Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Salman Akif Faylasuf

Kalam Mutiara Bahauddin An-Naqsabandi

Agama | 2023-02-19 14:18:14

Oleh: Salman Akif Faylasuf *)

REPUBLIKA.CO.ID - Dari ribuan ahli sufi yang ada di muka bumi, hanya beberapa saja yang namanya mungkin sering kita dengar. Di antaranya adalah Jalaluddin Rumi, Abdul Qadir al-Jailani, Abu Hamid al-Ghazali, Abul Hasan asy-Syazili, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Syafi'i bin Idris, Ahmad bin Hanbal, al-Hallaj, Ibnu Arabi, Ibnu Athaillah, Junaid al-Bagdadi, Abul Hasan al-Mawardi, dan lain sebagainya. Mereka adalah para sufi yang masyhur namanya, sebab Allah Swt. telah menganugerahi mereka hikmah dan keutamaan. Berbeda dengan An-Naqsabandi yang agak asing di telinga bahkan jarang kita jumpai.

Padahal, sebenarnya, dalam sejarah Islam, nama An-Naqsabandi dapatlah disejajarkan dengan nama-nama tenar semacam al-Junaid, al-Bisri, al-Jailani, dan al-Ghazali. Pasalnya, ia termasuk ulama sufi garda depan. Tarekat Naqsabandiyah (tarekat yang didirikannya) termasuk salah satu tarekat yang paling berpengaruh di kawasan Asia dan Afrika. Tak pelak dan tentu menarik menyimak biografi hidup dari sang sufi ternama ini.

Bahauddin An-Naqsabandi adalah nama populernya. Bernama asli Bahauddin Muhammad bin Muhammad al-Uwaisy al-Nukhari al-Bukhari an-Naqsabandi. la lahir di Qasrel Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharam tahun 717 Hijriah atau April 1317 Masehi. Wafat 791 Hijriah atau 1389 Masehi dalam usia 74 tahun, dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Qasrel Arifan, Bukhara. Nasabnya bersambung kepada Nabi Muhammad Saw. melalui cucunya, yaitu Sayidina Husein Ra. Lalu mengapa ia di panggil An-Naqsabandi?.

Ada banyak alasan mengapa gelar ini melekat di belakang namanya. Yang jelas gelar ini melekat karena ia mampu menempa dan mengukir sifat keutamaan dan kebaikan pada hati setiap orang. Dengan kata lain, ia dinilai sebagai seorang manusia suci yang mampu membimbing orang lain untuk meniti jalan kebaikan dan kemuliaan. Sementara alasan kedua karena konon di dadanya terukir Lafdzul Jalalah (Allah) yang bercahaya.

Syahdan, Bukhara lagi-lagi menjadi lingkungan yang amat kondusif bagi para pecinta ilmu. Di kota kecil ini, An-Naqsabandi mulai meniti jalan keilmuannya. Semula, ia hanya berguru kepada para ulama di daerahnya untuk belajar ilmu-ilmu syariat. Namun, menginjak usia remaja, ia mulai berani mengembara ke daerah-daerah lain untuk menimba ilmu dari para ulama besar. Di antara ulama yang menjadi gurunya adalah Muhammad Baba as-Sammasi, Amir Sayid al-Kulali, dan Arif ad-Dikarani.

Arif ad-Dikarani boleh jadi merupakan guru terbesar bagi An-Naqsabandi. Sebab, darinya ia mendapat khirqah kesufian. Pada waktu menerima khirqah kesufian, ia berusia sekitar 30 tahun. Kemudian, ia berangkat menuju Samarkand untuk bekerja di Istana Sultan Khalil, tepatnya sebagai penasihat bidang keagamaan. Tugas ini dilaksanakannya secara baik selama lebih dari dua belas tahun. Namun, ia belum dapat menemukan kebahagiaan sejati, sekalipun jabatannya cukup penting.

Untuk menemukan kebahagiaan sejati, ia memutuskan untuk meninggalkan Samarkand dan menetap di Zewartun. Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sufistiknya (mewarnai kehidupannya dengan kezuhudan total). Selama 14 tahun ia membaktikan diri dalam pelayanan sosial, menolong orang tidak mampu, dan membimbing mereka untuk bertakarub kepada Allah Swt. Dalam waktu relatif singkat, ia sudah berhasil memperoleh banyak pengikut, yang kebanyakan berasal dari kalangan kelas bawah.

Meski telah mulai menemukan kebahagiaannya, An-Naqsabandi kemudian pulang ke kampung halamannya di Qasrel Arifan. Tidak ditemukan informasi ihwal alasan di balik keputusannya kembali ke sana. Yang jelas, ia kemudian mendirikan pesantren dan membangun ribath untuk tarekatnya. Murid dan pengikutnya berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk bergabung dalam tarekat An-Naqsabandiyah. Sejak itu pula, ia dikukuhkan sebagai Syekh Kamil (mursyid) dalam tarekatnya itu.

Sekilas Kalam Hikmah An-Naqsabandi

“Mengamalkan tarekat berarti berkekalan di dalam melaksanakan 'ubudiyyah dibadah) kepada Allah, secara lahir dan batin, dengan kesempurnaan komitmen iltizam) mengikuti as-Sunnah, dan menjauhkan segala bid’ah dan segala kelonggaran (rukhsah), pada setiap gerak dan diam.” (An-Naqsabandi Ra.).

Tak bisa dipungkiri, bahwa satu-satunya jalan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. adalah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita dengan hati yang bersih, khusyuk, ikhlas, tawaduk, dan sabar. Siapa pun yang ingin berdekatan tanpa jarak dengan-Nya, ia mesti berkekalan di dalam ibadah kepada Allah Swt., baik secara lahir maupun batin. Selain itu, ia juga mesti berkomitmen penuh untuk mengikuti sunah Rasulullah Saw. dan menjauhi bid’ah.

Meskipun demikian, ini bukan perkara gampang untuk berkekalan di dalam ibadah kepada Allah Swt. Tidak seperti membalikkan telapak tangan, berkekalan di dalam ibadah memerlukan perjuangan yang amat berat. Acap kali ujian, cobaan, atau rintangan datang silih berganti untuk mengganggu dan merusak konsentrasi kita dalam beribadah. Bahkan, setan senantiasa menggoda diri kita sehingga kita menjadi latai terhadap segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya. Tak pelak, berkekalan di dalam ibadah menjadi persoalan yang amat berat.

Berkekalan dalam ibadah kepada Allah Swt., pada akhirnya memerlukan komitmen yang kuat dari dalam diri kita sendiri sebagai hamba-Nya. Komitmen tersebut berupa kesadaran untuk senantiasa berdiri di jalan sunah Rasulullah Saw., meneladani segala contoh perilaku dan ucapan nabi, serta persetujuan beliau. Di saat bersamaan, kita mesti berkomitmen untuk menjauhkan diri dari bid’ah, yakni sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Salah satu jalan yang akan memudahkan kita untuk berkomitmen pada sunah Rasulullah Saw. adalah tarekat. Inilah jalan yang ditempuh para shaleh. Inilah ajaran yang menempatkan Rasulullah Saw. sebagai pembimbing utama agar kita sampai kepada Allah Swt. Tarekat menghendaki kita agar senantiasa menggembleng diri secara ketat dengan zikir, shalat, doa, zuhud, khalwat, dan lain sebagainya. Lebih dari itu, kita belajar untuk menekan hawa nafsu yang dapat menjauhkan kita dari-Nya.

Benar apa kata An-Naqsabandi: “Ahli hikmah mempunyai tiga cara untuk mencapai kebenaran, yakni melalui muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah tidak melihat makhluk karena senantiasa sibuk melihat Allah Swt. Musyahadah adalah memandang kecemerlangan nur yang diterima di dalam hati. Dan, muhasabah adalah tidak mengizinkan segala sesuatu menjadi penghalang bagi tercapainys maqam yang lebih tinggi.”

Melalui kalimat hikmahnya ini, ia menginformasikan kepada kita bahwa ada tiga jalan dapat kita tempuh untuk mencapai kebenaran, yakni muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Ketiga jalan inilah yang ditempuh oleh para ahli hikmah, para sufi, dan para kekasih Allah Swt. Sebab, dengan ketiga jalan ini akan tampak jelas bagi mereka jalan kebenaran yang digariskan oleh Allah Swt.

An-Naqsabandi menjelaskan bahwa muraqabah adalah tidak melihat makhluk karena senantiasa sibuk melihat Allah Swt. Inilah jalan pertama yang mesti ditempuh oleh seorang salik (penempuh jalan Tuhan). Seseorang yang ber-muraqabah berarti tidak memasukkan selain Allah Swt. ke dalam hatinya. la senantiasa melihat bahwa hanya Allah Swt. satu-satu-Nya Zat yang paling penting. Seluruh laku kehidupan hanya akan dicurahkan kepada-Nya.

Tentang, musyahadah, ia menjelaskan bahwa musyahadah adalah memandang kecermelangan nur atau cahaya yang diterima di dalam hati. Artinya, seseorang yang menempuh jalan musyahadah, mesti membersihkan hatinya dari berbagai kotoran hati sehingga Allah Swt. berkenan memancarkan cahaya hidayah-Nya. Karena, hanya hati yang terang dan sucilah yang akan menerima pancaran cahaya-Nya dengan terang.

Sementara mengenai muhasabah, An-Naqsabandi memaknainya sebagai suatu keadaan di mana diri kita tidak lagi mengizinkan segala sesuatu selain-Nya menjadi penghalang untuk mencapai maqam atau derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. Dengan kata lain, kita dituntut untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam memperoleh derajat kemuliaan di sisi-Nya. Jangan kita biarkan sesuatu hadir untuk merusak perjuangan kita.

Pada akhirnya, menempuh ketiga jalan tersebut tentu bukan pekerjaan mudah bagi kita. Diperlukan kesungguhan hati kekuatan tekad, dan keikhlasan niat untuk meniti tiga jalan itu. Namun, barang siapa yang berhasil, niscaya ia akan memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Terlepas dari siapa diri kita, Allah Swt. niscaya akan menjadikan kita sebagai orang yang dikasihi-Nya, yaitu hamba yang senantiasa diberikan berkah dari langit dan bumi, sebagaimana yang sudah terekam jelas dalam al-Qur’an surah al-A’raaf (7): 96). Wallahu a’lam bisshawab.

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image