Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yonanda Sukma

Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Penyakit Saluran Kemih pada Kucing

Pets and Garden | 2024-06-04 15:39:26
Ilustrasi kucing dengan FLUTD

Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) yang dikenal juga dengan Feline Urologic Syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada kucing terutama kucing jantan. Masalah kesehatan ini mengganggu vesika urinaria (VU) dan uretra kucing.

Hal tersebut disebabkan oleh struktur uretra kucing jantan yang berbentuk seperti tabung memiliki bagian yang menyempit sehingga sering menimbulkan penyumbatan urin dari VU ke luar tubuh. FLUTD meliputi beberapa kondisi yang terjadi pada saluran urinaria kucing. Sindrom yang terjadi pada kucing ini ditandai dengan pembentukan kristal di dalam VU. Kristal tersebut kemudian akan menyebabkan inflamasi, perdarahan pada urin, kesulitan buang air kecil, serta beberapa kasus dapat menyebabkan obstruksi aliran normal urin keluar dari VU yang dapat menyebabkan kematian (Pinney, 2009).

GEJALA

Gejala dari penyakit tersebut dapat berupa :

 

  • Sulit mengeluarkan urin
  • Terdapat darah pada urin
  • Kesakitan pada saat urinasi (kencing)
  • Sering menjilati daerah genital
  • Buang air kecil di luar kotak pasir

PENYEBAB

1. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri pada saluran kemih adalah penyebab paling umum terjadinya penyakit saluran kemih bagian bawah pada kucing. Menurut I Cat Care, infeksi bakteri menyumbang sekitar 5—15% dari seluruh kasus FLUTD. Bakteri yang memasuki saluran kemih kucing dapat mengakibatkan terjadinya infeksi pada kandung kemih atau uretra.

2. Batu kandung kemih

Urolithiasis atau bisa dikenal dengan batu kandung kemih menjadi faktor yang dapat menyebabkan FLUTD pada kucing. Pembentukan kristal di dalam saluran kemih ini dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan atau iritasi. Urolithiasis atau batu kandung kemih umumnya menyumbang sekitar 10—15 % kasus feline lower urinary tract diseases.

3. Obstruksi uretra

Obstruksi atau penyumbatan uretra adalah penyebab FLUTD paling serius dan berpotensi mengancam jiwa. Ketika ureter tersumbat, urine tidak dapat dikeluarkan dan kemampuan ginjal untuk mengeluarkan racun dari darah pun terganggu. Obstruksi uretra paling sering terjadi pada kucing jantan berusia 1—10 tahun daripada kucing betina. Hal ini karena kucing jantan memiliki uretra yang lebih panjang dan sempit.

4. Kecacatan anatomi

Terkadang, kelainan pada anatomi saluran kemih bagian bawah juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit, termasuk FLUTD. Salah satu contoh kelainan yang menyebabkan FLUTD, yaitu dinding kantong kemih yang tidak elastis atau adanya divertikulum (kantung kecil yang bocor dari dinding kandung kemih). Adanya kondisi kelainan tersebut berisiko menyebabkan infeksi.

5. Kondisi genetik

Faktor genetik juga memainkan peran penting dalam perkembangan FLUTD. Pasalnya, beberapa ras kucing mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk membentuk batu kandung kemih yang dapat menyumbat saluran kemih, misalnya kucing Persia atau Himalayan.

6. Stress

Perlu diingat, perasaan cemas atau stres pada kucing dapat memengaruhi kesehatan kucing secara keseluruhan, termasuk sistem saluran kemihnya. Ada beberapa faktor yang dapat memicu kucing mengalami stres, yaitu perubahan lingkungan, kehadiran hewan peliharaan baru, atau bahkan perubahan rutinitas.

7. Obesitas

Ilustrasi kucing obesitas

Kucing yang mengalami obesitas cenderung berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan FLUTD. Pasalnya, obesitas dapat memengaruhi sistem peredaran darah dan berkontribusi pada ketidakseimbagan hormonal. Penting untuk diingat bahwa FLUTD dapat berkembang dari beberapa penyebab di atas. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap perilaku dan kondisi kesehatan kucing serta kunjungan rutin ke dokter hewan dapat membantu mencegah terjadinya FLUTD.

CARA MENCEGAH

Karena sangat berbahaya, penting bagi pemilik untuk mengetahui cara mencegahnya. Berikut penjelasannya:

1. Perhatikan Tingkahnya

Langkah pertama untuk mencegah FLUTD pada kucing adalah memperhatikan tingkahnya. Jika ia terlihat kesulitan saat buang air, penting untuk segera konsultasi ke dokter hewan.

2. Beri Makanan Khusus

Ketika kucing kesulitan buang air kecil, cobalah untuk memberinya pakan khusus yang dapat menjaga dan mendukung kelancaran saluran kemih, serta menjaga konsentrasi urin.

3. Cukup Minum

Pemilik juga perlu memastikan kucing cukup minum. Sebab, air adalah kebutuhan utama makhluk hidup untuk bertahan.

4. Berikan Wet Food

Ilustrasi wetfood yang baik untuk kucing

Dry food memang makanan yang tergolong murah dan praktis, namun penting untuk diselingi dengan wet food. Misalnya, seperti ikan dan ayam rebus yang baik untuk kebutuhan kucing.

5. Jaga Berat Badan

Menjaga berat badan kucing agar tidak obesitas merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah FLUTD. Dengan berat badan yang terjaga, kucing tidak rentan terkena penyakit mematikan.

PENGOBATAN

FLUTD mencakup berbagai gangguan pada saluran kemih, sehingga pengobatannya pun bervariasi. Berikut beberapa jenis pengobatan FLUTD kucing yang umum diberikan.

 

  • Antibiotik. Dokter akan memberikan antibiotik bila infeksi bakteri diidentifikasi sebagai penyebab FLUTD.

 

  • Pola makan. Bila terdapat pembentukan kristal atau batu kandung kemih, perubahan pola makan mungkin akan direkomendasikan dokter untuk mengurangi pembentukan batu.

 

  • Pengelolaan stres. Bila stres menjadi faktor pemicu FLUTD, manajemen stres menjadi bagian penting dari perawatan. Ini dapat mencakup perubahan lingkungan agar kucing dapat merasa lebih nyaman.

 

  • Pembedahan. Dalam beberapa kasus, seperti obstruksi uretra oleh batu, dokter mungkin akan melakukan pembedahan untuk menghilangkan sumbatan serta memulihkan aliran urine.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengobatan yang efektif untuk mengatasi kondisi ini sebenarnya bergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Oleh karena itu, bila kucing menunjukkan gejala FLUTD, segera konsultasikan kepada dokter hewan untuk mendapatkan pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan yang tepat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image