Peran Orang Tua Dalam Perkembangan Anak: Dampak Pola Asuh Terhadap Masa Depan Anak
Edukasi | 2025-05-10 02:04:57
Keluarga sebagai bagian penting dalam kehidupan yang di dalam nya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Saat ini, anak-anak tumbuh menjadi sosok yang sangat membutuhkan perhatian khusus dari orang tuanya. Keluarga merupakan tempat pertama anak berinteraksi satu sama lain. Dalam lingkungan rumah anak juga di didik dan di ajarkan oleh orang tuanya, yang secara tidak langsung mempengaruhi perilaku sosialnya. Keluarga bukan hanya tempat anak diasuh dan dibesarkan, tetapi juga tempat anak mengembangkan karakter dan individualitasnya. Orang tua akan berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak (Zahra 2024, h.382).
Memahami Peran Orang Tua
Anak merupakan buah cinta dari ayah dan ibu. Anak yang lahir dengan belaian kasih sayang dari ayah dan ibunya akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan selalu siap dalam menghadapi tantangan di masa depan. Orang tua terbaik bukanlah yang suka menyerahkan urusan pengasuhan kepada orang lain. Sebagai orang tua akan menyesal jika tidak memulainya sejak dini dalam kaitannya dengan pengasuhan, orang tua harus menyediakan cukup waktu untuk menjalankan kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anaknya. Kecerdasan emosi kini menjadi perhatian dan prioritas utama karena kecerdasan emosi merupakan bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Anak akan berhasil dalam menghadapai segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Selain itu, kecerdasan emosi juga sangat penting dalam hubungan pola asuh anak dengan orang tua (Ngewa 2021, h.101).
Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan
Peran ayah di dalam pengasuhan anak memberikan gambaran yang cukup positif di berbagai aspek, baik waktu, perhatian dan interaksi. Ayah memberikan gambaran positif terkait pengasuhan yang dilakukannya kepada anaknya, namun keterlibatan yang intens dalam pengasuhan bukan hanya berbicara mengenai kuantitas tetapi juga mengenai kualitas pengasuhan. Sehingga ayah diharapkan dapat membuka komunikasi dua arah dengan anak selama berinteraksi. Sebagian besar ayah menyatakan bahwa mereka mendidik anak sebagaimana mereka dulu dididik padahal jika dicermati, cara yang digunakan orangtua terdahulu belum tentu tepat. Maka perlu dilakukan usaha aktif untuk mengikuti seminar ataupun membaca buku tentang pengasuhan anak (Hidayati 2011, h.08).
Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Anak
Pola asuh orang tua seperti otoriter, permisif, dan abai memiliki dampak berbeda terhadap perkembangan anak. Pola asuh otoriter merupakan pola asuh dimana orang tua memiliki kontrol yang ketat terhadap anaknya, hal ini cenderung akan membuat anak stress, kurang kreatif dan memiliki harga diri yang rendah, sementara pola asuh permisif merupakan pola asuh dimana orang tua sangat merespon terhadap kebutuhan anak dan kurang ketat dalam memberlakukan peraturan, hal ini cenderung menghambat kemandirian dan kemampuan sosial anak, dan yang terakhir pola asuh abai merupakan pola asuh dimana orang tua memiliki respon yang kurang terhadap kebutuhan anak atau sering sekali abai, hal ini akan merugikan terhadap perkembangan kognitif dan kurangnya rasa percaya diri pada anak. Pola asuh yang baik adalah pola asuh yang seimbang, pola asuh seimbang yang dimaksud ini adalah dengan memperhatikan kebutuhan fisik dan emosional anak. Dengan memperhatikan kebutuhan anak maka pola asuh seimbang yang diterapkan tiap orang tua akan berbeda. Dukungan yang diberikan oleh orang tua terhadap anak dalam mengasuh anak akan berdampak baik pada perkembangan anak (Adila 2023, h.312-313).
Dampak Kurangnya Peran Orang Tua
Anak usia dini sering dikatakan berada dalam masa “golden age” atau masa yang paling potensial atau paling baik untuk belajar dan berkembang. Jika masa ini terlewati dengan tidak baik maka dapat berpengaruh pada perkembangan tahap selanjutnya. Di jaman seperti ini jarang ditemukan orangtua yang peduli terhadap perkembangan anak, padahal anak lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama orangtua (Grishela 2023, h.381-382).
Salah satu alasan orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak mereka adalah kesibukan mereka dalam bekerja. Karena orang tua sibuk sehingga mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersama anak-anak mereka, anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk bermain. Kurangnya pengawasan dan perhatian orang tua juga menyebabkan anak-anak merasa seperti mereka memiliki kebebasan (Ilmiyah 2024, h.274).
Kurangnya komunikasi bisa juga menjadi alasan kurangnya pendekatan orang tua dengan anaknya, minimnya komunikasi dapat menyebabkan kurang nya bimbingan dan dukungan emosional, yang pada akhirnya membuat anak sulit dalam menjalin hubungan sosial, memahami norma-norma yang berlaku, serta mengelola emosi mereka dengan baik. Dampak dari kondisi ini bisa berupa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan dan rendahnya rasa percaya diri (Siti 2025, h.125).
Kesimpulan
Orang tua memainkan peran penting dalam kehidupan anak dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang diperlukan untuk mengembangkan karakter dan kecerdasan emosional mereka. Orang tua yang peduli sangat penting, terutama dalam interaksi, bukan hanya waktu yang dihabiskan bersama. Semua jenis metode pengasuhan anak seperti otoriter, permisif, dan abai mempengaruhi anak, sehingga pendekatan yang seimbang dalam pengasuhan sangat dianjurkan. Namun, kesibukan orang tua sering menyebabkan kurangnya perhatian dan pengawasan yang membuat anak merasa memiliki kebebasan tanpa bimbingan. Selain itu, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat menghambat dukungan emosional orang tua, yang dapat membuat anak kesulitan secara sosial serta emosional dalam mengelola perasaan mereka, dan berdampak pada rendahnya rasa percaya diri pada anak.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
