Ketika Rojali tak Lagi Sekedar Healing, Tapi Karena Faktor Ekonomi
Bisnis | 2025-11-13 16:45:44
Fenomena rojali atau rombongan jarang beli semakin sering terlihat di berbagai pusat perbelanjaan, mal, hingga destinasi wisata. Banyak orang datang berkelompok, berjalan-jalan, menikmati suasana, bahkan sekadar mencoba produk yang dipajang, tetapi akhirnya jarang benar-benar melakukan transaksi. Tren ini menjadi potret nyata dari perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh tekanan inflasi serta melemahnya daya beli, baik di Indonesia maupun di banyak negara lain setelah pandemi.
Menurut Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. I Wayan Nuka Lantara, S.E., M.Si., melemahnya daya beli masyarakat saat ini bukan fenomena lokal, melainkan gejala global. Ia menilai bahwa pasca pandemi, masyarakat di berbagai negara mengalami pergeseran pola konsumsi. “Secara global, daya beli sedang berada dalam tekanan. Di beberapa negara maju seperti Jerman dan Jepang, fenomena ini juga terlihat. Di Jepang, misalnya, masyarakat lebih sering melakukan window shopping atau sekadar melihat-lihat barang tanpa membeli. Jadi ini bukan hanya persoalan di Indonesia, tetapi tren yang meluas di banyak negara,” terangnya dalam sebuah wawancara di Kampus UGM, Jumat (22/8).
Wayan menambahkan bahwa di Indonesia, fenomena rojali ini muncul akibat setidaknya dua faktor utama. Pertama, kenaikan harga kebutuhan pokok yang mendorong inflasi dan menggerus kemampuan konsumsi masyarakat. Ia mencontohkan bahwa harga beras, daging, dan bahkan biaya transportasi mengalami peningkatan signifikan. “Kondisi ini memaksa masyarakat untuk melakukan realokasi anggaran. Kebutuhan primer lebih diprioritaskan, sementara belanja non-esensial seperti pakaian, hiburan, atau produk gaya hidup di mal harus ditunda atau bahkan dieliminasi,” jelasnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual. Ia mengungkapkan bahwa sejak awal tahun hingga pertengahan 2025, tren konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah atas, cenderung melambat. “Jika kita lihat dari big data, tren konsumsi sejak Januari hingga Juni belum menunjukkan perbaikan signifikan. Perusahaan-perusahaan memang sudah mengalami pemulihan di beberapa sektor, tetapi dari sisi konsumen, terutama kelas menengah atas yang sebenarnya memiliki daya beli tinggi, mereka justru lebih berhati-hati. Padahal, kelompok ini berkontribusi sekitar 70 persen terhadap total konsumsi nasional,” ungkapnya dalam acara Editors BriefingBank Indonesia di Labuan Bajo, Jumat (18/7/2025).
Fenomena ini menunjukkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah lebih rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, sehingga ruang belanja untuk kebutuhan sekunder menjadi semakin terbatas. Di sisi lain, kelompok menengah atas yang relatif memiliki kecukupan finansial pun menahan konsumsi mereka, bukan karena tidak mampu, tetapi karena memilih untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya.
Penulis : Dimas Ahmad Hasby, Mahasiswa Universitas Airlangga Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
