Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Risna Afrianis

Perbedaan Peran Masjid Masa Rasulullah Hingga Sekarang

Agama | 2023-06-18 09:20:34

Seperti yang kita ketahui bahwa masjid sudah berperan besar sejak zaman Rasulullah SAW yakni sebagai pusat ibadah,pusat pendidikan dan pengajaran,penyelesaian problematika umat dalam aspek hukum,dan juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui Baitul Mal.

Bisa kita lihat ketika Nabi SAW hijrah ke kota Yatsrib (sekarang Madinah),hal pertama yang dilakukan dengan para sahabat adalah membangun sebuah masjid di tengah kota dan diberi nama Masjid Quba’. Masjid yang dibangun pada tanggal 8 Rabiul Awwal ini memiliki sejarah yang amat penting. Bahkan Rasulullah SAW meriwayatakan bahwa “Apabila seorang Muslim mengunjungi Masjdi Quba untuk melakukan shalat maka pahala yang didapatkan sama dengan melakukan umrah”. Tentu pemilihan tempat di tengah kota ini bukan tanpa alasan,ini menggambarkan bahwa masjid adalah jantung,simbol persatuan dan aktivitas umat Islam yang senantiasa bersatu dan bersaudara. Penempatan masjid di tengah kota juga bermakna simbolik agar senantiasa sujud,apapun aktivitasnya selalu ingat terhadap Sang Pencipta. Sehingga pada masa Rasulullah SAW,Yatsrib merupakan kota yang tertata, maju, dan modern kala itu.

Sejarawan asal Palestina menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya masjid dan pendidikan adalah dua hal yan tidak bisa dipisahkan. Bisa dilihat dari kebiasaan Rasulullah yang bercengkrama dengan para sahabat di Masjid Nabawi membahas tentang hal dunia maupun keagamaan .Masjid adalah pusat intelektualitas. Sekolah masjid di era kejayaan islam mampu menampung ratusan bahkan ribuan murid. Bahkan di era kekhalifahan masjid sudah dilengkapi juga dengan perpustakaan. Koleksi bukunya melimpah karena banyak ilmuwan dan ulama hebat yang mewakafkan bukunya ke masjid. Pada masa keemasan tersebut pula anak – anak usia lima tahun diajari menulis mulai dari 99 asmaul husna sampai baca tulis al-qur’an. Setelah mahir membaca dan menulis anak - anak diajari berhitung dan aritmatika. Di masjid tersebutlah mereka mempelajari tata Bahasa Arab, aljabar,biologi,sejarah,hukum,teologi,dsb.

Untuk mempraktikkannya banyak yang kemudian mendalaminya di rumah sakit, observatorium,dll. Anak – anak dan pemuda begitu haus akan ilmu. Pembelajarannya yang sangat khas dengan membentuk halaqah atau lingkaran – lingkaran. Untuk murid yang sudah cukup berkompeten,sesekali ia diberi kesempatan mengajar. Proses belajar dan mengajar benar–benar adalah suatu hal yang membanggakan. Sejarah mencatat dari aktivitas keilmuan yang bermula dari halaqah masjid telahirkan perguruan tinggi atau universitas,misalnya Universitas Al-Azhar,Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko,Universitas Al-Qayrawwan di Tunisia, dan masih banyak lagi. Saking jayanya pendidikan Islam pada masa itu banyak orang Eropa yang belajar kepada orang muslim untuk akhirnya disebarkan di gereja – gereja Eropa. Menurut George Makdisi,guru besar studi Islam di Universitas Pennyslvania “Islam juga memberi pengaruh terhadap Barat dalam penyelenggaraan pendidikan universitas yakni dalam kebebasan akademik, professor,dan mahasisw dalam tesis doctoral serta lainnya”.

Padahal jika kita menilik balik peran masjid pada masa Rasulullah masjid digunakan sebagai tempat untuk bermusyawarah dalam memecahkan suatu masalah sehingga persatuan ummat Islam semakin kuat. Tak mau kalah,pada masa kolonial masjid juga digunakan sebagai tempat penyusunan strategi atau tak tik perang. Selain itu, secara makro masjid berfungsi sebagai tempat pendidikan, dakwah,kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Keberhasilan inti dari segala peran tersebut adalah sebagai tempat menegakkan shalat berjamaah. Karena ini adalah wadah syi’ar Islam terbesar,wadah penguat dan pemersatu umat Islam. Mengapa dikatakan sebagai sebagai penguat dan pemersatu umat Islam? Bisa kita lihat dari tradisi sehari – hari yang dilakukan di masjid setelah sholat antara jama’ah satu dan yang lainnya akan saling bersalaman. Meski terlihat sepele dan sederhana,namun secara psikis akan memberikan ikatan tersendiri sebagai sesama ummat muslim. Rasa keakraban akan terbentuk dengan shalat berjamaah di masjid.

Dari segi arsitektur masjid yang khas pun memiliki arti yang begitu filosofis. Sebagai contoh, masjid yang bersusun tiga pada atapnya menggambarkan ulama, umara, dan umat. Sementara itu puncak tertinggi dari masjid dengan ujung runcing di atas kubah besar bermakna ketauhidan. Beberapa bangunan di dunia juga terinspirasi dengan gaya ini seperti,istanan Baghdad,Istana Granada,dan juga istana India. Memahami hakikat ini banyak orang berlomba - lomba dalam membangun masjid yang begitu indah dan megah demi menjaga kenyamanan para jama’ahnya. Namun nyatanya,masjid yang mewah di zaman modern bukan tanpa tantangan. Di zaman kontemporer ini, umat Islam telah mengalami arus balik peradaban dengan mendasarkan pandangan secara rasional dan material.

Jurgan Habernas memandang bahwa kebudayaan masa modern ini berdampak pada hilangnya pesona religious yang dulu begitu lekat dengan masjid. Dengan pola pikir masyarakat yang rasional,mereka menganggap bahwa beribadah tidak bisa menjawab kebutuhan materi yang dibutuhkan. Berdoa adalah suatu hal yang tidak realistis untuk mewujudkan apa yang kita pinta. Akhirnya masjid hanya ramai pada waktu -waktu tertentu saja seperti shalat Jum’at dan juga hari raya sebagai bentuk ‘turut beragama’. Dengan tumbuhnya paham individualis yang ada maka anggapan baru bahwa bersalaman hanya untuk yang saling mengenal pun bertebaran. Padahal sesama ummat muslim adalah saudara.

Dengan pemahaman baru ini membuat kebanggan kita terhadapa peran masjid dalam peradaban semakin luntur. Pendidikan di masjid terlihat kering, jarang terlihat musyawarah atau diskusi,apalagi shalat berjama’ah. Padahal sebegitu hebatnya pengaruh masjid di era keemasannya. Maka dari itu sebagai asset yang begitu berharga mari kita makmurkan lagi keharumannya seperti dengan melakukan shalat jama’ah dan juga kegiatan sosial lainnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image