Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muchammad Reno Ardana

Penggunaan Bahasa Asing dan Bahasa Indonesia dalam Interaksi Sehari-hari bagi Generasi Z

Trend | 2025-04-01 19:50:17

Generasi Z (Gen Z) dikenal sebagai generasi yang tumbuh di era digital dengan akses luas terhadap informasi global. Salah satu karakteristik unik mereka adalah cara berkomunikasi yang memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Perpaduan ini tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung, tetapi juga dalam komunikasi di media sosial, dunia kerja, hingga dunia akademik. Fenomena ini mencerminkan dinamika perubahan bahasa yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan globalisasi.

Pengaruh Globalisasi terhadap Gaya Berbahasa Gen Z

Ilustrasi Gen Z
Ilustrasi Gen Z

Perkembangan teknologi dan media sosial memberikan pengaruh besar terhadap kebiasaan komunikasi Gen Z. Mereka terbiasa mendengar bahasa asing melalui berbagai platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram, yang sering kali menggunakan bahasa Inggris dalam kontennya. Selain itu, film, musik, dan permainan online juga berkontribusi dalam memperkaya kosakata mereka dengan istilah-istilah baru yang sering kali lebih ekspresif dibandingkan bahasa Indonesia. Hal ini menyebabkan mereka secara alami memasukkan istilah asing dalam percakapan sehari-hari, baik dalam situasi formal maupun informal.

Dinamika Penggunaan Bahasa Campuran

Banyak Gen Z yang merasa lebih nyaman menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi mereka. Penggunaan bahasa asing sering kali dianggap lebih praktis dan mampu mengekspresikan perasaan dengan lebih akurat. Sebagai contoh, istilah seperti deadline lebih sering digunakan dibandingkan “batas waktu” karena lebih singkat dan sudah umum dipahami. Selain itu, istilah vibe, relate, dan literally lebih sering digunakan karena memiliki nuansa makna yang sulit untuk diterjemahkan secara langsung dalam bahasa Indonesia.

Fenomena ini juga terlihat dalam dunia pendidikan dan profesional, di mana banyak materi akademik maupun pekerjaan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan Gen Z terbiasa menggunakan istilah asing dalam diskusi dan komunikasi formal. Misalnya, dalam rapat atau tugas kuliah, mereka sering menyelipkan kata-kata seperti meeting, insightful, atau research tanpa menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia.

Bentuk-Bentuk Penggunaan Bahasa Campuran

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat beberapa pola penggunaan bahasa campuran yang umum di kalangan Gen Z. Salah satunya adalah code-switching, yaitu pergantian bahasa dalam satu kalimat atau percakapan. Misalnya, seseorang bisa berkata, “Aku lagi hectic banget minggu ini karena banyak tugas.” Fenomena ini sering terjadi ketika berbicara dengan orang yang juga memahami bahasa asing tersebut, sehingga peralihan bahasa terasa alami dan tidak menghambat komunikasi.

Selain itu, terdapat juga code-mixing, yaitu penyisipan kata atau frasa bahasa asing dalam bahasa Indonesia. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, seseorang bisa mengatakan, “Meeting tadi insightful banget.” Dalam beberapa kasus, istilah asing ini dianggap lebih ringkas dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, Gen Z juga sering menggunakan istilah yang diadaptasi dari bahasa asing, seperti bestie, lowkey, atau mood, yang memiliki makna unik dan sering kali sulit diterjemahkan secara langsung.

Dampak Penggunaan Bahasa Campuran

Gaya Komunikasi
Gaya Komunikasi

Penggunaan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari memiliki dampak positif maupun negatif. Dari sisi positif, fenomena ini mempermudah komunikasi dalam lingkungan global, di mana banyak pekerjaan dan pertemanan melibatkan individu dari berbagai latar belakang budaya. Selain itu, kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih dalam percakapan sehari-hari juga membantu meningkatkan kemampuan bilingual atau multilingual. Gen Z yang terbiasa menggunakan bahasa asing dalam komunikasi mereka cenderung lebih fleksibel dalam beradaptasi dengan lingkungan internasional.

Namun, di sisi lain, dominasi bahasa asing dalam komunikasi juga dapat berdampak negatif terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya penggunaan bahasa Indonesia yang baku dan formal, terutama dalam situasi akademik dan profesional. Jika tidak digunakan dengan bijak, dominasi bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari dapat menyebabkan kesulitan dalam menulis dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, kesalahpahaman dalam komunikasi antar-generasi juga bisa terjadi, karena tidak semua orang memahami istilah asing yang sering digunakan oleh Gen Z.

Menjaga Keseimbangan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing

Meskipun penggunaan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari tidak dapat dihindari, penting bagi Gen Z untuk tetap menjaga keseimbangan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi resmi, seperti dalam penulisan akademik, presentasi formal, dan komunikasi di lingkungan kerja yang mengutamakan bahasa nasional. Selain itu, memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan mencari padanan istilah asing yang sesuai juga dapat membantu menjaga kelestarian bahasa Indonesia.

Selain itu, penggunaan bahasa asing juga sebaiknya dilakukan secara kontekstual dan tidak berlebihan. Misalnya, dalam lingkungan keluarga atau komunitas yang lebih tradisional, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar lebih dianjurkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Selain itu, mempromosikan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia melalui media sosial dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi langkah penting dalam menjaga identitas bahasa nasional di tengah arus globalisasi.

Kesimpulan

Gaya komunikasi Gen Z yang memadukan bahasa Indonesia dan bahasa asing adalah fenomena yang wajar di era globalisasi. Perpaduan ini tidak hanya mencerminkan keterbukaan mereka terhadap perkembangan dunia, tetapi juga menunjukkan adaptasi mereka terhadap teknologi dan tren komunikasi yang terus berubah. Selama digunakan dengan bijak dan sesuai konteks, penggunaan bahasa campuran dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dan dinamis.

Namun, penting bagi Gen Z untuk tetap menjaga kelestarian bahasa Indonesia agar tidak kehilangan identitas budaya dalam perkembangan zaman. Dengan keseimbangan yang tepat, penggunaan bahasa asing dan bahasa Indonesia dapat saling melengkapi dan memberikan manfaat yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek sosial, akademik, maupun profesional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image