'Autoimun tidak Boleh Kena Sinar Matahari' Mitos atau Fakta?
Edukasi | 2023-10-05 18:39:39
Autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Pada orang normal, sistem kekebalan tubuh melindungi tubuh dari organisme asing, seperti bakteri atau virus, dan melepas antibodi untuk melawan dan mencegah penyakit. Namun, pada orang dengan penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh menganggap sel tubuh yang sehat sebagai zat asing. Akibatnya, antibodi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan akan menyerang sel-sel tubuh yang seharusnya sehat tersebut.
Penyakit lupus, yang secara resmi dikenal sebagai Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah salah satu jenis penyakit autoimun yang sering terjadi di masyarakat. Lupus mengakibatkan kerusakan dan peradangan pada berbagai bagian tubuh, termasuk sendi, kulit, ginjal, dan bahkan otak. Biasanya, penyakit lupus sulit didiagnosis karena memiliki tanda dan gejala yang hampir serupa dengan penyakit lainnya. Meskipun demikian, salah satu tanda paling menonjol dari lupus adalah munculnya ruam di wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu, yang biasanya terletak di antara dua pipi.
Tanda lain dari lupus adalah fotosensitivitas, yakni kondisi yang menyebabkan kepekaan yang tinggi terhadap sinar matahari dan lampu di ruang tertentu. Menurut World Health Organization, sekitar 40% hingga 70% dari penderita lupus mengalami reaksi paparan sinar ultraviolet (UV) atau pencahayaan buatan seperti neon dan halogen dapat memicu munculnya flare lupus, yang kemudian mengakibatkan timbulnya ruam, lesi, serta gejala lainnya.
Ada banyak pantangan yang harus dihindari oleh seorang penderita autoimun, khususnya lupus. Salah satu mitos yang beredar di masyarakat adalah penderita autoimun tidak diperbolehkan terkena sinar matahari sama sekali karena akan menyebabkan lapisan kulitnya menipis. Bagaimana faktanya?
Sinar matahari dapat membahayakan penderita autoimun?
Ternyata, anggapan bahwa penderita autoimun tidak diperbolehkan terkena sinar matahari sama sekali adalah mitos belaka.
Fakta sebenarnya, penyakit autoimun tetap memerlukan asupan vitamin D yang bisa didapatkan dari sinar matahari. Vitamin D memiliki peran penting dalam mengatur sistem kekebalan tubuh dan dapat membantu dalam pencegahan penyakit tersebut. Waktu yang paling baik bagi mereka untuk berjemur adalah antara jam 6 hingga 9 pagi. Selain itu, disarankan untuk tidak berjemur terlalu lama, dengan 10-20 menit sudah cukup.
Manfaat dari vitamin D yaitu menjaga kesehatan tulang dan sendi serta memiliki peran dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Penderita autoimun, terutama lupus sangat penting bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan harian akan vitamin D karena jika kekurangan vitamin D dapat mengalami aktivitas penyakit yang lebih tinggi. Meskipun vitamin D dapat diperoleh melalui suplemen, para ahli medis lebih menyarankan untuk mendapatkan vitamin D dari sumber alami, seperti berjemur setiap pagi.
Jadi, apakah sinar matahari aman untuk pasien autoimun?
Berangkat dari fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa pasien autoimun juga membutuhkan sinar matahari untuk kesehatan tulang dan sendinya.
Selain itu, waktu yang dianjurkan untuk berjemur juga tidak terlalu lama. Oleh karena itu, berjemur di bawah sinar matahari pagi dianggap sebagai tindakan yang cukup aman untuk pasien autoimun. Dalam hal ini, disarankan penggunaan sunscreen atau tabir surya untuk melindungi kulit dari paparan langsung sinar matahari.
Vitamin D yang dihasilkan sinar matahari mampu meningkatkan sistem imun dan mencegah berbagai infeksi pada tubuh. Bagi individu yang menderita penyakit autoimun, disarankan untuk berjemur untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Dengan kata lain, vitamin D membantu dalam mengaktifkan sistem kekebalan tubuh yang melawan bakteri dan virus dalam tubuh seseorang.
Apa yang harus diperhatikan oleh seorang penderita autoimun?
- Pola makan
Menurut ahli medis, mengatakan bahwa penderita autoimun mengikuti pengaturan pola makan tertentu untuk mengurangi gejala mereka dan mengurangi kemungkinan peradangan. Pasien autoimun harus makan porsi kecil secara teratur. Makan makanan dalam jumlah besar dan tidak beraturan berdampak pada kondisi insulin mereka. Penderita autoimun yang memiliki kadar insulin tinggi akan mengalami peradangan dalam waktu dua sampai tiga jam.
Dalam konteks nutrisi, pasien autoimun sebaiknya memperoleh asupan kalori sesuai dengan kebutuhan energi mereka. Sangat penting untuk memperhatikan jumlah gula, lemak, dan bahan kimia seperti pengawet, pemanis, dan penambah rasa yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi. Kandungan ini dapat meningkatkan insulin dalam darah, yang dapat berpotensi menyebabkan inflamasi atau peradangan.
- Gaya hidup
Gaya hidup bagi individu yang mengidap penyakit autoimun memiliki peran yang sangat signifikan dalam manajemen kesehatan mereka. Melakukan latihan fisik secara teratur dapat meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan tingkat kebugaran. Namun, penting untuk memastikan bahwa tingkat intensitas latihan sesuai dengan kondisi kesehatan pribadi guna menghindari timbulnya flare-up atau gejala yang parah.
Untuk mendukung sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan, Anda perlu tidur yang cukup dan berkualitas. Selain itu, dukungan sosial juga menjadi faktor yang krusial, yang bisa ditemukan melalui komunitas atau kelompok yang memungkinkan berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional dari individu yang mengalami situasi serupa.
Hingga saat ini, belum ada penemuan pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit autoimun secara keseluruhan. Meskipun demikian, para pasien masih dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti individu yang sehat asalkan mereka secara teratur menjalani pengobatan dan perawatan yang sesuai. Dalam rangka mencapai tingkat kontrol yang optimal, pasien autoimun perlu menunjukkan komitmen dan tekad yang kuat.
Penyakit autoimun adalah kompleks, satu hal yang pasti, kita harus terus berusaha untuk meningkatkan pemahaman dan perawatannya guna memberikan dukungan yang lebih efektif kepada individu yang menghadapinya. Penyakit autoimun merupakan tantangan yang signifikan, namun dengan perkembangan terus-menerus dalam bidang penelitian dan meningkatnya kesadaran, ada harapan akan masa depan yang lebih positif dalam pengelolaan dan penanganannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
