Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohamad Fadhilah Zein

Kuliah di Luar Negeri, Bukan Sekedar Gengsi

Pendidikan dan Literasi | Saturday, 15 Jul 2023, 20:27 WIB
Direktur Eksekutif Center for Health and Education Studies (CHES), Kholis Abdurachim Audah, M.Sc, Ph.D. Foto: Pribadi

Peluang kuliah di luar negeri sangat besar, namun sayangnya banyak masyarakat yang kurang memahami prosedur melanjutkan studi ke sana. Kesan yang ada di tengah masyarakat, kuliah di luar negeri adalah mahal. Kalaupun ada beasiswa maka prosesnya rumit. Apakah hal ini benar adanya? Saya mewawancarai Direktur Eksekutif Center for Health and Education Studies (CHES), Kholis Abdurachim Audah, M.Sc, Ph.D. Sebagai diaspora yang telah malang melintang menimba ilmu di berbagai universitas terkemuka di dunia, Kholis mendorong masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Konsern keilmuannya adalah Biomedical Engineering dan Biologi Molekuler.

Bagaimana sebenarnya pendidikan di luar negeri bagi masyarakat Indonesia? Apakah pendidikan di luar begitu memikat untuk rakyat Indonesia?

Terimakasih untuk pertanyaannya. Intinya begini, semakin anak-anak kita terekspos dengan dunia luar, khususnya pendidikan sains dan teknologi, saya yakin masyarakat akan sangat tertarik dengan karir atau pendidikan di luar negeri. Kita tahu bahwa sains dan teknologi di luar negeri sangat maju dan kita tertinggal jauh. Kalau saya boleh berkomentar, Indonesia at least tertinggal satu atau dua dekade dalam sains dan teknologi. Ini saya rasakan sendiri. Ketika saya pertama kali ke luar negeri pada 1997 sampai sekarang tidak banyak yang berubah di Indonesia. Nah, kalau realita ini dipahami oleh masyarakat kita yang memiliki passion dengan penelitian dan riset, maka mereka pasti akan tertarik untuk kuliah di luar negeri.

Pengalaman Anda seperti apa?

Pengalaman saya yang mana saya di bidang biologi molekuler, ketika ingin membuat primer (untaian DNA genetik ) seperti PCR, kalau di negara maju hari ini mendesain lalu mensubmit susunan DNA, besok pagi atau siang hasilnya sudah ada di meja kita. Beda dengan di sini, paling tidak kita butuh dua minggu untuk memesan bahan yang sederhana itu saja. Belum lagi kita bicara bahan-bahan yang sangat sensitif dan mahal sekali. Saya punya pengalaman pahit ketika bimbingan mahasiswa. Ketika saya harus memesan bahan yang harganya luar biasa mahal. Jumlah yang saya beli 10 mg, kalau saya beli di Malaysia harganya Rp3 juta, tapi di sini Rp6 juta. Bukan hanya itu, kalau di luar bisa cepat datangnya karena itu saya alami sendiri. Ketika saya pesan ke Indonesia, lebih dari satu tahun bahan yang saya pesan tidak datang. Sampai mahasiswa saya lulus, barang yang dipesan baru datang. Pertanyaan Anda ini lebih pas kalau diawali dengan kenyataan anak-anak kita terekspos dengan pendidikan luar negeri. Artinya mereka harus punya passion pendidikan yang kuat.

Apakah menurut Anda pendidikan di Indonesia buruk?

Saya tidak mengatakan pendidikan di Indonesia sama sekali buruk. Tidak demikian. Khususnya dari segi kualitas pendidikan ya. Katakan, kuliah S1 di Indonesia jauh lebih berat dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Dari jumlah pelajarannya. Di sini sudah berapa belas pelajaran. Di sana jumlah pelajaran hanya tujuh, dari SD sampai level SMA hanya itu-itu saja, sains dan matematika. Di sini semua dipelajari. Segala macam ada di sini. Sayangnya, semakin tinggi pendidikan, kualitasnya semakin berkurang. Dalam artian begini, kalau S1 di Indonesia berat ya minimal 144 sks. Kalau dibandingkan dengan Malaysia saja, jauh lebih mudah S2. Di luar negeri, namanya S1 paling 120 sks. Istri saya mengalami sendiri. Dia alumni diploma di Indonesia, tapi di Malaysia langsung diterima S2 karena dinilai sudah mencukupi di sana. Kalau kita bicara pendidikan dari SD sampai S1, yang dibicarakan adalah teori, masalah transfer knowledge, tapi ketika jenjang S2 dan S3 yang dibicarakan sudah level penelitian bukan lagi hanya transfer ilmu. Justru di diri mahasiswa sendiri yang harus sadar pentingnya penelitian melalui studying independent.

Menurut Anda jumlah siswa Indonesia yang kuliah di luar negeri cukup banyak ya?

Cukup banyak juga. Kita bisa cari datanya, untuk tahun ini saja LDPD ada ribuan orang Indonesia yang kuliah di luar. Datanya bisa dicari dengan mudah, ada yang ke Amerika, Eropa dan kemana-mana. Itu yang beasiswa. Selain beasiswa pun banyak juga siswa yang sekolah di luar negeri. Yang beasiswa itu biasanya yang S2 dan S3, yang S1 jarang beasiswa dari Pemerintah. Anak saya kuliah di Inggris mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia tapi hanya untuk biaya hidup saja, untuk biaya kuliahnya bayar sendiri. Di Eropa kuliah bisa lebih cepat, jadi ini bisa dimainkan juga di Indonesia. Kalau kuliah di Indonesia sampai empat tahun, di Eropa cukup 3 tahun untuk S1 dan juga dari segi beban, perkuliahan juga tidak berat. Metode kuliah mereka berbeda dari kita. Lebih banyak studying independent, menulis tugas-tugas kemudian eksposure keilmuan. Nah, eksposure keilmuan ini tidak mungkin didapat mahasiswa kalau dosen-dosen mengajar berdasarkan buku saja. Di sini kelemahan kita.

Bagaimana menurut Anda dosen di luar negeri?

Dosen di luar negeri itu wajib melakukan penelitian. Itu yang membedakan. Tidak ada ceritanya dosen itu passionnya mengajar saja. Dosen itu seharusnya passionnya selain mengajar ya penelitian dan pengabdian. Tidak ada cerita di luar negeri dosen tidak melakukan penelitian. Nah, ini yang membedakan kita dengan di luar dan membuat negara kita sulit maju. Tingkat penelitian kita sangat minim. Dilihat dari berbagai sisi, tingkat penelitian kita memprihatinkan. Dari sisi dana, jumlah anggaran penelitian di Amerika Serikat sangat fantastis. Saya pernah menulis artikel tahun 2012-2013 tentang perbandingan dana penelitian Amerika Serikat dan Indonesia. Saya pernah tinggal di Amerika cukup lama. Angka penelitian kita hanya 0,4 sampai 0,5 persen dibandingkan jumlah dana penelitian Amerika Serikat. Kalau misalkan secara keseluruhan, dana penelitian kita berkisar 20 triliun per tahun se-Indonesia. Itu sangat sedikit jika dibandingkan Amerika. Contohnya, penelitian yang dilakukan NIH (National Institute of Health) ini lembaga yang menangani penelitian di bidang kesehatan memiliki anggaran hampir 40-50 milliar Dolar setahun. Kira-kira 700 triliun ya. Belum lagi kalau bicara defense (pertahanan), itu jauh lebih besar lagi dana penelitiannya bisa sampai seribu triliun. Ada juga NSF (National Science Foundation) yang memiliki anggaran sendiri di bidang penelitian. Meski tidak sebesar defense dan health, tapi kisarannya tetap ratusan miliar per tahun. Di kita yang satu negara ini, anggaran penelitiannya hanya 20 triliun untuk semua bidang. Kemendikbud sendiri anggarannya tidak besar. Sekarang BRIN juga punya anggaran paling tidak seberapa. Dari segi jumlah penduduk, Indonesia sebenarnya hampir sama dengan Amerika. Kalau di Indonesia jumlah penduduk 280 juta, di Amerika 300 juta. Kan sama saja.

Menurut Anda penelitian di Indonesia di bawah BRIN bagaimana?

Saya tidak antiBRIN. Sekarang badan-badan penelitian dilebur ya. Namun, seharusnya tidak demikian. Dalam pemahaman saya, BRIN itu seharusnya dalam ranah regulasi, pengawas. Tidak harus masuk ke ranah praktis atau operasional. Biarin saja badan-badan penelitian yang sudah ada berjalan seperti biasa. Toh, sebelum BRIN ada DRN (Dewan Riset Nasional). Bagusnya BRIN seperti DRN dulu yang mengatur kebijakan, mengusulkan dana riset ke Pemerintah. Mengawasi jalannya penelitian. Tapi, ya sudah lah. Beda dengan Amerika yang masing-masing punya badan penelitian dan mereka fokus di bidangnya.

Anda punya saran kepada masyarakat yang ingin menyekolahkan anak-anak keluar negeri seperti apa?

Masyarakat bisa mengawali ke kampus-kampus yang memiliki program double degree atau joint degree. Bisa masuk ke kampus yang ada di Indonesia dulu, misalkan tahun ke-3 atau ke-4 baru bisa ke luar negeri. Dari sisi biaya bisa ditekan. Selain itu, eksposure belajar di luar negeri lebih membuka cakrawala berpikir anak-anak kita. Cakrawala yang membuka bahwa ada peradaban yang lebih maju dibanding kita. Kenapa mereka maju, karena didukung sistem pendidikan yang lebih establish dan mapan. Semua dikembalikan kepada masyarakat itu sendiri, ingin membentuk seperti apa anak-anak mereka.

Berapa banyak jumlah kampus yang menyelenggarakan program double degree?

Kalau dikatakan banyak mungkin tidak, tapi ada kampus-kampus swasta atau negeri yang memiliki program ini. Kampus harus menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di luar negeri. Masyarakat ingin menuju ke negara mana, kampus yang menjadi jembatan.

Dari sisi kampus seperti apa?

Ya, kampus harus membuka diri bahwa program double degree ini program bagus. Kampus harus membuka diri dan melihatnya sebagai hal yang bagus. Kampus memuat tim semacam divisi atau departemen atau direktorat yang mengurus program kerja sama ini. Kampus mensetting program studinya sebagai program internasional. Baru nanti dicari partner-partner dari negara mana yang potensial dan banyak peminatnya. Contohnya, anak-anak muda kita itu sangat berminat dengan Korea Selatan. Ini efek dari Korea Wave. Ini salah satu cara untuk menentukan potensi program studi yang besar peminatnya. Atau negara-negara lain, ya silakan dipelajari oleh pihak kampus.

Apa saja keuntungan bagi kampus dengan adanya program internasional?

Tentunya banyak ya. Kampus menjadi jembatan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Lalu, kampus memiliki recognition yang baik, nama yang bagus, untuk melakukan kerjasama internasional. Dengan adanya mitra-mitra, kampus banyak melakukan kolaborasi, karena ini penting untuk akreditasi universitas. Kolaborasi internasional itu poinnya besar bagi akreditasi kampus. Jadi, mau publikasi jurnal atau akreditas perguruan tinggi kemudian mau mendapatkan sertifikat apa lah ISO berapa, meningkatkan peringkat kampus, kerja sama internasional ini menjadi strategis. Dengan adanya sertifikat dunia, ini diburu oleh kampus. Dan ini banyak disyaratkan di dalamnya adalah kerja sama luar negeri. Baik dari sisi pertukaran pelajar, pertukaran dosen atau penelitian bersama. Ini dinilai oleh lembaga akreditasi.

Untuk masyarakat yang tidak mampu, apa yang bisa dilakukan kampus?

Saya sebenarnya salut dengan apa yang dilakukan Unpam (Universitas Pamulang). Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Unpam ya. Bagi saya, almarhum Pak Darsono (pendiri Unpam) layak mendapatkan penghargaan nobel. Kenapa? Karena dia berhasil merevolusi pendidikan. Orang lain mungkin melihat kuliah di Unpam hanya yang penting kuliah dan dapat gelar, tapi kualitasnya rendah. Bagi saya tidak begitu. Jumlah mahasiswa di Unpam itu mencapai 100 ribu. Bayangkan kalau 0,01 persen saja mahasiwa yang unggul dan punya kualitas tapi dari kalangan tidak mampu, ini yang bisa diangkat ke atas. Dikasih beasiswa. Mereka punya modal, punya kualitas dan berprestasi. Tapi dengan biaya kuliah yang sangat terjangkau. 100 mahasiswa dari 100 ribu sudah cukup untuk mengangkat derajat perguruan tinggi. Setiap kampus harusnya punya program seperti ini. Mencari bakat-bakat potensial di Indonesia yang sebenarnya banyak. Saya yakin ada bakat-bakat yang punya konsern di bidang penelitian, sains dan teknologi. Mereka harusnya diberikan beasiswa dari Pemda untuk biaya hidup saja. Di beberapa negara Eropa kan banyak kuliah yang sebenarnya gratis, jadi beasiswa hanya untuk biaya hidup. (*)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image