Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Elsa Nadiva

Riba, Manis di Awal Mengguncang di Akhir

Agama | 2025-06-19 13:21:31

Awalnya hanya sebuah pinjaman yang sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan mendesak, banyak yang bilang bunganya tak seberapa kok, mudah kok bayarnya di cicil saja, nampaknya sangat lah ringan terdengar tetapi di balik itu bunga layaknya benalu semakin bertumbuh, perlahan akan melilit penghasilan, mencekram tenaga hingga hampir habis bahkan sampai menggrogoti harga diri

Bahkan banyak sekali yang tidak sadar kalau sebenarnya meraka sedang menanam bom waktu, dimana hari ini mereka hidup tenang kemudian hari mereka terlilit utang, riba datang dengan wajah yang sangat ceria datang membawa kebahagiaan dengan membawa solusi tetapi di balik itu semua banyak sekali kerugian yang menunggu dan dapat menjerumuskan sangat dalam layaknya terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam

Riba dalam praktiknya sangat lah sederhana seperti pinjam uang dan kembalikan lebih tetapi di balik kesederhanaan itu semua nya menyembunyikan hal-hal yang sangat menyeramkan, kenapa di bilang menyeramkan? Karena di balik itu tersembunyi sebuah sistem yang telah lama menjadi penyebab kesenjangan ekonomi, kemiskinan struktural, dan hilangnya keberkahan dalam kehidupan manusia.

Contoh riba di sini adalah pinjaman online atau pinjol adalah hal yang mematikan. menjanjikan kesenangan cepat, tapi merampas akal sehat. Hal tersebut memancing nafsu, mematikan logika, dan meninggalkan kehancuran: mental terganggu, keluarga berantakan, bahkan nyawa melayang. Banyak kasus bunuh diri bermula dari jeratan ini dimulai dari “iseng” dan berakhir tragis.

Lebih tragisnya lagi, platform pinjaman online ini seringkali legal di permukaan, tapi mengandung praktik yang sangat tidak manusiawi: bunga mencekik, intimidasi penagih, hingga penyebaran data pribadi. Dan semua ini berawal dari satu titik lemah: keinginan hidup instan tanpa usaha.

Islam melarang riba bukan karena ingin membatasi kebebasan finansial, tapi karena ingin melindungi manusia dari eksploitasi. Riba menciptakan ilusi pertumbuhan di mana uang bisa "beranak-pinak" tanpa kerja keras, tanpa risiko, tanpa empati. Ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga mencederai hakikat muamalah: saling tolong-menolong, bukan saling menindas.

Dampaknya terasa nyata: contohnya adalah petani yang meminjam modal dengan bunga tinggi akhirnya menjual tanahnya, pedagang kecil bangkrut karena beban cicilan, bahkan negara bisa terjebak dalam utang luar negeri yang bunganya terus menggunung. Riba telah mengubah keuangan menjadi alat dominasi, bukan pemberdayaan.

Di tengah dunia yang serba instan, sistem ribawi memang tampak praktis. Tapi solusi jangka pendek yang berdiri di atas dasar ketidakadilan hanya akan menciptakan krisis baru di masa depan. Inilah mengapa sistem keuangan Islam menawarkan jalan alternatif: akad berbasis keadilan, bagi hasil, dan transparansi, di mana keuntungan dan kerugian ditanggung bersama secara jujur.

Riba memang tampak manis di awal seperti madu di bibir, tetapi racun di hati. Ia menjanjikan kemudahan, tapi mengantarkan pada kesempitan. Maka, memilih meninggalkan riba bukan hanya keputusan ekonomi, tapi juga sikap moral dan spiritual. Saat kita menolak riba, berati kita sedang membangun dunia yang lebih adil, lebih berkah, dan lebih manusiawi.

Pada akhirnya, kekayaan yang sebenarnya bukan tentang seberapa banyak uang yang kita punya, tapi tentang bagaimana cara kita mendapatkannya. Riba mungkin terlihat menggiurkan di awal cepat, mudah, dan praktis. Tapi di balik itu semua, ada dampak yang sering kali tak terlihat: hati yang gelisah, rezeki yang terasa sempit, dan kehidupan yang jauh dari berkah.

Memilih untuk meninggalkan riba memang tidak selalu mudah, apalagi jika kita sudah terlanjur terbiasa dengan sistemnya. Tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar. Sekarang, sudah banyak alternatif yang lebih sehat dan halal, seperti pembiayaan dari bank atau koperasi syariah, program bagi hasil (mudharabah, musyarakah), hingga pinjaman tanpa bunga (qard hasan). Bahkan, sudah ada banyak platform digital yang memfasilitasi pembiayaan halal dengan proses yang praktis dan transparan.

Langkah pertama adalah menyadari pentingnya memilih jalan yang lebih berkah. Lalu, mulailah belajar pelajari konsep keuangan syariah, tanya pada orang yang paham, dan jangan ragu untuk mencari solusi yang sesuai dengan prinsip halal. Tidak harus langsung besar, cukup dimulai dari langkah kecil. Yang penting, niatnya lurus dan jalannya jelas.

Menjauhi riba bukan hanya keputusan finansial, tapi juga sikap hidup. Kita sedang memilih untuk tidak menyakiti orang lain dengan bunga yang mencekik. Kita sedang memilih untuk hidup lebih tenang, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab. Dan kalau kita bisa melakukannya bersama-sama membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan manusiawi maka bukan tidak mungkin, kita bisa hidup di dunia yang lebih berkah dan lebih baik untuk semua.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image