Makna dan Tujuan Politik Identitas
Rembuk | 2023-04-10 13:04:09Makna politik identitas berbeda dengan identitas politik dan yang lebih jauh makna politisasi agama. Kali ini kita akan membahas makna politik identitas saja. Makna identitas politik dan politisasi agama akan diturunkan pada tulisan kali yang lain, insya Allah.
Bisa jadi politik identitas ibarat dua mata pisau yang tajam. Keduanya dapat digunakan untuk hal yang positif ataupun negatif.
Banyak sekali makna politik identitas yang bertebaran di media sosial. Bila kita meneliti secara cermat makna-makna poiltik identitas yang tersebar di berbagai media sosial dapat diamati sebagai berikut.
1. Seorang calon pemimpin nasional dan daerah memilki kejelasan identitas dirinya diantaranya agama yang dianut, asal suku, pendidikan, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Hal ini juga berlaku bagi calon legislatif.
2. Setiap partai yang berlambang agama, atau yang lainnya. Misalnya Partai Persatuan Pembangunan berlambang Ka’bah bermakna sebagai partai Islam sebagai simbol persatuan umat. Partai Golongan Karya berlambang pohon beringin, dapat dimaknai rajin berkarya dan melindungi rakyat, Partai Demokrasi Perjuangan berlambang kepala banteng yang dapat dimaknai selalu gigih berjuang dan bijak dalam memimpin, dan sebagainya.
3. Calon pemimpin atau caleg, yang selalu berjubah dan bergaya muslim atau muslimah yang taat, sebagai daya tarik kepada masyarakat awam agar dapat dipilih. Padahal sebelumnya ia tidak terbiasa berbusana demikian.
4. Orang-orang yang membicarakan masalah politik dengan bertopi sinterklas, dalam rangka mendukung salah satu pemimpin atau calon pemimpin yang mereka dambakan.
5. Calon pemimpin atau Caleg rajin ke tempat-tempat ibadah atau majlis taklim dengan dengan bersedekah, dll.
6. Calon pemimpin atau Caleg yang rajin bersilaturahmi kepada masyarakat dalam rangka sosialisasi dirinya agar dikenali oleh massa calon pemilih.
7. Calon pemimpin atau Caleg mereka akan berpakaian sesuai dengan adat dan agama yang berlaku di daerah kunjungan baik dalam kampanye maupun di luar kampanya, biasanya yang bersangkutan tak biasa berpenampilan demikian.
8. Pemimpin partai yang mengidentikkan dirinya pada tokoh-tokoh nasional sebagai pendahulunya atau tokoh nasional lainnya yang terdahulu.
9. Ingin berbeda dari yang lain baik gaya, gestur dan busana pada saat-saat kunjungan ke berbagai daerah, yang pada biasanya yang bersangkutan tak terbiasa demikian.
10. Tuntutan masyarakat bahwa calon pemimpin maupun caleg harus jelas identitas dirinya: Apa agamanya, Apa sukunya, Apa pendidikannya, dan bagaiman latar belakangnya baik keluarga maupun kehidupannya. Yang selebihnya adalah apakah dia seorang yang taat beragama atau tidak. Apakah juga seorang ateisme, politeime atau monoteisme, dsb. juga harus jelas identitasnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa politik identitas adalah praktik politik yang berfokus pada isu-isu dan masalah-masalah yang berkaitan dengan identitas kelompok tertentu, seperti etnis, agama, gender, orientasi seksual, dan sebagainya.
Dalam politik identitas, kelompok-kelompok ini dilihat sebagai unit politik yang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda-beda yang harus diwakili dan dipertahankan oleh para pemimpin politik.
Politik identitas bisa mencakup berbagai bentuk aktivitas dan perjuangan untuk hak-hak kelompok tertentu, termasuk hak-hak sipil, hak-hak politik, dan hak-hak ekonomi.
Namun demikian, ada juga kalangan yang mengkritik terhadap politik identitas karena menganggap bahwa politik macam itu fokus pada identitas kelompok tertentu sehingga dapat memecah-belah masyarakat dan memperkuat kesenjangan dan ketidaksetaraan.
Sebenarnya makna politik identitas ibarat dua mata pisau, yaitu dapat dimaknai secara positif maupun secara negatif.
Secara positif, mayoritas masyarakat Indonesia pada umumnya menghendaki adanya kejelasan identitas secara terperinci calon pemimpin nasional maupun daerah dan anggota DPR/DPRD dalam Pemilu yang dalam pepatah dikatakan agar tidak seperti memilih kucing dalam karung.
Identitas yang dimaksud adalah agama, etnis, latar belakang, dan lain-lain. Mayoritas kaum muslimin lebih mendasari politiknya pada agamanya. Demikaian pula pada agama-agama yang lain.
Makna negatifnya adalah semua identitas itu digunakan sebagai kepura-puraan belaka dalam rangka meraih simpatik masyarakat yang sebanyak-banyaknya dengan berbagai ragam dengan upaya tipu-tipu dan kebohongan sebagai modal dasarnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
