperti saya belajar kembali apa arti menjadi bagian dari bangsa ini.

Bahwa nasionalisme bukan sekadar kata. Ia adalah tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta.

Dan kadang, cinta tanah air itu tumbuh dari sesuatu yang sangat sederhana yaitu sebuah cerita, selembar kertas, dan pena yang disentuh oleh harapan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image