Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Asriatul Azahara

Sexual Harassment: STOP! Catcalling Adalah Pelecehan Seksual!

Eduaksi | Saturday, 18 Dec 2021, 23:22 WIB
Sumber : Unsplash

Kalian pernah nggak sih, misalnya lagi jalan sendirian atau bersama teman di tempat umum terus diganggu sama abang-abang atau lelaki yang tidak dikenal? Nah, terus kalian merasa risih nggak dan merasa aneh gitu nggak? Kalo pernah, Wah sebaiknya kita harus waspada ladies!

Pria asing di pinggir jalan: “Cewek”

Teman Rahma: “eh jangan kurang ajar ya!” (10.37)

Putra: “Dicolek, liat, dapet. Jangan diliatin” (10.44)

Annisa: “dapet gak lo?”

Putra: “dapet dapet dapet. Dia ngeliatin kesini gak? (10.47)

Annisa: “Enggak tetapi gue sebel banget (10.51)

–Dilansir dari kutipan dialog series film KZL

Teguran yang dilayangkan oleh Teman Rahma kepada pria yang sengaja melakukan catcalling sambil mencolek bagian belakang tubuhnya adalah contoh dimana perempuan yang mengalami tindakan catcalling tidak hanya diam dan pasrah, Namun bisa menunjukkan perlawanan apabila perbuatan yang dilakukan pelaku dirasa keterlaluan. Meski teman Rahma sudah meneriakkan kalimat teguran, tetapi si pelaku tetap tidak memahami bahwa perbuatan yang dia lakukan itu mengganggu dan melecehkan.

Jika kalian seorang yang suka menonton televisi, kalian mungkin pernah menonton film yang berjudul KZL (Kapan Zadarnya Lo) dan tidak asing dengan dialog di atas. Di dalam series KZL terdapat bagian adegan catcalling. Catcalling sendiri termasuk dalam bentuk street harassment yang mana telah menjadi perhatian kebanyakan masyarakat, Sebab banyak korban dari tindak pelecehan ini merekam balik pengalaman mereka saat dilecehkan.

Nah, sebelum membahas catcalling sebaiknya kita harus tahu dulu nih ladies, apa saja bentuk-bentuk pelecehan seksual. Menurut Kelly (1988) yang dianggap sebagai bentuk pelecehan seksual, yaitu :

1. Bentuk visual, yaitu tatapan yang penuh nafsu, tatapan yang mengancam, gerak-gerik yang bersifat seksual, dan memandang bagian tubuh tertentu secara mendalam.

2. Bentuk verbal, yaitu siulan-siulan, gosip, gurauan seksual, dan pernyataan bersifat mengancam (baik secara langsung maupun tersirat).

3. Bentuk fisik, yaitu menyentuh, mencubit, menepuk-nepuk, menyenggol dengan sengaja, meremas, pelukan, dan mendekatkan diri tanpa diinginkan.

Nah temen-temen tahu nggak sih, Apa itu catcalling?

"Cat artinya kucing, Calling artinya Memanggil." Apakah pengertiannya “panggilan kucing?” atau “kucing memanggil?” NO, bukan ya teman-teman semua. Chhun (2011) menyatakan bahwa catcall adalah penggunaan bahasa cabul, ekspresi verbal dan nonverbal yang ditemukan di tempat umum seperti jalan raya, trotoar dan halte bus. Secara lisan, Catcalling biasanya dilakukan dengan bersiul atau mengomentari penampilan seorang wanita. Mirisnya mereka yang melakukan catcalling menganggap ini hanyalah sebuah candaan dan bahkan mereka melakukannya sambil tertawa terbahak-bahak.

Dari sini kita bisa membedakan ya, antara orang berpendidikan dengan orang yang non berpendidikan. Orang yang berpendidikan tidak akan mungkin menunggu perempuan yang lewat kemudian melakukan catcalling karena hal itu sangat membuang-buang waktu bagi mereka. Perlu adanya kesadaran dari masyarakat bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas dan berhentilah menganggap bahwa pelecehan verbal merupakan hal yang sepele dan tidak menganggap ini sebagai sesuatu yang serius.

Apa saja sih dampak buruk catcalling terhadap psikologis korbannya?

Dampak buruk yang dirasakan oleh korban catcalling sangat banyak, seperti: ketidakstabilan suasana psikologis bagi penerimanya, meliputi: ketakutan, kekecewaan, tidak percaya diri, kehilangan cinta, frustasi, stres, cedera, murung, ketidakpedulian, kebingungan, malu, kebencian, balas dendam, marah, depresi, gila, dan lain-lain.

Lalu apa saja sih yang harus dilakukan perempuan jika mendapatkan catcalling?

1. Menghindari tempat yang ramai oleh kumpulan laki-laki. Seperti yang kita tahu di tepi-tepi jalan Tol sering kali banyak ditemukan kumpulan laki-laki, hal seperti itu lebih baik putar balik Jalan jika sedang di jalan tersebut, cari alternatif jalan lain meskipun lebih jauh tetapi aman. Sekali-kali beranikan diri untuk tidak menunduk dan melihat ke arah mereka.

2. Menjawab dengan singkat. Ketika kamu harus melewati sekelompok laki-laki di suatu tempat kemudian kamu diteriaki cukup menjawab dengan kata pendek, singkat dan sekenanya saja tanpa memandang ke arah mereka sedikitpun.

3. Menyimpan barang berharga. Jika kamu khawatir tindakan yang berlanjut pada perampokan ada baiknya simpan dahulu perhiasanmu agar tidak menarik perhatian para pelaku. Kita tidak bisa melawan secara terbuka karena akan kalah dengan jumlah mereka yang banyak. Yang bisa kita lakukan adalah melawannya dengan ucapan yang tegas dan penuh percaya diri.

4. Berikan tanggapan yang pedas buat mereka Kalau kamu memang tidak berkenan dengan perbuatan mereka. Katakan secara langsung seperti ”Maksud kamu apa! nggak sopan ya.” Dengan nada suara yang tegas.

5. Jangan pakai baju terbuka, untuk menghentikan perilaku mereka dan juga menjaga pandangan mereka.

"Please respect the woman in the world."

Referensi :

Asti, G. K., Febriana, P., & Aesthetika, N. M. (2021). Representasi Pelecehan Seksual Perempuan dalam Film. Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, 13(1), 79-87. Hidayat, A., & Setyanto, Y. (2020). Fenomena catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual secara verbal terhadap perempuan di Jakarta. Koneksi, 3(2), 485-492

Triwijati, N. E. (2007). Pelecehan Seksual: Tinjauan Psikologis. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 4, 303-306.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image