Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Syifa Billah Ar Robbani

Membangun Pemuda Muslim yang Teladan

Politik | Thursday, 09 Mar 2023, 09:45 WIB

Oktober merupakan bulan bersejarah dimana mengingatkan kita pada Sumpah Pemuda yang dilakukan oleh para pemuda pada tahun 1928. Pada saat itu, para pemuda memiliki semangat juang yang tinggi. Namun bertahun-tahun setelahnya, pada awal Oktober tahun 2022, sejumlah daerah digemparkan oleh para pemuda yang tergabung menjadi sebuah gangster membuat masyarakat resah dan dan perlu berhati-hati dikarenakan mereka berkeliaran menggunakan senjata tajam. Lalu dilansir dari CNN Indonesia (09/22), mucul istilah kekinian yang beredar di kalangan pemuda yaitu sleepover date juga sangat menggemparkan pasalnya hal ini sangat melanggar syariat dimana pasangan yang belum sah dalam ikatan pernikahan, melakukan kencan sambil menginap layaknya suami istri. Hal ini jelas berdampak buruk dan sangat berisiko terkena penyakit kelamin HIV/AIDS. Ditambah hasil survey yang diberitakan oleh awak media tempo.co (08/22) bahwasannya sudah lebih dari ribuan mahasiswa Kota Bandung yang terkena penyakit mematikan tersebut. Begitulah gambaran pemuda Indonesia saat ini. Kaum muda kita sudah menjadi korban dari propaganda sekuler liberalisme yang terlihat dari pola hidup yang hedonis, konsumtif, dan permisif. Mereka tertidur dalam kesenangan duniawi tanpa memikirkan bagaimana masa depan bangsa nantinya jika berada di tangan mereka yang menjadi pemuda saat ini.

Mengapa pemuda? Sebelumnya mari kita bahas apa itu pemuda. Menurut KBBI, pemuda adalah orang muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Jadi pemuda merupakan generasi yang sangat diandalkan karena merekalah yang nantinya akan memimpin bangsa dibeberapa tahun kedepan. Lalu bagaimana karakteristik yang harus dimiliki pemuda muslim sebagai teladan? Pemuda muslim yang menjadi teladan ialah yang mengetahui dan menyadari bahwa mereka memiliki peran penting dalam kebangkitan umat yaitu pertama, sebagai Iron Stock yang artinya pemuda menjadi generasi pemimpin di masa depan dan yang nantinya akan menyongsong kebangkitan Islam. Kedua, pemuda sebagai Agent of Change yang dimana pemuda haruslah menjadi agen atau polopor dari sebuah perubahan menuju kehidupan Islam. Ketiga, pemuda harus mampu menjadi Social Control yang dapat mengontrol sosial di lingkungannya menjadi lingkungan yang didalamnya diatur oleh aturan Islam. Terakhir, pemuda juga diharuskan untuk menjadi Moral Force yang menjaga moral sesuai dengan syariat Islam.

Setelah diketahui bahwa pemuda merupakan harapan bagi umat, mari lihat bagaimana pemuda pada masa kejayaan Islam. Salah satu sahabat Rasulullah SAW. yang bernama Mush’ab bin Umair yang waktu itu menjadi pemuda dengan keimanan yang sangat teguh. Pasalnya, Mush’ab bin Umair yang dulu sebelum masuk Islam, ia merupakan pemuda kaya yang serba kecukupan. Namun pada saat beliau masuk Islam, semua harta kekayaannya ditahan oleh ibunya sendiri. Meski begitu, Mush’ab tetap setia di samping Rasul SAW. hingga ia diutus untuk berdakwah ke Yatsrib. Mush’ab adalah pemuda yang pertama kali membuka dakwah di Yatsrib yang menjadi cikal bakal kejayaan Islam hingga sekarang kita pun merasakan kemuliaan Islam tersebut. Lalu kita lihat pula Muhammad Alfatih yang menjadi penakhluk Konstantinopel yang waktu itu sangat sulit untuk melakukan futuhat di sana. Beliau melakukan hal tersebut pada saat menginjak usia 21 tahun. Kejayaan Islam digerakkan oleh barisan para pemuda yang cerdas pemikiran dan kaya akan tsaqofah Islam.

See? Bagaimana pemuda sekarang? Sangat berbeda bukan? Di era ini, para pemuda yang menginjak usia 21 tahun masih menjadi orang yang kesehariannya hanya rebahan. Beberapa pemuda yang bekerja hanya berorientasi untuk mencari cuan tanpa memikirkan keberkahan didalamnya. Beberapa lagi hanya pasrah terseret arus kapitalisme dan enggan untuk memikirkan masa depannya apalagi masa depan umat.

Kita harus menyelamatkan para pemuda. Kita harus membangunkan para pemuda dari mimpi buruk realita yang terjadi. Jika mereka enggan bangun dari mimpi buruk tersebut, maka umatlah yang nantinya akan hancur. “Sungguh di tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat” begitulah pesan yang disampaikan oleh seorang pujangga Mesir , Syekh Mustafa Al-Ghalayaini (Muslimahnews, 2022)

Mari kita sadarkan pemuda dengan mengukuhkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dunia maupun akhirat. Sadarkan mereka bahwa mereka hanyalah hamba yang Allah ciptakan dan kelak akan kembali kepadaNya. Tak hanya itu, kita juga harus memahamkan para pemuda bahwa tujuan hidup tertinggi yaitu mendapatkan ridho Allah Swt. yang ridho tersebut didapatkan dengan cara menaati seluruh perintah, menjauhi seluruh larangan, dan memperjuangkan agamaNya. Kemudian peran kita juga sangat dibutuhkan untuk membimbing para pemuda dalam membangun kebiasaan Islam, menaati Allah Swt., dan meninggalkan maksiat. Nabi saw. berkata “Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemuda yang tumbuh dalam ibadah pada Allah.” (HR Al-Bukhari). Setelah itu, kita juga harus mendorong para pemuda untuk memiliki kepeduliaan terhadap kondisi umat yang kita terjepit dalam sistem kufur dan menjadikan mereka sebagai pengemban dakwah yang akan memperjuangankan tegaknya agama Allah Swt.. Bukan pemuda egois yang hanya memikirkan amalan pribadi tanpa memikirkan nasib umat.

Wahai pemuda muslim yang menjadi teladan, sekaranglah waktunya untuk bangkit dan berdiri di barisan untuk menyongsong kebangkitan Islam. Umat di seluruh penjuru dunia ini membutuhkan pemuda muslim yang hebat dan menjadi teladan bagi generasi selanjutnya. Ambil kesempatan berharga ini untuk bisa keluar dari kedzaliman yang sedang kita rasakan saat ini. Wallahu’alam

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image