Sikap yang Tepat terhadap Orang Shalih
Agama | 2023-11-09 14:53:01
Dalam Islam, ada tiga sikap manusia terhadap orang shalih. Pertama, sikap berlebih-lebihan. Kedua, sikap lancang. Ketiga, sikap pertengahan.
Sikap Berlebih-lebihan
Orang yang berlebih-lebihan dalam sikapnya terhadap orang shalih adalah orang yang mengangkat kedudukan orang shalih di atas kedudukan mereka sebagai manusia. Mereka menganggap orang shalih sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Mereka bahkan sampai mengagungkan kubur orang shalih, dengan berdoa padanya, menyembelih untuknya, dan bahkan meyakini bahwa orang shalih bisa mengabulkan permintaan, bisa memberi anak, bisa mengatur alur kejadian.
Sikap berlebih-lebihan ini adalah syirik besar. Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Dalam hal ini, orang yang berlebih-lebihan telah menyekutukan Allah dengan orang shalih. Mereka menganggap orang shalih sebagai makhluk yang memiliki kekuatan untuk mengabulkan permintaan, memberi anak, dan mengatur alur kejadian. Padahal, semua itu hanyalah kuasa Allah semata.
Sikap Lancang
Di sisi lain, ada juga orang yang bersikap lancang terhadap orang shalih. Mereka caci orang shalih, tidak mengakui keutamaan mereka, dan bahkan tidak mencintai mereka.
Sikap lancang ini juga tidak dibenarkan dalam Islam. Orang shalih adalah orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah. Mereka telah melakukan banyak kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus menghormati dan mencintai mereka.
Sikap Pertengahan
Sikap yang tepat terhadap orang shalih adalah sikap pertengahan. Kita harus meneladani orang shalih dalam ucapan dan amalan baik mereka. Kita harus mencintai mereka, menghormati mereka, namun tidak melebihkan kedudukan mereka sebagai manusia.
Sikap pertengahan ini didasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang beriman mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang telah dituliskan (namanya) di dalam Taurat dan Injil yang telah ada (disebutkan) di sisi mereka, yang menyuruh mereka kepada yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang munkar dan menghalalkan bagi mereka apa yang baik dan mengharamkan bagi mereka apa yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang telah diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raf: 157)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman harus mengikuti Rasul. Rasul adalah orang yang paling shalih di antara manusia. Oleh karena itu, kita harus meneladani Rasul dalam ucapan dan amalan baik mereka.
Sikap pertengahan juga didasarkan pada hadis Nabi Muhammad :
"Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam memuji orang shalih. Kita hanya boleh memuji mereka sesuai dengan kenyataannya.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap yang tepat terhadap orang shalih adalah sikap pertengahan. Kita harus meneladani mereka dalam ucapan dan amalan baik mereka. Kita harus mencintai mereka, menghormati mereka, namun tidak melebihkan kedudukan mereka sebagai manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
