Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Al Mujaddidi

Mengenal Syekh Zainuddin Hamidy: Pendiri Ma'had Islamy dan Tokoh Kemerdekaan

Sejarah | 2025-04-23 21:32:39
Haji Zainuddin Hamidy 
Haji Zainuddin Hamidy

Syekh Haji Zainuddin Hamidy (8 Februari 1907 – 29 Maret 1957) adalah seorang ulama terkemuka asal Koto Nan Ampek, Payakumbuh, Sumatera Barat. Beliau dikenal sebagai pendiri Ma’had Islamy pada tahun 1932, sebuah pesantren yang menjadi pusat pendidikan Islam di wilayah tersebut. Buya Zainuddin dikenal sebagai Hafizh al-Qur'an dan Interpreter. Dia menulis sebuah buku berjudul Tafsir Al Qur'an dengan sahabatnya, Fakurdin HS, yang menerima terima kasih dari para sarjana besar seperti Sheikh Sulaiman Al Rasuli. Selain itu, ia mendominasi ilmu hadis dan menerjemahkan beberapa karya penting, seperti Hadis Sahi Buhari dan Ar ba'in. Pengetahuannya yang mendalam menjadikannya salah satu cendekiawan berpengaruh dari Sumatra Barat.Zainuddin Hamidy waktu kecil bersekolah di sekolah formal dan non formal dan dilanjutkan ke sekolah Darul Funun el Abbasiy di Padang Japang,Vii Koto Talago Kec.Guguak Kab.Lima Puluh Kota- Sumatera Barat. Madrasah Darul Funun, sebuah lembaga pendidikan yang telah mengalami perubahan baik dalam sistem pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan.Di Madrasah darul Funun ini, Zainuddin Hamidy belajar ilmu tafsir, hadits, bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Di sekolah ini Zainuddin Hamidy dikenal sebagai murid yang cerdas. Hal ini terbukti, ketika ia duduk di bangku terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Japang, Syekh Abdullah Abbas menyuruh dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah.Di tanah haram Buya Zainuddin belajar di Ma’had Islamy selama 6 tahun, perguruan yang terkenal di Mekah saat itu. Kelak, nama itu pula yang dipakai untuk mendirikan ponpesnya sendiri. Pulang dari tanah suci, ia pun mendirikan Ma’had Islamy. Berkat inovasi-inovasi yang ia lakukan, Ma’had Islamy berkembang cepat menjadi pusat pendidikan agama waktu itu. Ratusan santri Ma’had Islami tidak hanya dari Payakumbuh, namun juga dari daerah lain di Sumbar dan di luar Sumbar.Buya Zainuddin dikenal dekat dengan murinya. Ketika dia memiliki waktu luang, dia tidak ragu untuk bermain sepak bola dengan murid -muridnya. "Tangan dingin" -nya memungkinkan Ma'had Islamy untuk melahirkan lulusan tepercaya. Di antaranya Qari Zubir Said, Ahli Hisab Arius Saikhi, Guru Besar UI Abdurrahman Zainuddin yang merupakan putra Buya Zainuddin sendiri, Intelektual Minangkabau C. Israr, mantan Ketua MUI Sumatera Barat Prof. DR. H. Mansur Malik, dan lain-lain.Keberhasilan sebagai sosok dalam pendidikan Islam tidak hanya diperdalam oleh Buya Zainuddin untuk kegembiraan ibadah dan pengetahuan di dunia Pesantren. Ia keluar dari "Menara Gading" dengan kesadaran bahwa Islam mewarnai setiap kehidupan dalam hidup dan bahwa orang -orang harus berdiri tegak untuk menghadapi berbagai masalahnya. Makanya, Buya Zainuddin Hamidy turut memimpin pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Dalam buku yang ditulis Hikmat Israr dengan judul Angku Mudo Zainuddin Hamidy (2010), Buya menginisiasi “Kelompok Lima” yang terdiri dari Buya sendiri, Fakhruddin HS, Arisun Sutan Alamsyah, Haji Nasharuddin Thaha, dan Haji Darwis Taram. Dalam kelompok intelektual itu, didiskusikan perkembangan dan persiapan langkah strategis menuju kemerdekaan Indonesia.Kegigihan Buya Zainuddin dalam berjuang melawan penjajah Belanda tak diragukan lagi. Bahkan, Buya mengunakan gedung Ma’had Islamy sebagai tempat latihan sekaligus markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar-laskar perjuangan. Ia mengobarkan semangat jihad di kalangan prajurit dan laskar agar yakin memenangkan pertempuran. Kalaupun harus gugur, maka mereka wafat sebagai syuhada yang tak perlu ditangisi. Makanya, prajurit dan laskar perjuangan bersemangat untuk maju ke medan pertempuran.

Diakhir hayatnya, Buya Zainuddin meninggalkan warisan pendidikan yang besar melalui Ma’had Islamy, yang telah melahirkan banyak alumni berpengaruh, termasuk Qari Zubir Said dan Prof. Dr. H. Mansur Malik. Beliau wafat pada 29 Maret 1957 dan dikenang sebagai ulama yang berdedikasi tinggi dalam pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.
Sumber : https://berita.payakumbuhkota.go.id/buya-zainuddin-hamidy-pendiri-mahad-islamy-ulama-pejuang-dari-payakumbuh-i/https://sinyalnews.com/2024/09/22/mengenang-dakwah-syekh-haji-zainuddin-hamidy-ulama-pejuang-dari-payakumbuh/https://id.wikipedia.org/wiki/Zainuddin_Hamidyhttps://archive.org/details/hamidy-dan-fachruddin-hs.-1988-tafsir-quran-naskah-asli-terjemah-keterangan-le

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image