Menelisik Sejarah dan Tujuan Penyebaran Hoaks
Politik | 2023-10-29 20:56:10
Penulis adalah Kornas Peta Indonesia dan Wakil Ketua Umum DPP Pencinta Tanah Air Indonesia
Sejarah hoaks telah muncul sejak abad 18. Hoaks memiliki kaitan langsung pada kata hocus yang artinya menipu. Sejak awal, kata hoaks mengatribusi pada arti negative yakni membuat orang tertipu oleh satu hal. Hoaks hadir seiring dengan berkembangnya budaya oral manusia yang terkait dengan legenda urban dan rumor atau gossip. Budaya oral menjadi sumber informasi yang berasal dari percakapan mulut ke mulut. Meski demikian tidak semua legenda urban masuk kategori hoaks.
Jam Brunvard menyebutkan bahwa hoaks tidak spesifik merujuk pada kegiatan penipuan di balik informasi palsu dengan tujuan memanipulasi orang lain. Karena dongeng seperti yang ada pada lelucon April’s Fools, pseudoscience atau kisah legenda lain tidak masuk pada kategori hoaks.
Diproduksi Seiring Perkembangan Teknologi
Adapun sejarah hate speech sendiri, tiga politisi Amerika yakni John Conyer, Barbara Connelly dan Mario Biaggi mempopulerkan istilah hate speech sehingga dikenal luas seluruh dunia (Simanjuntak dalam Susianah, 2021). Kata hate speech di Indonesia merupakan istilah baru meski dalam prakteknya telah lama terjadi. Genosida tejadi di Indonesia akibat kebencian telah menimpa etnis Cina, pengikut Jamaah Ahmadiyah Indonesia, perlakuan diskriminasi kepada anggota masyarakat yang dianggap mantan anggota PKI dan sebagainya (Gerstenfeld, Phyllis B. 2004).
Apa yang ada dalam novel distopia Brave New World karya Aldous Huxley menjadi kenyataan bahwa perkembangan informasi yang terus direproduksi berbanding lurus dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Internet sebagai produk budaya, saat informasi menyebar di ruang publik membuat masyarakat sulit membedakan antara apa yang sesuai atau tidak sesuai dengan budaya masyarakat.
Publik sulit membedakan antara informasi yang benar dengan hoaks. Penyebaran hoaks menyerang tidak hanya sisi pribadi seseorang, namun juga pada kelembagaan, kesehatan, sosial ekonomi dan politik. Inilah yang disebut oleh RedState sebagai era Brave New World of Fake News. Di Indonesia sendiri hoaks diproduksi secara massif pada tahun-tahun Pemilu seperti saat ini.
Tujuan Penyebaran Hoaks
Hal yang membedakan antara hoaks dengan informasi lain yang tak terbukti keberannya terletak pada tujuan dan dampak dari penyebaran masing-masing informasi tersebut. Seperti misalnya legenda binatang menempati posisi sebagai hasil kebudayaan untuk mengajarkan tentang hikmah dan budi pekerti kepada anak-anak. Begitupun dengan cerita April’s Fools merupakan kebudayaan dari tradisi humor untuk menciptakan harmoni di masyarakat.
Adapun pseudo-science seringkali dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu hal yang merupakan seolah-olah bersifat ilmiah. Ketiga hal ini tidak masuk kategori hoaks karena tujuan penyebarannya tidak memiliki dampak buruk pada kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Dalam sejarah, kemunculan dan penyebaran informasi hoaks memiliki tujuan untuk memanipulasi orang lain dari informasi yang tidak absah. Pada zaman Romawi Kuno ada penyebaran hoaks tentang kematian Napoleon I dari Perancis. Akibat buruk dari penyebaran hoaks tersebut adalah terjadinya pergolakan pada London Stock Exchange di mana sector perekonomian terdampak dimanfaatkan oleh segelintir orang.
Sejarah mencatat, kasus hoaks ini popular dengan peristiwa Great Stock Exchange Fraud of 1814. Contoh lainnya di Benua Amerika abad 19 terdapat politisi bernama Phineas Taylor Barnum menyebarkan hoaks tentang Putri Duyung dari Fiji. Ia memanfaatkan hoaks tersebut untuk membuat bisnis pariwisata dan menarik keuntungan dari bisnis tersebut.
Dari kisah penyebaran hoaks oleh politisi Amerika tersebut di atas menurut Linda Walsh (2006) menunjukkan bahwa tidak ada pembeda yang jelas antara upaya menipu (fraud) dengan hoaks itu sendiri. Reproduksi hoaks dimana pelakunya mendapatkan keuntungan baik uang maupun popularitas menjadikan informasi hoaks dan faud sulit dibedakan dengan jelas.
Penipuan (fraud) masuk dalam klasifikasi hoaks mana kala terdapat upaya mendapatkan keuntungan berupa finansial dan dapat mengubah persepsi masyarakat. Ketika publik percaya informasi fraud dan tidak melakukan verifikasi kebenaran, maka pada saat tersebut informasi fraud telah menjelma menjadi hoaks karena berhasil memanipulasi orang lain. Hoaks dalam persepektif psikologis masuk tataran psyche individu, namun system kerjanya yang massif membuat hoaks bekerja dalam tataran sosial.
Pembeda antara hoaks dan fraud, serta distingsi hoaks dengan informasi tanpa sumber data yang jelas seperti yang ada pada legenda dan gossip terletak pada dampak buruk dari penyebaran masing-masing informasi tersebut. Hoaks biasanya tersebar secara luas karena masyarakat mempercayai informasi tersebut, yang juga didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap sumber informasi atau orang-orang yang turut menyebarkannya.
Hoaks yang pernah ada dalam sejarah dan membuat masyarakat bahkan pihak Pemerintah percaya adalah kisah “Jimmy’s World.” Artikel tersebut terbit tahun 1980, ada di halaman pertama Surat Kabar Washington Post Amerika Serikat. Sebagai media yang dikenal kredibel, dianggap tidak mungkin melakukan kesalahan dengan sengaja menyebarkan berita palsu. Publik bahkan Pemerintah setempat percaya dengan isi yang ada pada artikel berjudul Jimmy’s World. Artikel yang menuliskan tentang bocah bernama Jimmy pecandu Narkoba jenis heroin.
Tulisan tersebut berhasil menarik simpati dan empati warga Amerika dan dunia internasional. Artikel “Jimmy’s World” dan penulisnya Janet Cooke mendapat pujian dan sanjungan dunia internasional, menjadi sangat populer diperbincangkan oleh banyak orang. Pada tahun 1981, Janet Cooke penulis artikel memperoleh penghargaan Pulitzer, penghargaan bergengsi atas karya jurnalistik. Setelah penerimaan penganugerahan Pulitzer, belakangan terungkap informasi yang ada pada artikel “Jimmy’s World” adalah hoaks. Sosok Jimmy tak pernah ada beserta narasi yang ada didalamnya merupakan hasil fabrikasi penulis.
Janet Cooke sebagai penulis mengakui dan Washington Post menyatakan permintaan maaf atas keteledoran karena telah memberitakan dan menyebarkan hoaks. Selanjutnya sejarah mencatat, Janet Cooke sebagai wanita Afro-Amerika penerima Pulitzer pertama dicoret. Penghargaan Pulitzer di tahun tersebut dikembalikan dan dialihkan kepada penulis lain.
Di sini kita belajar bahwa penyebaran hoaks terbesar sepanjang sejarah tersebut terjadi tidak disebabkan karena ketidak percayaan masyarakat pada media. Skandal hoaks “Jimmy’s World” menyebar justru ketika Washington surat kabar Amerika Serikat memiliki kredibilitas tinggi di mata publik. Kepercayaan masyarakat yang tinggi membuat Pulitzer tidak melakukan verifikasi keabsahan informasi dalam artikel “Jimmy’s World”. Wallahu ‘alam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
