AI dan Ancaman Kekerasan Siber Berbasis Gender: Bagaimana Cara Mencegahnya?
Teknologi | 2025-09-30 11:26:52Pernah dengar istilah kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence)? Perkembangan teknologi AI saat ini terasa begitu cepat. Hampir setiap hari kita mendengar kabar baru tentang kecanggihan AI, mulai dari aplikasi yang bisa menjawab pertanyaan, membuat gambar, hingga menulis teks layaknya manusia.
Teknologi ini memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga menimbulkan pertanyaan penting “Apakah AI benar-benar aman?”
Di balik semua kelebihannya, AI juga membawa tantangan besar. Sama seperti pisau bermata dua, teknologi ini bisa digunakan untuk hal positif, tetapi juga bisa disalahgunakan untuk tujuan negatif. Salah satu isu serius yang muncul adalah kekerasan siber berbasis gender.
Belakangan ini, media sosial sempat heboh dengan tren foto polaroid Gemini menggunakan wajah idol. Banyak orang yang mengubah foto idol mereka agar terlihat seperti hasil foto polaroid nyata. Sekilas ini memang hanya hiburan, tetapi tren ini membuka mata bahwa AI sudah mampu mengolah wajah dengan sangat realistis.
Nah, mungkin sekarang hanya idol yang dijadikan bahan eksperimen, bukan tidak mungkin suatu saat foto perempuan, anak-anak, atau bahkan keluarga terdekat anda sendiri yang ikut dijadikan target. Dari sinilah muncul masalah serius seperti deepfake digunakan untuk kekerasan siber, di mana wajah seseorang ditempelkan pada gambar atau video lain yang diolah sehingga terlihat nyata.
Ancaman dari AI dalam Kekerasan Siber
Tahukah anda? Deepfake bukan hanya sekadar teknologi biasa. Deepfake merupakan suatu produk dari AI yang dapat menggabungkan, mengganti, dan menempatkan gambar maupun video klip untuk membuat video palsu tampak seperti video nyata. Teknologi ini sudah banyak disalahgunakan untuk membuat konten pornografi tanpa izin, menyebarkan hoaks, hingga melakukan pemerasan digital.
Bukti nyata terlihat dari data Komnas Perempuan (2023) yang mencatat ada peningkatan 112 kasus Kekerasan Siber Berbasis Gender (KSBG) sepanjang 2022. Ironisnya, mayoritas pelaku justru bukan orang asing, melainkan pasangan atau mantan pasangan korban itu sendiri. Artinya, ancaman bisa datang dari siapa saja, bahkan orang terdekat sekalipun. Kasus ini menunjukkan bahwa teknologi secanggih apa pun bisa menjadi senjata berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang salah.
Mengapa Perempuan Lebih Rentan?
Ironisnya, kekerasan siber berbasis gender biasanya menyasar perempuan karena ada ketidaksetaraan sosial yang masih melekat. Foto atau video perempuan lebih sering dijadikan target untuk disalahgunakan, lho! Misalnya, foto sederhana yang diunggah ke media sosial bisa dipakai sebagai bahan untuk dimanipulasi menggunakan deepfake AI.
Selain itu, masih banyak masyarakat yang sering menyalahkan korban membuat perempuan semakin sulit bersuara, sehingga akhirnya korban memilih diam karena takut dan tidak mendapat dukungan. Di sinilah peran keluarga, lingkungan, dan pemerintah menjadi sangat penting.
Cara Mencegah Kekerasan Siber Berbasis Gender
Mencegah kekerasan siber bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi harus melibatkan banyak pihak. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bersama:
1. Perempuan sendiri
Mengurangi kebiasaan mengunggah foto pribadi, terutama wajah, di media sosial serta lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi.
2. Orang tua dan pendidik
Orang tua perlu memahami teknologi AI, paling tidak mengenal bentuk-bentuk ancamannya. Memberikan edukasi sejak dini kepada anak tentang bahaya dunia maya dan bagaimana melindungi diri.
3. Lingkungan
Teman, keluarga, dan masyarakat perlu mendukung korban, bukan hanya menyalahkan. Lingkungan bisa menjadi tempat perlindungan agar korban merasa aman.
4. Pemerintah dan pemangku kebijakan
Lebih agresif dalam mensosialisasikan Undang-Undang ITE terkait aturan kejahatan siber, serta mengedukasi masyarakat tentang ancaman-ancaman yang dapat ditimbulkan oleh AI. Menyusun regulasi khusus yang mengatur penggunaan AI agar tidak disalahgunakan. Menyediakan layanan pengaduan yang cepat dan aman untuk korban kekerasan siber.
Kesimpulannya, AI adalah inovasi besar yang membawa banyak manfaat. Namun, jika tidak digunakan secara bijak, teknologi ini bisa menjadi ancaman serius, khususnya dalam bentuk kekerasan siber berbasis gender. Deepfake hanyalah satu contoh dari sekian banyak potensi penyalahgunaan AI.
Maka, kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan. Perempuan bisa lebih berhati-hati dengan aktivitas digitalnya. Orang tua dan guru harus aktif memberikan pemahaman sejak dini. Lingkungan sosial perlu memberi dukungan, dan pemerintah wajib menghadirkan regulasi yang jelas.
Dengan kerja sama semua pihak, AI tetap bisa dimanfaatkan untuk hal positif tanpa harus menimbulkan korban. Teknologi memang maju, tetapi kebijaksanaan manusialah yang menentukan dampaknya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
