Jangan Lepaskan Budaya Melayu Patani Menghilang karena Malu
Sejarah | 2025-09-03 02:09:42
Mengapa kita mesti malu bercakap bahasa sendiri atau memakai pakaian bangsa kita? Hal ini sering berlaku, terutamanya di kampus. Ramai yang rasa tidak senak apabila berbahasa Melayu atau berpakaian adat. Mereka lebih senang guna bahasa lain atau meniru gaya orang luar daripada mengangkat budaya sendiri.
Keadaan ini bukanlah sesuatu yang indah, tetapi membuat hati merasa sedih dan khawatir. Betapa peliknya bila kita lihat kawan-kawan dari tempat lain bangga dengan bahasa dan budaya mereka, sedangkan kita sendiri tidak puas hati apa bila menggunakan bahasa ibu atau busana adat. Jika rasa malu ini terus dibiarkan, ia boleh jadi permulaan hilangnya jati diri kita, sama seperti ada orang Melayu yang tidak memuasakan hati lagi memakai tanjak atau busana tradisi kerana rasa tidak enak.
Padahal, nenek moyang kita bukan bangsa kecil. Mereka bangsa yang berilmu dan disegani. Ilmu mereka membuktikan bahawa mereka mampu menguasai alam, bukan sekadar petani biasa. Sejarah mencatat, raja-raja Melayu dihormati kerana ilmu itu, bahkan berhubungan dengan tamadun besar seperti negeri Tiongkok. Ini sepatutnya menjadi sumber kebanggaan kita, bukan sebab untuk rasa rendah diri.
Di Patani, adat masih hidup. Lihat saja bila Hari Raya, orang kampung bergotong royong membina pintu gerbang di jalan masuk desa lambang perpaduan dan maruah Melayu. Di tanah perantauan pun, orang Melayu Patani tetap menjaga adat, bahkan pernah membuat perjanjian dengan raja setempat supaya budaya mereka tidak hilang. Semua ini membuktikan bahawa adat kita bukan sekadar kenangan, tetapi perjuangan yang nyata.
Masalah besar anak muda hari ini ialah rasa malu. Tetapi kalau nenek moyang kita boleh menjaga adat dalam susah payah, mengapa kita tidak mampu? Mulailah dari hal kecil: bercakap Melayu di rumah, memakai pakaian adat bila ada acara, mengajak kawan belajar silat atau dikir barat. Dari langkah kecil itulah maruah kita akan terus hidup.
Budaya Melayu Patani bukan barang lama untuk dikenang-kenang. Ia adalah perjuangan untuk hari ini dan masa depan. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, bila lagi?
Sumber : Wartani Melayu, Media Informasi New, Karya Budaya Bangsa, Pustaka Buku Warisan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
