Bersyukur tanpa merasa kurang

Image
Snsdr
Curhat | Friday, 04 Feb 2022, 21:12 WIB

Seringkali kita lupa akan nasihat yang selalu disampaikan, pandai- pandailah bersyukur untuk selalu merasa cukup. Bahkan kita semua percaya bahwa rezeki sudah diatur yang kuasa dan apa yang menjadi kebutuhanmu hari ini dan seterusnya sudah dicukupi dengan berbagai jalan yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya, dengan catatan kita sudah benar-benar berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Keresahan yang dirasakan banyak teman yang saya temui ketika menginjak usia 20-an dan telah sampai pada saat menentukan pilihan hidup dan memutuskan untuk memulai bekerja, atau mencari kerja, dan berbagai kegiatan lain yang menuntut kita untuk belajar mandiri dan perlahan lepas dari tanggungan orang tua dengan berusaha mencukupi kebutuhan diri sendiri.

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya bersosialisasi dengan banyak orang. Gaya hidup dan kehidupan sosial, dua hal yang kadang sering disalah artikan dan menuai banyak perbedaan tafsir sebagai contoh jika beberapa kebutuhan belum tercukupi akan terdegar kalimat pedas yang mengatakan "itu akibat gaya hidupnya yang terlalu tinggi", padahal kita tidak pernah tau mungkin saja memang itu kebutuhan utama bagi mereka.

Namun, saya sependapat bahwa gaya hidup dan kehidupa sosial benar adalah jawaban atas keresahan permasalahan ekonomi yang banyak dialami diusia 20-an. Misalnya saja saya yang hidup di desa dengan penghasilan yang belum stabil harus dihadapkan dengan berbagai acara hajatan dan sumbangan sebagai salah satu bentuk empati dan simpati agar bisa dikatakan dapat bersosialisasi dengan baik dalam masyarakat atau biasa disebut dengan istilah "ngumumi" atau umum dengan orang lain.

Berbeda dengan mereka yang hidup di lingkungan kota yang lebih berfokus pada urusan pekerjaan dan cenderung lebih individual sehingga tidak terlalu sering berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Menurut saya hal tersebut menjadi salah satu keuntungan tersendiri namun dengan berbagai kekurangan seperti kurang terbentuknya rasa empati sosial terhadap sekitar dan lain sebagianya yang tidak akan saya uraikan satu persatu karena fokus dari tulisan ini tidak pada hal tersebut. kebutuhan hidup di kota tentu saja berbeda dengan desa karena harga segala jenis barang sampai makanan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan standar harga kebutuhan di desa.

Setelah membahas kehidupan sosisal kita lanjut untuk membahas gaya hidup. Berbicara masalah gaya hidup tentu saja tidak jauh dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Menurut saya gaya hidup ini tidak memandang siapa yang tinggal dikota atupun desa karena tentu saja kita semua sebagai manusia memiliki sebuah kebutuhan. Mulai dari kebutuhan primer hingga sekunder, mulai dari apa yang kita makan sampai pada apa yang kita gunakan. Apalagi di zaman sekarang ini akses informasi semakin mudah untuk sampai bahkan hingga ke daerah pelosok asalkan masih bisa dijangkau oleh jaringan internet. Selain itu kemudahan berbelanja yang semakin maju dan dapat memberikan jawaban dari kebutuhan masyarakat dengan mudah juga menjadi pengaruh besar gaya hidup seseorang. Sebagai contoh yaitu, hari ini semua orang dapat dengan mudah mengetahui berbagai barang dengan merek terkenal tanpa harus datang ke tokonya.

Gaya hidup ini cenderung berhubungan dengan kualitas kebutuhan yang kita perlukan dan juga mengarah pada rasa gengsi seserorang. mengapa saya katakan demikian, karena ada beberapa orang yang lebih mementingkan brand atau merek dibanding dengan kualitas dan harus selalu mengikuti pembaharuan disetiap trend yang sedang ada karena berada pada lingkungan dengan gaya hidup yang hedonis. Hal inilah yang memberatkan seseorang dengan kondisi keuangan minimum yang dimiliki menjadi terbebani oleh pilihan dan lingkungannya sendiri.

Akan tetapi, tentu saja hal ini tidak bisa dipukul rata yang berarti semua masyarakat desa dan kota mengalami permasalahan demikian. karena kembali lagi pada diri masing-masing. Setiap orang memiliki prinsip dan tujuan hidup yang berbeda. Kebahagian dan kepuasan yang dirasakan pun tak selalu mengacu kepada materi. Gaya hidup dapat dikelola dengan mulai memilih kebutuhan yang memang benar-benar perlu dan tidak perlu untuk dipenuhi.

Rasa gengsi dapat diatasi dengan belajar untuk selalu bersyukur dan menerima kenyataan serta menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi diri yang sebenarya. Lingkungan sosial dapat diusahakan dengan tetap berbuat baik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tak selalu tentang materi namun kehadiran dan peran kita dimasyarakat juga hal penting yang tak dapat digantikan dengan materi.

Semoga kedepan kita dapat berproses menjadi manusia yang penuh dengan rasa syukur dan dapat menyeimbangkan gaya hidup dan kebutuhan sesuai dengan kadar kemampuan maksimal yang telah kita usahakan. Semoga kedepan kita selalu bertumbuh dan memberikan banyak manfaat pada diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Bersyukur tanpa merasa kurang

Dilema Mahasiswa Semester Akhir

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image