Triase: Kode Warna yang Digunakan Dokter untuk Mengatasi Pasien
Hospitality | 2025-11-14 10:07:29
Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit pelayanan terpenting dalam sistem pelayanan rumah sakit. Menjadi pintu pertama bagi pasien yang mengalami sakit atau cedera yang dapat mengancam nyawa. Pasien yang datang di IGD terdiri dari pasien gawat darurat dan non gawat darurat. Rumah Sakit Universitas Airlangga sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan di Jawa Timur, menerapkan sistem triase yang mengacu pada Standar Nasional Rumah Sakit (SNARS).
Triase adalah kode warna yang digunakan dokter untuk menyeleksi pasien berdasarkan tingkat kegawatan untuk menentukan pasien mana yang harus diprioritaskan untuk diberikan tindakan medis. Triase merupakan proses dinamis untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan kondisi klinisnya. Triase bertujuan agar tim medis dapat melakukan penanganan secara optimal, terutama dalam kondisi ketika pasien datang dalam jumlah banyak secara bersamaan. Triase sendiri terdiri dari beberapa warna yaitu :
1. Merah
Pasien gawat darurat yang mengancam nyawa dan membutuhkan tindakan segera.
2. Kuning
Pasien dengan kondisi stabil tetapi berpotensi memburuk tanpa intervensi cepat (misalnya luka sedang, fraktur tertutup, nyeri dada tanpa henti napas)
3. Hijau
Pasien tidak gawat, memerlukan penanganan rawat jalan atau dapat menunggu
4. Hitam
Pasien dengan kondisi tidak dapat diselamatkan (non-surviveable injury)
Beberapa studi internasional menunjukkan hubungan langsung antara kecepatan triase dan angka mortalitas pasien gawat darurat. Dalam tinjauan sistematik oleh Oredsson et al. (2022), rumah sakit dengan sistem triase terlatih mengalami penurunan waktu tanggap dokter hingga rata-rata 18 menit dibandingkan rumah sakit tanpa protokol jelas.Penelitian oleh Uly, Sriyono, dan Qona’ah (2023) dari Universitas Airlangga juga menegaskan bahwa pelaksanaan triase terstandar dapat meningkatkan efisiensi alur pasien dan menurunkan tingkat kesalahan diagnosis awal di IGD.
Kinerja triase tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga kompetensi tenaga medis yang melaksanakannya. Studi oleh Nugraheni et al. (2021) dalam Health Care Journal Indonesia menemukan bahwa faktor-faktor seperti pelatihan triase, rasio pasien dan perawat, dan kondisi overcrowding berpengaruh signifikan terhadap akurasi triase. Di IGD RS UNAIR, tantangan serupa sering dihadapi terutama pada jam sibuk dan shift malam, di mana jumlah pasien meningkat tetapi sumber daya terbatas. Oleh karena itu, pelatihan triase berbasis simulation scenario menjadi upaya rutin untuk meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan dan kerja sama antarprofesi.
Waktu Adalah Nyawa
Saat pasien datang ke IGD, banyak kondisi bersifat time-sensitive missal, sepsis, stroke iskemik, pendarahan massif, atau serangan jantung. Waktu dari kedatangan sampai tindakan berkaitan langsung dengan mortalitas dan hasil fungsional pasien.
Kerja cepat melalui protokol dan pembagian peran
Di IGD yang efektif, tindakan awal bersifat berulang-ulang dan terotomasi melalui checklist atau protocol :
1. Primary Survey (ABC)
2. Protokol sepsis
Screen Cepal, ambil darah/lactat, pemberian antibiotik sesuai indikasi.
3. Protokol Stroke
Notifikasi EMS dan fim stroke terlatih memperpendek door-to-CT dan door-to-needle time. Kehadiran tim khusus pada jam kerja berkaitan dengan DTN yang lebih singkat, sebaliknya pada saat shift malam atau off-hours seringkala terjadi keterlambatan
Koordinasi Tim : pembagian peran agar lebih efisien
IGD adalah lingkungan interdisipliner: dokter emergensi, perawat, radiologi, laboratorium, farmasi, dan kadang bedah/ ICU. Dalam kondisi darurat, tim harus dapat berkumpul, mengambil peran cepat, dan berfungsi sebagai satu unit. Faktor kuncinya adalah :
1. Pemimpin tim (team leader) yang jelas-merangkum informasi singkat, memutuskan prioritas, dan mendelegasikan tugas.
2. Distribusi peran
Contohnya, satu orang intubasi/airway, satu untuk akses vaskular, satu untuk dokumentasi dan komunikasi dengan keluarga.
3. Ritual singkat (brief/huddle / "team time-out") sebelum dan setelah prosedur untuk menyamakan situasi dan rencana. Literatur non-technical skills (NTS) menekankan bahwa tim yang terlatih pada NTS (situational awareness, role allocation, leadership) bekerja lebih sinkron dan mengurangi kesalahan saat menangani trauma atau kasus kritis lainnya.
Evaluasi triase di IGD
Berdasarkan observasi dan bukti terbaru, rekomendasi untuk IGD agar penanganan cepat lebih konsisten:
1. Perkuat triase awal
Triage kurang dari atau 15 menit, dengan jalur fast-track dan aktivasi protokol otomatis untuk kategori kritis.
2. Sediakan paket/kit darurat (stroke kit, sepsis bundle) agar persiapan tindakan tidak memakan waktu.
3. Latih NTS secara berkala
mini-course/simulasi meningkatkan kemampuan komunikasi dan kerjasama tim.
4. Bangun jalur komunikasi pra-rumah sakit (EMS → IGD) untuk memberi waktu
persiapan tim.
5. Audit berkala indikator waktu (door-to-doctor, door-to-antibiotic, door-to-
CT/needle) dan lakukan perbaikan berkelanjutan.
Referensi :
Nugraheni, D. A., Sari, T. P., & Wulandari, R. (2021). Faktor yang memengaruhi akurasi triase di IGD. Jurnal Kesehatan Indonesia, 12(2).
Oredsson, S., Jonsson, H., Rognes, J., Lind, L., Göransson, K. E., Ehrenberg, A., ... & Farrohknia, N. (2011). A systematic review of triage-related interventions to improve patient flow in emergency departments. Scandinavian journal of trauma, resuscitation and emergency medicine, 19(1), 43.
Uly, R. G. Z., Sriyono, S., & Qona’ah, A. (2025). Triage in Emergency Management in the Emergency Department: A Systematic Review. Indonesian Journal of Global Health Research, 7(2), 527–534. Available at : https://doi.org/10.37287/ijghr.v7i2.5607
Husabe G, Hunskaar S, et al. Early diagnosis of sepsis in emergency departments, time to treatment, and association with mortality: An observational study. PLoS One. 2020;15(2):e0227652. DOI: 10.1371/journal.pone.0227652.
Ganti L, Mirajkar A, Banerjee P, et al. Impact of emergency department arrival time on door-to-needle time in patients with acute stroke. Front Neurol. 2023;14:1126472. DOI:10.3389/fneur.2023.1126472.
Sanguanwit P, Kulrotwichit T, Tienpratarn W, et al. Effect of mini-course training in communication and teamwork on non-technical skills score in emergency residents: a prospective experimental study. BMC Med Educ. 2023;23:529. DOI:10.1186/s12909-023-04507-7.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
