Berebut Pintu Surga
Agama | 2023-12-21 11:56:42SEBAGAI bahan refleksi bagi kita, ada kisah menarik yang pantas direnungkan. Alkisah, 2 orang kakak beradik memperebutkan hak asuh ibu hingga ke pengadilan. Hizan al Fuhaidi dan adik kandungnya menggugat ke pengadilan Qasim, Kerajaan Arab Saudi. Keduanya bukan menggugat harta warisan, melainkan hak asuh ibu.
Kedua orang tersebut, memberikan alasan masing masing. Hizan menolak hak asuh ibunya pindah ke adiknya dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Sementara adik Hizan memohon agar di akhir hidupnya bisa berbakti sama ibunya. Hakim tidak bisa memutuskan perkara, akhirnya sang ibu dihadirkan di majelis.
Hakim bertanya kepada sang ibu, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami dan memberikan jawaban yang bijaksana sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”, kemudian menunjuk ke adik Hizan, “ini mata kiriku!”.
Akhirnya hakim memutuskan, hak asuh jatuh ke adik Hizan demi kemaslahatan si ibu. Hizan pun menangis karena ia kalah dalam memperebutkan hak asuh ibunya. Intisari kisah ini dikutip dari tulisan Rizwan Assalafy dengan judul; kakak beradik ini berebut hak asuh ibu hingga ke pengadilan (www.kaskus.co.id)
Kisah ini sangat langka, karena berebut hak asuh seorang ibu, bukan berebut harta warisan. Yang direbutkan adalah pintu surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW; “Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini sebagai penegasan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua, dan bahaya mendurhakainya. Ada dua pilihan; berbakti, akan masuk surga dari pintu terbaik, atau menyia-nyiakannya (durhaka). Berbakti merupakan kewajiban untuk menaatinya, selama tidak melenceng dari syari’at Islam, dan diharamkan mendurhakainya.
Selagi orang tua masih hidup, senantiasa dimanfaatkan untuk berbakti kepada keduanya, terlebih kepada ibu. Perjuangan ibu amat berat, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusukan dan membesarkan anak-anaknya. Semua dilakukan dengan ikhlas, tidak pernah mengeluh, tidak kenal lelah bahkan rela mengorbankan nyawanya.
Meskipun penekanannya kepada ibu, peran ayah pun dalam keluarga tidak kalah beratnya dengan ibu, diantaranya, sebagai pemimpin keluarga, pencari nafkah, pendidik dan sebagainya. Oleh karena itu, Ustadz Hannan Attaki mengatakan bahwa; ibu adalah pintu surga dan ayah adalah kuncinya. Jelaslah, pintu tanpa kunci tidak akan bermanfaat. Sebab, keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan..
Berbakti kepada orang tua dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti menghormatinya, memuliakannya, berkata lemah lembut atau mewujudkan cita-citanya. Kemudian tidak boleh menghardik, mencaci, memukul apalagi membunuhnya. Sebab, Rasullah SAW bersabda; “Rida Allah itu tergantung rida kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi).
Untuk mendapatkan rida Allah tidak terlepas dari rida orang tua. Pintu surga terbaik dan kuncinya hanya diperoleh melalui berbakti, dan mendoakannya jika telah meninggal dunia.
Wallahu a’lam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
