Mengenal Aliran Pendidikan di Indonesia dari Klasik hingga Modern
Pendidikan dan Literasi | 2024-06-26 08:59:10Penulis:
Parvati Ummu Khanifah (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Sultan Agung Semarang)
Dr. Aida Azizah, S.Pd., M.Pd (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Sultan Agung Semarang)
Pendidikan merupakan pondasi utama dari pembentukan sebuah karakter, sikap, pengetahuan dan keterampilan individu. Pada dasarnya, setiap manusia itu sangat membutuhkan pendidikan untuk menjamin keberlangsungan hidupnya sendiri bahkan bangsa dan negara. Pendidikan menjadi faktor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan yang memberikan arah bagi seluruh manusia untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Dengan begitu, melalui pendidikan seseorang tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga bisa mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya.
Seiring dengan perubahan zaman, setiap manusia dihadapkan pada permasalahan pemberian pendidikan yang lebih baik bagi keturunannya dibandingkan generasi sebelumnya. Berjalannya waktu, munculah berbagai gagasan pendidikan yang mengalami pembaharuan dari para tokoh yang gencar memberikan pendapatnya. Hal tersebut, membentuk sebuah aliran-aliran pendidikan yang semakin berkembang yang mana masing-masing aliran menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan pendidikan. Aliran-aliran ini mencerminkan berbagai pandangan filosofis tentang bagaimana pendidikan yang sebenarnya harus dilakukan, serta penggunaan metode yang efektif untuk proses pembelajaran.
Aliran pendidikan telah mengalami perkembangan dari klasik hingga ke modern. Artikel ini akan mengulas beberapa aliran pendidikan klasik dan modern.
A. ALIRAN KLASIK
1. Aliran Empirisme
Aliran ini dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Kata empirisme berasal dari bahasa latin empiri yang berarti pengalaman. Sehingga aliran ini menganut pendapat jika berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan manusia itu ditentukan oleh pengalaman (empiris).
2. Aliran Nativisme
Aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer, seorang filsuf dari Jerman. Nativisme ini berasal dari bahasa latin yaitu native artinya terlahir. Sehingga aliran ini menganut paham yang telah dipelopori Sckophenhauer bahwa pendidikan membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya dari lahir.
3. Aliran Konvergensi
Aliran Konvergensi dikemukakan oleh Williamstern (1871-1939) seorang filsuf dari Jerman yang berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak itu baik faktor pembawaan dari lahir (baik atau buruk) maupun faktor lingkungan mempunyai peranan penting. Pembawaan pada anak sejak lahir tidak bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan dari lingkungan yang sesuai dengan pembawaan dari sejak lahir. Sehingga kedua faktor tersebut tidak dapat dipisahkan.
4. Aliran Naturalisme
Aliran naturalisme merupakan aliran yang dipelopori oleh Jean Jaquest Rousseau (1712-1778) yang berpendapat bahwa pada hakikatnya manusia sejak lahir sudah memiliki pembawaan baik sampai akhirnya mengalami kerusakan akibat pengaruh lingkungannya itu sendiri. Naturalisme merupakan aliran dari “nature” alam sebagai keseluruhan realitas. Sehingga aliran ini menekankan pada pentingnya pengalaman langsung seperti observasi, eksperimen dan interaksi di lingkungan alami saat proses pembelajaran.
B. ALIRAN MODERN
1. Aliran Progresivisme
Tokoh filsafat yang menopang gagasan ini yaitu John Dewey, ia berpendapat jika aliran progresivisme menginginkan kemajuan secara cepat. Aliran ini memfokuskan pendidikan sebagai sarana kemajuan peserta didik. Sehingga peserta didik tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi mereka juga mendapatkan keterampilan yang bisa mengarahkan pada kemampuan berfikir peserta didik agar dapat berfikir secara sistematis.
2. Aliran Esensialisme
Aliran esensialisme menginginkan agar peserta didik kembali kepada kebudayaan lama. Aliran ini bertolak belakang dengan aliran progresivisme yang mengacu pada kemajuan. Sehingga aliran ini menginginkan agar peserta didik dapat berkontribusi dalam meningkatkan karakter melalui warisan budaya dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin merusak nilai-nilai karakter.
3. Aliran Rekonstruksionalisme
Aliran ini memandang bahwa pendidikan sebagai upaya rekonstruksi yang penting untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Aliran rekonstruksionalisme merupakan aliran yang berupaya untuk memperbaiki susunan lama dengan membangun susunan hidup yang lebih modern menyesuaikan zaman.
4. Aliran Perennialisme
Aliran ini muncul pada abad ke-20an yang memandang bahwa pendidikan itu sebagai tempat kembali, dimana saat manusia mengalami suatu masalah akan mudah menyelesaikannya dikarenakan ilmu pengetahuan yang sudah mereka miliki. Sehingga untuk sasaran utama dalam aliran ini yaitu pendidikan merupakan kebenaran, nyata, dan tidak diikat oleh waktu dan ruang karena kebenaram tertinggi itu bersumber dari Tuhan.
5. Aliran Idealisme
Aliran ini berasal dari kata “idea” yang berarti sesuatu hadir di dalam jiwa. Aliran ini menjadi awal pemikiran yang sangat penting karena menganggap bahwa kenyataan itu tersusun dari sebuah jiwa dan ide.
Perubahan zaman yang semakin berkembang mengakibatkan pembaharuan aliran yang terus berubah. Akan tetapi, setiap aliran pendidikan itu memiliki tujuan yang sama yaitu memperbaiki martabat manusia. Pada zaman modern ini, makin banyak aliran pendidikan modern yang menekankan pada keterampilan abad 21 untuk berfikir kritis, kreatif, inovatif, dan kemampuan berkomunikasi. Indonesia sebagai negara yang juga baru merasakan zaman modern, sistem pendidikan yang digunakan juga memakai aliran pendidikan modern yang diterapkan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Salah satu contoh aliran pendidikan yang digunakan di Indonesia yaitu aliran progresivisme dimana aliran ini mengacu pada kemajuan pendidikan. Sehingga untuk sistem pembelajarannya pun sudah modern, sebagai contoh yaitu metode Blended Learning yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan platform online. Selain itu, untuk menyukseskan kurikulum nasional yang berlaku sekarang, terdapat metode pembelajaran Project Based Learning dimana peserta didik didorong untuk terlibat dalam kegiatan proyek-proyek, mengembangkan keterampilannya dan penajaman berfikir kritis. 
Dengan begitu, aliran pendidikan modern yang telah digunakan di Indonesia ini membuat sistem pendidikan yang ada lebih inklusif, fleksibel, dan relevan dengan perubahan dan tantangan zaman. Selain itu, aliran pendidikan modern ini mampu membekali peserta didik maupun mahasiswa dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk meniti karir kedepannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
