Bahaya Rumput Sintetis: Rumput yang akan Selalu Hijau
Eduaksi | 2024-11-22 19:36:48Penggunaan rumput sintetis sudah menjadi alternatif bahkan opsi utama untuk menambah estetika lapangan hijau sebagai pengganti rumput asli. Lapangan olahraga, taman, bahkan universitas juga sudah mulai menggunakan rumput sintesis. Tidak seperti rumput asli, rumput sintetis tidak perlu perawatan dan juga penyiraman air sehingga lebih hemat biaya dan juga air. Rumput sintetis juga akan tetap berbentuk sepeti itu dalam waktu yang lama, tidak seperti rumput asli yang harus dipotong ketika mulai panjang. Dibalik keuntungan dari penggunaan rumput sintetis, tetap perlu diperhatikan karena ada beberapa dampak negatif yang dapat merugikan lingkungan dan juga diri kita sendiri.
Sebagai Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, saya tertarik membahas topik ini karena ketika saya berjalan melewati taman Perpustakaan UNAIR B saat matahari sedang berada tepat di atas kepala, kerap kali saya mencium aroma gosong seperti plastik terbakar di area tersebut. Setelah saya telesuri bau itu memang berasa dari rumput sintetis yang membentang luas di area taman Perpustakaan UNAIR B.
Jika rumput asli dapat menyerap karbon dioksida melalui fotosintetis, rumput sintetis tidak dapat melakukan hal tersebut. Menurut artikel dari University of Plymouth, rumput sintetis menyerap lebih banyak radiasi sehingga berkontribusi dalam pemanasan global. Rumput sintetis juga tidak dapat menggantikan kerja rumput alami yaitu menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Terlebih lagi ketika cuaca sedang terik-teriknya, rumput sintetis dapat menjadi jauh lebih panas dibandingkan dengan rumput alami. Menurut Collaborative for Health and Environment (CHE), suhu permukaan rumput sintetis dapat mencapai 120 hingga 180 Fahrenheit tergantung dengan kondisi cuaca. Hal itu dapat menyebabkan penguapan bahan kimia beracun dari bahan pembuatan rumput sintetis tersebut, entah karet maupun plastik.
Rumput sintetis juga berpotensi besar dalam menyumbang limbah mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Potongan-potongan kecil dari rumput sintetis tersebut dapat mencemari tanah tanpa kita sadari. Tak hanya itu, rumput sintetis juga hanya bertahan sekitar 1 dekade, setelahnya limbah dari rumput sintetis itu akan berakhir mencemari lingkungan karena rumput tersebut terbuat dari berbagai campuran komponen sehingga sulit untuk di daur ulang. Itulah alasan mengapa sebagian besar limbah bekas rumput sintetis hanya berakhir di tumpukan sampah tanpa bisa diolah menjadi barang baru.
Meskipun penggunaan rumput sintetis jauh lebih mudah dan murah tetapi akan lebih baik jika lingkungan hijau sekitar kita berasal dari rumput dan pepohonan yang alami sehingga segala udara dan lingkungan yang kita tempati setiap harinya tidak akan membahayakan entah dalam jangka waktu yang panjang maupun pendek. Dengan adanya lingkungan hijau yang asri dan alami lingkungan sekitar kita juga akan menjadi lebih sejuk dan terasa lebih menyegarkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
