Didi, Dudu, Dodo, dan Pelajaran Kehidupan di Gazebo bersama Nadhif
Adab | 2025-11-02 18:25:28Hari itu adalah hari Sabtu yang indah. Matahari pagi bersinar cerah, memantulkan sinarnya pada embun yang masih menempel di daun-daun mangga di halaman rumah Nadhif. Nadhif, anak laki-laki berusia sepuluh tahun dengan cengiran lebar dan mata yang selalu ingin tahu, sedang menikmati liburannya di gazebo kayu kesayangannya. Gazebo itu terletak di pojok pekarangan, dikelilingi tanaman zodea dan tanaman hias Nenek Krisna, menjadikannya tempat yang sempurna untuk membaca atau duduk-duduk santai. Udara di gazebo sangat teduh dan sejuk.
Saat Nadhif sedang asyik bermain dengan boneka Alex-nya, ia mendengar suara gesekan pelan. Matanya yang tajam menangkap gerakan di bawah bangku panjang gazebo. Itu adalah seekor kucing betina. Kucing itu tampak lelah. Bulunya berwarna oranye kecokelatan yang kusam, dan langkahnya sangat hati-hati. Nadhif segera menyadari sesuatu: perutnya membuncit dan besar. Kucing itu sedang hamil. Ia berjalan perlahan, mencari tempat paling tersembunyi dan aman di lantai kayu gazebo. Setelah menemukan celah yang nyaman, kucing itu berbaring dan menarik napas lega, seolah baru saja menyelesaikan perjalanan yang sangat panjang.
Nadhif merasakan gelombang iba dan rasa penasaran yang kuat. Ia menutup komiknya dan mengamatinya tanpa bersuara.
Tak lama kemudian, Bik Nina muncul dari balik dapur. Bik Nina adalah asisten rumah tangga di rumah Nadhif, seorang wanita yang cekatan, namun terkadang sedikit galak, terutama pada benda atau makhluk yang dianggapnya mengotori rumah. Matanya langsung tertuju pada si kucing.
"Husss! Husss! Pergi kamu! Jangan kotor-kotor di sini!" seru Bik Nina, sambil mengayunkan sapu lidi. "Nanti kotoranmu bau! Cepat pergi!"
Si kucing terkejut, mencoba bangun dengan susah payah, tetapi tubuhnya terlalu berat dan lemas.
Nadhif, yang menyaksikan pemandangan itu, segera melompat dari bangku.
"Bik Nina! Tunggu! Jangan diusir!" larang Nadhif, menahan tangan Bik Nina yang hendak memukul lembut si kucing dengan sapunya.
Bik Nina menatap Nadhif dengan alis terangkat. "Tapi, Nadhif, ini kucing liar! Dia hamil lagi! Nanti kalau beranak di sini, bagaimana? Repot kita jadinya. Kotor semua."
Nadhif memandang kucing itu. Kucing itu membalas tatapan Nadhif dengan mata yang memelas, seolah meminta perlindungan.
"Dia kesakitan, Bik. Lihat, dia lemas sekali. Kita tidak boleh mengusir makhluk hidup yang sedang membutuhkan pertolongan, Bik Nina. Bunda pernah bilang, kebaikan sekecil apapun itu adalah investasi terbesar dalam hidup kita. Kita harus berempati. Biarkan dia beristirahat sebentar saja," pinta Nadhif dengan sungguh-sungguh.
Mendengar kata-kata tentang kebaikan dan empati dari Nadhif, Bik Nina akhirnya menghela napas panjang dan meletakkan sapunya. "Baiklah, Dhif. Tapi jangan sampai dia membuat kekacauan ya. Nadhif yang harus ngurusi!"
Nadhif tersenyum lebar. Ia mengambil sebuah mangkuk kecil dan menuangkan air bersih. Ia meletakkannya perlahan di dekat kepala si kucing, lalu mundur kembali ke bangkunya untuk memberinya ketenangan.
Kucing itu mendongak, menjilat sedikit air, dan kembali memejamkan mata. Ia tahu, tempat ini aman.
Tiga hari berlalu. Kucing oranye itu tetap tinggal di gazebo, dijaga oleh Nadhif dan diberi makanan oleh Bik Nina (meskipun ia masih pura-pura galak). Nadhif bahkan membuatkan alas tidur dari kardus bekas yang dialasi kain lap bersih.
Pada pagi hari ketiga, saat Nadhif baru bangun tidur dan bergegas menuju gazebo, ia mendengar suara-suara kecil yang lucu, seperti kicauan anak burung yang teredam.
"Meoong... meoong..."
Nadhif mendekat dengan hati-hati. Di dalam kardus, si induk kucing sedang menyusui tiga ekor anak kucing yang baru lahir!
Mereka kecil sekali, basah, dan matanya masih terpejam erat. Bulu mereka halus dan lembut seperti kapas.
Satu berwarna oranye mirip induknya, satu berwarna hitam legam, dan satu lagi berwarna campuran abu-abu dan putih.
Nadhif melompat kegirangan. "Bunda! Bik Nina! Cepat lihat! Mereka sudah lahir!"
Bunda Nisa, ibunya, datang sambil tersenyum. "Wah, selamat datang, jagoan-jagoan kecil!"
Sejak hari itu, Nadhif memiliki tugas baru: merawat keluarga kucing itu. Ia menghabiskan setiap waktu luangnya di gazebo. Tiba waktunya memberi nama buat ketiga kucing.
"Yang hitam, namanya Didi. Dia paling besar dan suka makan," kata Nadhif, sambil menunjuk anak kucing oranye yang mendorong saudara-saudaranya agar bisa menyusu lebih dulu.
"Yang oranya bergaris-garis kuning keputihan, namanya Dudu. Dia paling pendiam dan suka tidur," lanjut Nadhif, sambil mengelus lembut..
"Dan yang oranye putih ekor bengkok, namanya Dodo. Dia paling lincah dan suka penasaran dengan sekelilingnya," Nadhif menyelesaikan penamaannya.
Bunda Nisa tertawa melihat nama-nama yang sederhana dan lucu itu. "Bagus, Nak. Hidup itu selalu tentang memberi nama pada hal-hal baru dan bertanggung jawab atas mereka. Sekarang kamu punya empat tanggung jawab baru, ya?"
Nadhif mengangguk penuh semangat. "Siap, Bunda!"
Didi, Dudu, dan Dodo tumbuh dengan cepat, bagai disiram pupuk ajaib. Setelah mata mereka terbuka, dunia gazebo menjadi taman bermain mereka.
Didi, si hitam, selalu menjadi yang pertama mencoba hal baru. Ia yang pertama keluar dari kardus, pertama naik ke bangku, dan pertama kali mencoba mengejar kupu-kupu. Ia mengajarkan Nadhif tentang Keberanian, bahwa tidak ada salahnya mencoba, meskipun gagal.
Dudu, si oranye kuning putih, adalah pemikir. Ia selalu mengamati Didi dan Dodo sebelum ikut bermain. Ketika Didi gagal melompat, Dudu akan mencari jalan lain yang lebih aman. Ia mengajarkan Nadhif tentang Kehati-hatian, bahwa berpikir sebelum bertindak akan menyelamatkanmu dari banyak masalah.
Sementara Dodo, si oranye ekor bengkok, adalah Juara Kerjasama. Ketika mereka berebut mainan bola benang, Dodo selalu bisa menemukan cara agar ketiganya bisa bermain bersama. Ia akan menendang bola ke Didi, lalu menunggu Dudu menangkapnya. Mereka bertiga, meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda, selalu bermain bersama.
"Lihat, Bunda," kata Nadhif suatu sore, "Didi, Dudu, dan Dodo tidak pernah benar-benar bertengkar. Mereka tahu cara berbagi meskipun Didi sangat serakah!"
Bunda Nisa tersenyum. "Itu karena mereka tahu keunikan mereka justru membuat tim mereka kuat. Didi membawa semangat, Dudu membawa akal, dan Dodo membawa kesatuan. Dalam hidup, Nak, kamu akan bertemu banyak teman yang berbeda darimu. Jangan jadikan perbedaan itu alasan untuk berpisah, jadikan itu kekuatan untuk saling melengkapi."
Waktu berlalu tanpa terasa. Selama kurang lebih tiga bulan, gazebo itu menjadi surga bagi Nadhif dan ketiga kucingnya. Setiap pagi disambut dengan gesekan manja di kaki, dan setiap malam ditutup dengan dengkuran halus di kardus. Mereka benar-benar telah menjadi bagian dari keluarga Nadhif.
Musim hujan berganti, dan Didi, Dudu, dan Dodo sudah tidak lagi kecil. Mereka kini adalah kucing-kucing remaja yang energik.
Didi sudah sebesar induknya, Dudu sudah mulai menjelajahi atap garasi, dan Dodo semakin mahir menangkap serangga. Kardus yang dulu mereka tempati sudah terasa sempit. Kebutuhan mereka akan ruang, lari, dan perburuan sudah semakin besar.
Suatu malam, setelah Nadhif selesai memberi makan keempat kucing itu, Bunda Nisa duduk di sebelahnya.
"Nadhif sayang," Bunda Nisa memulai dengan nada lembut, "Bunda punya sesuatu yang
harus kita bicarakan tentang Didi, Dudu, dan Dodo."
Wajah Nadhif langsung berubah muram. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Mereka sudah besar, Nak. Mereka bukan lagi bayi. Lihat Didi, dia bahkan sudah sebesar Induknya. Mereka sudah sangat kuat dan cerdas," kata Bunda Nisa.
"Ya, Bunda! Itu bagus, kan? Berarti mereka sehat!" balas Nadhif, mencoba membela diri.
"Iya, sangat bagus. Tapi mereka tidak bisa tinggal di gazebo ini selamanya. Mereka adalah kucing. Kodrat alam mereka adalah hidup mandiri, berburu, mencari pasangan, dan menemukan tempat mereka sendiri di dunia," jelas Bunda Nisa.
Mendengar kata 'mandiri' dan 'tempat mereka sendiri', hati Nadhif terasa seperti diremas. Ia merasa sangat sedih. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
"Tapi... tapi kalau mereka dilepas, bagaimana kalau mereka tidak dapat makan? Bagaimana kalau mereka tersesat? Nanti mereka sendirian, Bunda!" suara Nadhif bergetar.
Bunda Nisa memeluk Nadhif erat. "Dengar Nak. Ini adalah pelajaran terbesar dalam hidup: mencintai juga berarti melepaskan. Kita memelihara mereka, memberi mereka makan, dan melindungi mereka selama tiga bulan agar mereka tumbuh kuat dan siap menghadapi dunia."
"Kita sudah melakukan tugas kita dengan sangat baik. Sekarang, kita harus membiarkan mereka terbang. Kalau kita terus menahan mereka di sini, mereka tidak akan pernah belajar berburu, tidak akan tahu cara menyelesaikan masalah, dan tidak akan menjadi kucing yang bahagia sesuai kodratnya."
Bunda Nisa menatap mata Nadhif yang basah. "Setiap makhluk hidup punya tujuan di luar rumah kita, Nak. Mereka harus menjadi bagian dari ekosistem di luar sana. Mereka harus punya kehidupan. Kita harus yakin bahwa pelajaran hidup yang kamu berikan selama ini sudah cukup untuk membuat mereka mandiri."
Setelah penjelasan panjang Bunda Nisa tentang tanggung jawab, cinta yang melepaskan, dan kodrat alam, Nadhif akhirnya mengangguk pelan. Kesedihan itu masih ada, tetapi bercampur dengan pemahaman baru. Ia mengerti bahwa menahan mereka karena ego adalah perbuatan yang tidak baik bagi masa depan para kucing.
"Baiklah, Bunda. Kapan kita akan melepaskan mereka?" tanya Nadhif, suaranya kini lebih tegar.
Keesokan paginya, Nadhif dan Bunda Nisa melaksanakan rencana itu. Mereka membawa Induk kucing, Didi, Dudu, dan Dodo ke dalam sebuah keranjang besar. Tujuan mereka adalah Pasar Tradisional Lemabang.
"Mengapa harus di pasar, Bunda?" tanya Nadhif di mobil.
"Pasar adalah tempat yang ramai, Nak. Itu berarti banyak penjual ikan, ayam, dan sisa-sisa makanan yang bisa mereka cari. Mereka tidak akan kelaparan. Pasar juga luas, jadi mereka punya banyak ruang untuk bersembunyi dan berburu. Di sini, mereka memiliki peluang terbaik untuk hidup bebas dan mandiri," jawab Bunda Nisa.
Sesampainya di Pasar Lemabang, suasana sudah sangat ramai. Para pedagang berteriak menawarkan barang dagangan mereka, aroma rempah-rempah dan ikan asin bercampur, dan banyak sekali orang lalu lalang.
Nadhif membuka keranjang di area belakang pasar yang tidak terlalu padat.
Induk kucing melompat keluar lebih dulu. Ia melihat sekeliling, mencium aroma ikan yang kuat, dan menyadari bahwa ini adalah tempat yang menjanjikan.
Disusul oleh Dodo, si penasaran, yang langsung menyelinap di antara tumpukan kardus kosong. Dudu yang hati-hati bergerak perlahan ke bawah bangku pedagang, mengamati dulu. Dan Didi, si berani, langsung berjalan menuju lapak ikan yang ramai.
Nadhif memandang mereka. Air matanya kembali menetes, tetapi kali ini, ia tersenyum di baliknya.
"Selamat jalan, Didi. Ingatlah untuk selalu berani dan mencari makan yang enak."
"Selamat jalan, Dudu. Ingatlah untuk selalu berhati-hati dan berpikir sebelum melompat."
"Selamat jalan, Dodo. Ingatlah untuk selalu bekerjasama dengan saudara-saudaramu. Kalian harus saling menjaga!"
"Dan untuk Induknya, terima kasih sudah mengajarkan kami tentang kesabaran dan arti kehidupan baru," bisik Nadhif.
Bunda Nisa merangkul Nadhif. "Kita sudah memberi mereka bekal terbaik, Nak. Sekarang, giliran mereka untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Kamu harus bangga."
Saat Nadhif berbalik dan berjalan menjauh, ia sempat melihat Dodo dan Dudu berkumpul di belakang tumpukan keranjang sayur. Mereka tidak takut. Mereka terlihat siap.
Nadhif menyadari, perasaan sedih karena berpisah adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah pertumbuhan. Bukan hanya pertumbuhan Didi, Dudu, dan Dodo, tetapi juga pertumbuhan dirinya sendiri. Ia telah belajar bahwa setiap makhluk punya jalan hidupnya sendiri, dan tugas kita adalah memastikan mereka siap untuk berjalan di jalan itu, dengan penuh cinta dan keyakinan.
Ia membawa pulang pelajaran yang jauh lebih berharga daripada kegembiraan memiliki kucing selamanya: bahwa cinta sejati adalah ketika kita berani melepaskan sesuatu yang kita sayangi agar ia bisa mencapai takdir terbaiknya. Dan itu, adalah pelajaran kehidupan yang akan Nadhif bawa ke mana pun ia pergi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
