Tabola Bale: Bukti Lagu Daerah Bisa Jadi Bahasa Persatuan
Pendidikan dan Literasi | 2025-09-12 21:20:56
Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan menarik di Kompasiana berjudul “Tabola Bale: Dari Lirik Lokal ke Ruang Publik Nasional” karya dosen pengampu Pendidikan Pancasila Jurnalistik 1B UIN Jakarta yakni Drs. Study Rizal, LK, Ma.
Artikel tersebut membuka wawasan saya tentang bagaimana sebuah lagu sederhana dari Nusa Tenggara Timur - Tabola Bale, mampu menembus ruang-ruang nasional hingga diperdengarkan di Istana Merdeka. Bukan hanya sekadar hiburan, lagu ini menjadi simbol pengakuan budaya lokal di panggung besar kebangsaan.
Saya sepakat dengan penulis bahwa hadirnya Tabola Bale di ruang publik nasional menegaskan pentingnya suara daerah. Lagu ini memperlihatkan bahwa dialek, kosa kata, dan tradisi musik lokal tidak kalah indah dibanding budaya populer arus utama. Justru dari kesederhanaannya, Tabola Bale mampu menyatukan emosi, menghadirkan kegembiraan, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.
Namun, saya juga tertarik dengan catatan kritis yang diajukan penulis: apakah pengakuan simbolik ini cukup? Menjadi viral, dikenal banyak orang, bahkan diperdengarkan di istana tentu membanggakan. Tetapi apakah masyarakat NTT benar-benar merasakan dampak positif dari popularitas lagu ini? Jangan sampai budaya lokal hanya dijadikan “hiasan simbolis” tanpa diikuti perhatian nyata pada pembangunan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat di daerah asal.
Bagi saya, Tabola Bale adalah contoh bagaimana karya lokal bisa melampaui batas ruang dan waktu. Lagu ini mengingatkan kita bahwa identitas bangsa tidak dibangun dari pusat saja, tetapi dari mozaik daerah yang beragam. Meski demikian, kita juga punya tanggung jawab memastikan bahwa pengakuan budaya berjalan seiring dengan keadilan sosial. Apresiasi tidak boleh berhenti di panggung, melainkan harus diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan nyata.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis artikel yang sudah mengangkat topik ini. Tabola Bale bukan hanya lagu, melainkan pengingat bahwa Indonesia berdiri di atas keragaman yang harus terus dirawat—bukan sekadar dirayakan.
© 2025 Diva Jauza Az-Zahra. Blog ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi untuk kepentingan tugas individu menanggapi artikel dosen pengampu Pendidikan Pancasila, dengan dukungan AI sebagai alat bantu penulisan. Dilarang menyalin tanpa izin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
