Gen Z dan Cinta yang Rawan Pengkhianatan
Humaniora | 2025-11-12 08:09:50
Dulu, pernikahan dianggap sebagai puncak cinta janji suci sehidup semati yang menjadi simbol kesetiaan abadi. Namun, bagi banyak anak muda hari ini, terutama generasi Z, kisah seperti itu terdengar seperti dongeng lama yang tak lagi relevan. Mereka tumbuh di era di mana kisah perselingkuhan bukan hal luar biasa, melainkan bagian dari konten harian di media sosial. Dari selebritas hingga orang biasa, kisah pengkhianatan cinta menjadi topik yang terus bergulir. Tak heran bila banyak dari mereka mulai bertanya-tanya: benarkah cinta yang diikat dengan janji suci bisa menjamin kesetiaan?
Namun, keraguan itu bukan berarti Gen Z menolak cinta. Mereka tetap ingin dicintai, hanya saja bukan dengan kebohongan. Mereka belajar dari luka, baik dari pengalaman pribadi maupun dari kisah viral yang berseliweran di TikTok. Setiap cerita tentang diselingkuhi seolah menjadi luka kolektif generasi ini. Mereka pun belajar satu hal penting: pernikahan tidak otomatis memberi rasa aman. Yang paling berarti bagi mereka bukanlah cincin di jari, melainkan kejujuran dan komunikasi yang nyata.
Ironisnya, generasi yang tumbuh di era transparansi justru paling sulit percaya. Kini, semua bisa dilacak: status online, tanda pesan terbaca, hingga waktu terakhir aktif. Hal-hal sepele seperti balasan pesan yang terlambat bisa menimbulkan prasangka. Sekadar “chat dengan teman lama” bisa dianggap pengkhianatan. Di dunia digital, batas antara privasi dan kesetiaan menjadi kabur. Perselingkuhan tak lagi harus fisik; cukup dengan kedekatan emosional lewat layar, kepercayaan bisa runtuh seketika.
Di sisi lain, Gen Z tumbuh dengan nilai self-love dan kebebasan pribadi. Mereka diajarkan untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Namun ketika prinsip ini disalahartikan, ia berubah menjadi alasan untuk menghindar dari komitmen. Akibatnya, cinta bergeser makna bukan lagi tentang bertumbuh bersama, tapi tentang mencari kebahagiaan pribadi. Jika tak bahagia, jalan keluarnya adalah pergi. Dari situ lahir pandangan sinis terhadap pernikahan: untuk apa menikah jika kesetiaan bisa luntur hanya karena bosan?
Banyak orang, terutama generasi milenial, menganggap Gen Z takut berkomitmen. Padahal, mereka hanya lebih selektif. Mereka tak ingin menikah karena tekanan sosial atau usia. Bagi mereka, kejujuran jauh lebih penting daripada status. Mereka bukan menolak cinta, tetapi menolak cinta yang penuh kepura-puraan cinta yang disakralkan tapi sering kali diselingi kebohongan.
Krisis kepercayaan yang dialami Gen Z bukan tanda kemunduran moral, melainkan refleksi zaman. Dunia berubah, begitu pula cara manusia memahami cinta. Di era digital, kesetiaan tak hanya soal menjaga fisik, tapi juga menjaga integritas di ruang maya. Komunikasi perlu lebih terbuka, komitmen harus lebih realistis, dan kepercayaan dibangun dengan kesadaran, bukan pengawasan.
Bagi sebagian orang, cinta versi Gen Z tampak dingin dan terlalu logis. Namun di balik itu, ada keinginan tulus untuk mencintai dengan sadar. Mereka ingin hubungan yang sehat, jujur, dan saling bertumbuh tanpa ilusi “selamanya.” Karena bagi mereka, cinta sejati bukan tentang siapa yang bertahan paling lama, melainkan tentang bagaimana dua orang saling menjaga tanpa saling melukai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
