Perkataan Tabi'in: Sumber Pokok Keempat untuk Menafsirkan al-Qur'an
Khazanah | 2025-09-17 15:29:37
Oleh: Omair
Selasa, 16/09/2025
Ketika kita ingin mencari sebuah referensi untuk menulis jurnal ataupun buku, maka semakin banyak buku yang dirujuk, tentu akan memperkaya isi tulisan kita. Namun, tetap harus fokus, jangan sampai keluar dari bahasan utama.
Hanya saja, ketika ingin menafsirkan al-Qur'an, dengan mengambil banyak rujukan, maka kriteria yang digunakan akan semakin ketat. Itu wajar karena demi menjaga penafsiran al-Qur'an yang orisinil (asîl).
Ada 3 sumber utama untuk menafsirkan al-Qur'an, yaitu al-Qur'an itu sendiri; sunnah; dan perkataan para sahabat dengan segala kriterianya.
Kali ini, kita akan membahas satu sumber lagi untuk menafsirkan al-Qur'an, yakni bersumber dari perkataan orang yang berjumpa dengan sahabat Nabi dan meninggal dalam keadaan Islam, yang dikenal dengan nama "tabi'in".
Tahapanya, setelah merujuk ke 3 sumber utama, namun tidak ditemukan penjelasannya, opsi berikutnya, kita bisa merujuk ke perkataan tabi'in yang mereka menimba ilmu langsung dari para sahabat Nabi.
Baik perkataan sahabat, maupun tabi'in, ternyata, keduanya punya sisi persamaan. Yaitu, kesepakatan atau ijma' yang lahir dari keduanya auto diterima. Dan, bisa langsung jadi sumber untuk menafsirkan al-Qur'an.
Jika tidak ditemukan ijma' dari tabi'in dalam suatu permasalahan yang kita butuhkan. Apakah kita akan mengambil pendapatnya atau tidak, kita bisa melihat dua standar berikut ini, sebelum memutuskannya:
YANG PERTAMA: perkataan tabi'in itu disandarkan kepada Nabi (marfu'); perkataan yang disampaikan itu tidak ada ruang untuk pendapat pribadi; dan sang tabi'in tidak dikenal suka mengambil berita dari ahli kitab.
YANG KEDUA: perkataan itu berasal dari imam ahli tafsir yang belajar langsung dari sahabat Nabi; atau ada riwayat mursal dari tabi'in yang kemudian dikuatkan dengan riwayat mursal lain atau yang serupa.
Setelah memahami dua standar di atas. Jika perkataan tabi'in itu memenuhi kriteria, maka perkataan tabi'in lebih diutamakan. Untuk teknisnya, tentu, kita harus menguasai "ilmu alat" agar bisa menganalisa.
Dari sini, ulama berpandangan: jika ada hadis yang derajatnya lemah (dho'if) yang sebab lemahnya bukan karena faktor adalah (keadilan), apabila ditemukan hadis lain yang menguatkannya maka derajatnya naik menjadi lebih kuat dari sebelumnya, istilah teknisnya: hasan li ghoirihi.
Pada kondisi yang lain, jika setelah diteliti, dua standar -yang sudah dibahas di atas- itu tidak terpenuhi, maka ada dua pandangan, seperti yang diutarakan Imam Zarkasyi dalam kitab al-Burhan.
Kelompok pertama: boleh mengambil perkataan tabi'in. Hal ini, berdasarkan fakta, para ahli tafsir banyak yang mengutip pendapat para tabi'in di kitab-kitab mereka.
Kelompok kedua: menolak. Sederhananya, karena perkataan tabi'in tidak memenuhi dua standar itu. Sehingga tidak bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. Dan ini yang benar.
Beginilah uraian sederhana memahami syarat-syarat untuk merujuk perkataan tabi'in. Ada baiknya belajar ilmu hadis dan takhrij hadis dulu, agar hasil analisanya lebih akurat. Karena hanya perkataan tabi'in yang valid, yang bisa dijadikan sumber penafsiran al-Qur'an yang keempat. (Omair)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
