Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zahiyah WS

Cabut Gigi Bungsu, Sakitnya Seperti Neraka? Ini Faktanya!

Eduaksi | 2025-11-18 11:52:42

 

Tahukah kamu?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20–40% orang dewasa memiliki gigi bungsu yang terimpaksi (tidak tumbuh dengan benar). Angka ini sangat signifikan dan menjadi alasan mengapa banyak orang akhirnya memutuskan untuk mencabutnya.

Apa Itu Gigi Bungsu dan Mengapa Bisa Jadi Masalah?

Sumber: alodokter.com

Gigi bungsu atau third molar adalah gigi geraham paling belakang yang biasanya muncul di usia sekitar 17–25 tahun. Karena rahang manusia modern cenderung lebih sempit dibanding nenek moyang kita, sering kali tidak ada cukup ruang bagi gigi bungsu untuk tumbuh dengan baik.

Saat gigi bungsu tidak punya ruang yang cukup, bisa terjadi impaksi, artinya gigi tidak bisa tumbuh sempurna: bisa sebagian tertutup gusi, miring, atau bahkan “terkubur” di dalam tulang. Berdasarkan penelitian radiografi (OPG) di Kerala, prevalensi impaksi gigi bungsu pada orang dewasa mencapai 22%, dengan tipe paling umum adalah mesioangular (gigi miring ke depan). Studi lain di Arab Irak juga melaporkan angka impaksi gigi bungsu hingga 34,7%.

Seberapa Umum dan Apa Risikonya?

Menurut meta-analisis yang mengumpulkan data dari 83.000+ orang, prevalensi impaksi gigi bungsu global adalah 24,4% per individu. Dalam analisis sistematis lain, ditemukan tingkat impaksi sekitar 36,9% subjek, dan 46,4% per gigi pada studi radiografik.

Jenis impaksi juga bervariasi:

 

  1. Mesioangular (gigi miring ke depan) — ~41% dalam meta-analisis.
  2. Vertikal, distoangular, dan horizontal juga ditemukan, meskipun dengan persentase lebih rendah.

Kenapa Banyak Orang Takut Cabut Gigi Bungsu?

Kekhawatiran yang umumnya muncul adalah

 

  • Rasa sakit yang teramat sangat. Banyak orang berpikir cabut gigi bungsu pasti sangat menyakitkan.
  • Pembengkakan dan komplikasi pasca operasi. Ada anggapan wajah bisa bengkak lama, atau ada risiko saraf terganggu.
  • Risiko komplikasi, seperti infeksi, perdarahan, atau kerusakan saraf.

Tapi, mitos “sakit neraka” tidak sepenuhnya akurat karena dalam praktik kedokteran gigi modern, prosedur dilakukan dengan anestesi lokal, jadi pasien umumnya tidak merasakan sakit saat tindakan. Selain itu, dokter gigi profesional telah menggunakan teknik steril dan panduan anatomi untuk meminimalkan risiko, apalagi di masa sekarang nyeri setelah cabut bisa dikelola dengan obat pereda nyeri dan instruksi perawatan pasca operasi.

Risiko dan Komplikasi Nyata

Meskipun mayoritas pasien tidak mengalami masalah besar, tetap ada beberapa potensi komplikasi, terutama jika kondisi gigi bungsu sangat “rumit”:

 

  • Perdarahan: Bisa lebih lama dari normal tergantung kedalaman impaksi.
  • Infeksi: Jika gigi bungsu sebagian tertutup gusi, risiko infeksi (mis. pericoronitis) bisa meningkat.
  • Kesemutan atau parestesia: Pada beberapa kasus, saraf dapat terganggu, terutama jika gigi sangat dekat dengan saluran saraf.
  • Dry socket (alveolar osteitis): Lubang bekas cabut bisa terasa sangat nyeri jika pembekuan darah terganggu.

Sebuah studi di jurnal Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) menyebutkan bahwa tingkat komplikasi setelah odontektomi (pencabutan gigi bungsu) bisa bervariasi, dan komplikasi seperti trismus (kesulitan membuka mulut), bengkak, dry socket, hingga parestesia pernah dilaporkan.

Kapan Sebaiknya Cabut Gigi Bungsu?

Beberapa alasan medis kenapa dokter mungkin menyarankan pencabutan gigi bungsu:

 

  • Gigi bungsu terimpaksi dan menyebabkan nyeri atau infeksi berulang.
  • Gigi miring yang menekan gigi sebelah → bisa merusak struktur gigi tetangga.
  • Pembentukan kista di sekitar gigi bungsu yang tertanam.
  • Kesulitan kebersihan: gigi bungsu sulit dibersihkan, jadi rentan karies.

Tapi, tidak selalu semua gigi bungsu harus dicabut. Dokter akan mengevaluasi berdasarkan rontgen, posisi gigi, dan risiko komplikasi.

Tips Agar Proses Cabut Aman dan Pemulihan Lancar

 

  1. Konsultasi dengan dokter gigi profesional. Minta rontgen untuk mengevaluasi posisi gigi bungsu.
  2. Ikuti petunjuk dokter sebelum operasi, mungkin perlu puasa sebentar atau minum obat tertentu (misal antibiotik).
  3. Setelah cabut, istirahat yang cukup, hindari makanan keras atau panas di hari pertama, kumur dengan larutan garam hangat sesuai anjuran dokter, minum obat pereda nyeri sesuai resep dokter, dan jangan lupa datang kembali ke dokter jika ada bengkak berlebihan, nyeri persisten, atau perdarahan.

Kesimpulan

 

  • Gigi bungsu yang terimpaksi cukup umum dan bisa menimbulkan masalah jika tidak ditangani.
  • Prosedur cabut gigi bungsu tidak selalu “sakit neraka” karena sudah ada teknik medis yang aman.
  • Risiko komplikasi ada, tetapi dengan dokter profesional dan perawatan yang benar, komplikasi serius sangat jarang.
  • Menunda pencabutan bisa berbahaya jika gigi bungsu sudah menimbulkan infeksi atau menekan gigi lain.
  • Jadi, daripada takut dan menunda, lebih baik cek ke dokter gigi untuk evaluasi dan pertimbangkan tindakan bila diperlukan.

Referensi:

1. Silva‑Rodríguez, J. et al. “Worldwide Prevalence and Demographic Predictors of Impacted Third Molars: Systematic Review with Meta‑Analysis.” Journal of Clinical Medicine, 2024.

2. C. López‑Martínez dkk. “Predictors of Third Molar Impaction: A Systematic Review and Meta‑analysis.” Journal of Dental Research / IADR, 2015. Shaari, R. B., Nawi, M. A. A., & Khaleel, A. K. “Prevalence and pattern of third molars impaction: A retrospective radiographic study (Karbala, Irak).” Journal of Advanced Pharmaceutical Technology & Research, 2023.

3. “Prevalence of Mandibular Third Molar Impaction Cases on Panoramic Radiographs in 2022.” International Journal of Medical and Biomedical Studies, 2024.

4. “Prevalence of impacted teeth and pattern of third molar impaction among Western Maharashtra population.” Journal of Neonatal Surgery, 2023.

5. Alodokter. “Impaksi Gigi – Gejala, penyebab dan mengobati.” Alodokter.com.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image