Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ratih Safitri

Pentingnya Meluruskan Niat pada Jamaah Haji dan Umrah

Agama | 2023-05-18 11:17:17
sumber : @suarapemerintah.id

Niat berasal dari bahasa Arab نية (niyyat) yang artinya keinginan yang muncul dari dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Niat akan lebih kuat apabila ditunaikan tiga aspek sekaligus, yakni diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan dan diamalkan dalam perbuatan. Contohnya, saya berniat untuk salat, hatinya berniat untuk salat, lisannya mengucapkan niat untuk salat dan tubuhnya melakukan amal salat. Demiikian pula apabila kita mengimani segala sesuatu itu haruslah dengan hati yang yakin, ucapan dan tindakan yang selaras.

Nah, Kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji dan umrah sama dengan hal itu!

Petugas haji (TPHI) harus senantiasa mengingatkan jamaahnya supaya menata hati, memantapkan sekaligus meluruskan niat ibadah haji hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga seluruh persiapan, biaya, tenaga, dan waktu untuk beribadah bisa dimanfaatkan sebaik mungkin yang pada akhirnya bisa menjadikannya haji mabrur.

Sobat readers sudah tau belum sih, Apa itu Haji Mabrur ?

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, kemudian berdampak pada kebaikan diri, serta bermanfaat bagi orang lain.

Artinya, orang yang melaksanakan ibadah haji dengan niat yang khusyu' semata-mata karena mengharapkan ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka ibadah hajinya tersebut bisa dikatakan sebagai haji mabrur, yakni sebaik-baiknya haji yang diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, salah satu syarat untuk meraih haji mabrur adalah dengan meluruskan niat selama melaksanakan ibadah haji. Niat menjadi hal yang paling penting dalam setiap ibadah, baik shalat, puasa, umrah, hingga ibadah haji. Niat juga menjadi pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnya.

Ibadah haji sesungguhnya sama dengan kematian. Sebab, hakikatnya, berhaji adalah memenuhi undangan Allah SWT. Itulah sebabnya, berhaji berarti menjadi tamu Allah, sedangkan tuan rumahnya adalah Allahu Rabbul `Alamin.

Bedanya dengan kematian, orang yang mati tidak bisa kembali berkumpul dengan keluarganya di dunia, sedangkan seseorang yang berhaji masih memungkinkan pulang ke tanah air dan kembali berkumpul dengan sanak famili. Maknanya, berhaji berarti sama dengan mati, sama-sama menghadap kepada Allah. Demikianlah, jemaah haji tidak boleh terkecoh dengan berbagai macam varian berhaji. Misalnya, seseorang berhaji karena ingin mendapatkan tambahan gelar "H" atau "Hj." di depan namanya.

Sobat readers, Apakah bergelar "Haji" atau "Hajah" tidak boleh?

Boleh, orang yang telah menunaikan ibadah haji berhak menyandang gelar haji. Tetapi hakikat berhaji bukanlah itu. Gelar itu hanyalah sebagai upah tambahan, sedangkan hakikat berhaji adalah menghadiri undangan Allah. Itulah sebabnya, sepanjang perjalanan menuju kota suci Makkah, jemaah haji selalu melantunkan, "Labbaik... Allahumma labbaik... labbaikalaa syarika laka labbaik... innalhamda wani`mata laka walmulk, la syarika laka labbaaiiikkk...", Itu merupakan kalimat pernyataan kesanggupan seorang hamba untuk menghadap kepada Sang Penciptanya. Amatlah naif jika orang yang pergi ke Tanah Suci hanya untuk berbelanja. Sebab, hakikat berhaji bukanlah berbelanja dan berwisata.

Jalan terbaik dalam berhaji adalah mengembalikan haji kepada makna yang sejatinya, yaitu menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dapat dikatakan, berhaji sama dengan geladi bersih menghadapi Sang Maha Perkasa di akhirat kelak. Itulah sebabnya, pakaian yang dikenakan juga sama, hanya dua potong kain ihram tanpa dijahit, setara dengan kain kafan bagi orang yang meninggal dunia. Tak ada kemewahan yang harus diperlihatkan, tak ada wewangian yang harus ditebarkan. Allah bahkan bangga dengan hambanya yang berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian seadanya sembari menangis meminta ampunan atas semua dosa-dosanya. Maka, dari itu luruskan niat supaya menjadikannya sebagai haji mabrur, yakni sebaik-baiknya haji yang diterima oleh Allah Subhanu Wa Ta'ala bukan karena hal yang lain.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image