Kewajiban seorang Muslim dalam memakmurkan Masjid

Image
Mas Andre Hariyanto
Agama | Friday, 24 Dec 2021, 22:25 WIB
Foto: Mas Andre Hariyanto bersama para santri dan Mahasiswa di Pondok Pesantren Batam Kepulauan Riau/AR CoGan

SETIAP Muslim laki-laki wajib memakmurkan masjid-masjid Allah dengan berbagai ibadah dan ketaatan karena padanya ada keutamaan. Karena begitu mulianya amalan memuliakan masjid, Allah Ta’ala sampai menyifati orang – orang yang memakmurkan masjid – masjid-nya sebagai orang – orang mukmin.

Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan, termasuk golongan orang – orang yang mendapat petunjuk,” (At-Taubah: 18)


Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya serta yang lainnya).


Mari kita mencintai masjid, memakmurkannya dan menjadikannya sebagai sarana untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Seseorang yang mencintai sesuatu pasti hatinya akan selalu terpaut pada hal tersebut. Begitu pula kecintaan terhadap masjid. Beginilah sejatinya cinta yang hakiki.


“Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya,” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dicari pemuda Masjid
Masjid merupakan salah satu sarana pembinaan umat yang mendapat perhatian begitu besar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ketika Rasul hijrah dan sampai di Madinah, bangunan pertama yang didirikan adalah masjid yang kemudian dinamai masjid Nabawi.


Oleh karena itu, kita sebagai anak-anak muda Muslim semestinya memiliki perhatian dan kecintaan yang besar terhadap masjid. Kecintaan yang besar kepada masjid akan membuat kita memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap pemakmurannya.


Memakmurkan masjid bukan semata tugas si penjaga masjid. Pemuda Muslim pun wajib ambil bagian. Namun, sedih sekali ketika mengetahui masjid yang jumlahnya banyak, namun minim jamaah.
Sedih sekali hati kita ketika mengetahui masjid hanya diisi oleh segerombolan kakek sepuh yang cukup usia. Suara azannya jauh dari kata merdu.


Hanya segelintir pemuda yang terlihat memadati pojokan masjid ataupun mushalla. Kemana para pemuda-pemudi dan muslim lainnya? Kita semakin sadar, jarang sekali terdengar suara azan yang tangkas, cadas, dan tegas yang dilafazkan anak-anak muda.


Ironis, ketika penulis pernah mendengar cerita dari kakek sepuh sekaligus takmir disebuah mushalla.
“Di Mushalla ini Kakek yang adzan, kakek yang iqamat, kakek yang imam, sekaligus makmum”. Kakek itu tetap sendirian. Kata-katanya mengisyaratkan kesedihan.
Sungguh fenomena tersebut benar-benar ada. Banyak kita dapati masjid atau mushalla khususnya di tengah kota. Namun sepi dikala waktu shalat 5 waktu. Dimana diri kita saat adzan berkumandang, padahal panggilan cinta Allah memanggil kita?.
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya,” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah).
Tidak terpungkiri tidak sedikit masyarakat muslim lebih senang nongkrong di warung kopi ataupun café-cafe ketika waktu shalat tiba. Kumandang azan sama sekali tak dipedulikannya.


Ada juga yang ramai menggelar nobar (nonton bareng) sepakbola di malam hari dengan niatan silaturahim. Namun berbalik sedih jika aktivitas tersebut mengakibatkan lalai di waktu subuh.
Nun di sini, masjid-masjid masih terlihat sepi. Kumdangan azan terabai. Kemana sekelompok generasi muda dan pemegang kejayaan Islam?.
Rela menempuh jarak jauh tuk sekadar cari hiburan dan seru-seruan. Namun letoy melangkah hanya sekian meter ‘tuk penuhi seruan adzan. Beginikah tren pemuda kekinian? Naudzubillah min dzaalik. */Mas Andre Hariyanto

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Bismillahirrahmanirrahim..Haloo Sobat Literasi,Perkenalkan saya Mas Andre Hariyanto atau akrab disapa di sosial media @arcogan.Seorang Penulis

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Fakta sebelum MotoGP 2022 Italia: Daftar pemenang di sirkuit Mugello, ada nama Marquez dan Quarararo

Image

Hanya 1 Jutaan, Harga Nokia 3310 5G Terbaru Mei, 2022

Image

Doa dan Motivasi Jelang ASPD SDN Lempuyangan 1 Yogyakarta

Image

Download Lagu dari YouTube ke MP3 di YTMP3 Mudah dan Cepat

Image

Jadwal Tayang Pertandingan Motogp Italia 2022 Live Trans7: Quartararo Akan Beri Kejutan Di Mugello

Image

Halal Bihalal Royal Riders Indonesia 2022: Lebih dari Sekadar Kekeluargaan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image