Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Najmuddin Saifullah

Jangan Abaikan Sinyal Kebaikan

Agama | Tuesday, 24 Jan 2023, 09:36 WIB

Pernahkah kita merasa menerima sinyal untuk melalukan kebaikan namun tidak meresponnya. Sehingga potensi kebaikan yang seharusnya bisa kita lakukan menjadi terlewat begitu saja. Contohnya adalah ketika tiba-tiba terbangun jam 3 dini hari. Boleh jadi itu merupakan sinyal kepada kita untuk melaksanakan salat tahajjud, akan tetapi dengan santai kita kembali melanjutkan tidur. Kemudian saat ada kota infak berada di hadapan, dan dalam saku kita ada uang 5.000. Itu merupakan sinyal kebaikan untuk berinfak, namun apabila diabaikan, kita tidak jadi berinfak. Sebenarnya ada begitu banyak sinyal kebaikan yang datang setiap hari dengan berbagai bentuk, seperti: kesempatan, waktu luang, memiliki kemampuan, dan lainnya. Ada dua faktor yang menyebabkan kita menjadi abai terhadap sinyal kebaikan yang Allah berikan:

Sering menunda berbuat baik

Menunda adalah kebiasaan buruk yang dimiliki oleh manusia. Menunda pekerjaan rumah, menunda belajar dan menunda mengerjakan tugas merupakan tabiat yang harus dilawan. Supaya kita tidak menjadi orang yang malas. Termasuk dalam hal merespon sinyal kebaikan, menunda berbuat baik akan menghilangkan kesempatan untuk berbuat baik pula. Karena sinyal kebaikan tidak datang terus menerus dengan bentuk yang sama. Sekecil apapun potensi kebaikan, sebaiknya disambut dengan cepat. Contohnya adalah membaca al-Qur’an setelah salat fardhu. Ketika selesai salat subuh ada waktu luang untuk membaca al-Qur’an, maka kita manfaatkan waktu tersebut. Karena kalau menunda untuk tidak membaca al-Qur’an, tidak ada jaminan hari ini tersedia waktu untuk membacanya.

Jadi kunci untuk mengatasi penyakit “menunda” adalah bersegera melakukannya. Sekecil apapun kebaikan yang bisa dilakukan, maka bersegera untuk mengamalkannya. Karena kita tidak tahu amal kebaikan mana yang bisa membawa kita ke surga. Satu hal yang pasti, semua kebaikan sekecil apapun, pasti diberi ganjaran oleh Allah SWT, sebagaimana dalam surat az-zalzalah ayat 7 berikut ini:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”

Menunggu sempurna

Terkadang ketika ada kesempatan untuk berbuat baik, ada bisikan yang membuat kita mengurungkan niat. Bisikan tersebut berupa tuntutan perfeksionis untuk melakukan kebaikan seperti, ‘kalau mau membaca al-qur’an harus dua halaman, kalau sedikit lebih baik tidak membaca’, ‘kalau infaq minimal 50.000, kalau baru punya uang 5.000 sebaiknya ditabung dulu’, dan berbagai macam alasan semisalnya. Padahal untuk berbuat baik, tidak harus menjadi sempurna dulu. Jangan mematok kesempurnaan kepada diri sendiri untuk berbuat baik, yang mengakibatkan kita tidak jadi melakukan kebaikan tersebut karena merasa belum sempurna. Salat tahajud boleh dilaksanakan 2 rakaat dan ditambah witir 1 rakaat, membaca al-qur’an boleh hanya setengah halaman, dan infaq boleh 1.000 rupiah. Lakukan kebaikan dari hal terkecil semampu kita. Supaya bisa secara rutin dilakukan, karena amal kebaikan yang sedikit tapi istiqamah adalah amalan yang dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi SAW:

أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل

“Sebaik-baik amalan yang dicinta oleh Allah adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit”

Oleh sebab itu, jangan menunda-nunda ketika ada sinyal kebaikan yang datang. Kita harus gercep untuk melaksanakannya. Dikerjakan dengan semampunya dan yang paling utama kita niatkan amal tersebut untuk ridho Allah SWT. InsyaAllah dengan kebaikan kecil yang terus menerus kita lakukan, akan berlanjut kepada kebiasaan untuk berbuat baik yang lebih besar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image