
Gen Z dan Label Generasi Strawberry: Stereotip atau Realitas?
Eduaksi | 2025-01-30 15:37:32
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "Generasi Strawberry" menjadi populer untuk merujuk pada Gen Z, generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Frasa ini berasal dari Taiwan dan menggambarkan orang muda yang rapuh dan rentan terhadap tekanan seperti stroberi, yang cantik tetapi rapuh. Tetapi apakah istilah-istilah ini benar-benar mencerminkan kenyataan atau hanya sekadar stereotip yang tidak berdasar?
Gen Z: Rapuh atau Adaptif?
Gen Z tumbuh di era digital yang penuh ketidakpastian—dari krisis ekonomi, pandemi global, hingga perubahan teknologi yang cepat. Penelitian dari Pew Research Center (2019) menunjukkan bahwa Gen Z lebih sadar akan kesehatan mental dan lebih vokal dalam mengungkapkan emosi mereka dibandingkan generasi sebelumnya. Sifat ini sering disalahartikan sebagai "kelemahan," padahal justru menunjukkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan psikologis.
Menurut Dr. Jean Twenge, psikolog dan penulis iGen (2017), Gen Z cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi mereka juga lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dan perubahan sosial. "Mereka tidak lemah, tetapi lebih terbuka dalam mengakui ketakutan dan tekanan yang mereka hadapi," jelasnya.
Dampak Labelisasi: Mempengaruhi Persepsi Diri
Pemberian label negatif seperti "Generasi Strawberry" dapat berdampak buruk pada mentalitas anak muda. Labelisasi ini berisiko menciptakan efek self-fulfilling prophecy, di mana individu mulai percaya bahwa mereka memang lemah dan tidak mampu menghadapi tantangan. Padahal, Gen Z justru memiliki banyak keunggulan, seperti kreativitas tinggi, kemampuan multitasking, dan pemahaman digital yang lebih dalam dibanding generasi sebelumnya.
Beyond Labels Mental Health Campaign: Memecah Stereotip Strawberry Generation

Sebagai upaya melawan stereotip ini, pada Rabu, 22 Januari 2025, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Semester 5, Konsentrasi Public Relations (PR), Universitas Muhammadiyah Jakarta mengadakan Beyond Labels Mental Health Campaign dengan tema "Memecah Stereotip Strawberry Generation". Kampanye ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bahwa Gen Z bukanlah generasi yang mudah hancur, tetapi justru kreatif, inovatif, dan memiliki daya juang tinggi.
Acara ini mengundang beberapa Narasumber yaitu ibu Velda Ardia S.Ikom., M.Si dan Ka Safitri Herra, S.Pd. Salah satu pesan utama dari kampanye ini adalah bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk ketahanan dan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup. Beberapa point yang disampaikan oleh Pemateri ialah:
1. Faktor Penyebab Generasi Strawberry
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya karakteristik Generasi Strawberry, di antaranya:
- Pola Asuh Orangtua yang terlalu protektif
- Diagnosa Diri yang Berlebihan
- Ketergantungan pada Teknologi
- Lingkungan yang Nyaman
2. Ciri-ciri Generasi Strawberry
Menurut Aaron Loeb, Generasi Strawberry memiliki beberapa karakteristik berikut:
1) Dampak Positif
- Adaptif terhadap perkembangan zaman.
- Pintar menciptakan gagasan baru.
- Toleran terhadap perbedaan gagasan.
2) Dampak Negatif:
- Rapuh terhadap tekanan hidup.
- Kurang fokus dan kurang bertanggung jawab.
- Mencintai zona nyaman, sulit mengambil keputusan.
3. Dampak dari Label Generasi Strawberry
Jika tidak diatasi, label ini dapat menimbulkan dampak negatif, seperti:
- Rapuh dalam menangani permasalahan berat.
- Tidak bisa mandiri dan kurang bertanggung jawab.
- Tidak peduli terhadap norma sosial.
- Mudah frustrasi hingga berisiko mengalami gangguan mental.
- Menjadi "jago kandang" yang tidak siap bersaing dalam dunia global.
4. Cara Mengatasi Stereotip Generasi Strawberry
Agar generasi ini lebih tangguh, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
✅ Menanamkan jati diri dan ketangguhan sejak dini.
✅ Memberikan kesempatan untuk menangani masalah sendiri.
✅ Mendukung dan mendampingi mereka menghadapi kesulitan.
✅ Memberikan apresiasi atas setiap proses yang mereka jalani.
✅ Melibatkan mereka dalam aktivitas sosial.
✅ Mengenalkan nilai-nilai spiritual untuk memperkuat mental mereka.
Label "Generasi Strawberry" mungkin muncul dari pengamatan terhadap pola pikir dan gaya hidup Gen Z, tetapi tidak sepenuhnya benar. Gen Z memiliki banyak keunggulan, seperti kreativitas, kemampuan adaptasi, dan keterbukaan terhadap perubahan. Daripada terus melabeli mereka sebagai generasi yang rapuh, lebih baik memahami cara mereka berkembang dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook