Ketika Alam Berhenti Berzikir
Agama | 2025-10-07 10:35:18Penulis : Muliadi Saleh
Langit masih biru, tapi seolah kehilangan suaranya. Angin masih berhembus, namun tidak lagi membawa kesejukan seperti doa yang pernah turun dari langit. Dedaunan masih menari di ujung ranting, tapi apakah mereka masih bertasbih seperti dahulu — sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
> “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”
— (QS. Al-Isra’: 44)
Mungkin yang berhenti bukanlah daun, bukan pula angin. Yang berhenti adalah kesadaran manusia — kesadaran yang dulu mampu mendengar zikir alam semesta, kini tertutup oleh kebisingan ambisi, oleh debu mesin dan dengung industri yang melingkari bumi.
Dalam pandangan filsafat Islam, sebagaimana dijelaskan Ibn ‘Arabi, setiap makhluk adalah tajalli, penampakan dari Wujud Ilahi. Daun yang gugur, embun yang jatuh, atau ombak yang berkejaran, semuanya adalah wujud yang sedang menyebut nama Tuhan dalam bahasa keberadaannya sendiri. Maka ketika alam berhenti berdzikir di mata kita, itu bukan karena mereka diam, tetapi karena manusia telah kehilangan telinga rohaninya. Kita tidak lagi mampu membaca ayat-ayat Tuhan di luar mushaf: di langit, di laut, di akar pepohonan.
Dunia modern memaksa kita berpaling dari kesucian yang melekat pada ciptaan. Alam yang dulu dilihat sebagai ayat kauniyah kini direduksi menjadi komoditas dan sumber energi. Manusia modern, kata Seyyed Hossein Nasr, telah “menyecularisasi kosmos” — memisahkan alam dari makna spiritualnya, menjadikannya benda mati tanpa ruh. Padahal, dalam pandangan tauhid, setiap partikel di alam adalah tanda yang mengarah kepada-Nya.
Mulla Sadra, dalam teori harakah jawhariyyah (gerak substansial), menegaskan bahwa seluruh makhluk sedang bergerak menuju kesempurnaan wujud. Daun yang tumbuh, yang jatuh, yang membusuk di tanah — semuanya dalam perjalanan menuju kesempurnaan keberadaannya. Ketika manusia menginterupsi perjalanan itu dengan keserakahan, ia bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga menyalahi gerak kosmik menuju kesempurnaan Ilahi. Saat itulah alam terasa sepi dari dzikir, bukan karena berhenti, tetapi karena manusia memutus arus spiritualnya.
Filsafat dan Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah fil-ardh — wakil Tuhan di bumi, bukan penguasa yang sewenang-wenang. Dalam amanah itu, manusia semestinya menjadi pendengar dan penyaksi dzikir alam. Ia menjaga harmoni antara langit dan bumi, antara nafs dan ruh, antara kebutuhan dan kesadaran. Namun kini manusia lebih banyak menebang daripada menanam, lebih banyak menghitung laba daripada mensyukuri nikmat, lebih banyak menaklukkan daripada mendengar.
Ketika hutan-hutan dibakar, sungai dicemari, udara dikotori, kita sedang menulikan bumi dari dzikirnya. Daun-daun yang dulu gemerisiknya adalah pujian, kini bergetar karena panas dan racun. Sungai yang dulu mengalir dengan doa, kini merintih membawa limbah. Langit yang dulu menjadi kitab cahaya, kini berwarna kelabu seperti hati yang kehilangan iman.
Heidegger menulis tentang “melupakan Ada” — forgetfulness of Being. Dalam bahasa Qur’ani, itu adalah lupa kepada Allah. Alam bukan lagi rumah spiritual, melainkan pabrik dan pasar. Kita kehilangan rasa suci terhadap bumi. Padahal, dalam pandangan tasawuf, alam semesta adalah cermin Tuhan. Barang siapa menatapnya dengan hati bersih, akan melihat wajah Sang Pencipta di balik kabut embun dan desah dedaunan.
Mungkin kita perlu belajar kembali mendengar. Mendengar gemerisik daun bukan sekadar bunyi angin, tapi bahasa tasbih yang halus. Mendengar hujan bukan sekadar tetesan, tapi dzikir yang jatuh ke bumi. Mendengar burung-burung bukan sekadar kicauan, tapi irama dari simfoni semesta.
Seyyed Hossein Nasr menulis bahwa krisis ekologi sejatinya adalah krisis spiritual. Alam rusak karena manusia kehilangan rasa kagum terhadap kesucian ciptaan. Jika manusia kembali menunduk di hadapan alam, bukan sebagai penguasa tapi sebagai murid, maka daun-daun akan kembali bertasbih — bukan karena mereka berhenti, tetapi karena kita akhirnya bisa mendengar lagi.
Barangkali ini saatnya manusia bertobat, bukan hanya dari dosa sosial dan moral, tetapi juga dari dosa ekologis. Tobat yang bukan sekadar ritual, melainkan kesadaran bahwa setiap pohon yang ditebang tanpa keperluan adalah dzikir yang diputus, setiap sungai yang dikotori adalah doa yang dinodai.
Ketika alam berhenti berdzikir di mata manusia, sesungguhnya langit sedang menangis, bumi sedang bersedih, dan manusia sedang kehilangan dirinya sendiri. Maka mari kita dengarkan kembali suara-suara halus dari alam — karena di sanalah gema pertama dari kalimat Subhanallah bergema, sejak waktu belum dimulai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
