Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wildan Mutaqin Wildan

Memposisikan IMM : Menghidupkan Tradisi Intelektual Melalui Tradisi Membaca, Menulis dan Diskusi

Eduaksi | Thursday, 08 Dec 2022, 11:31 WIB
Poto: Wildan Mutaqin

“BerIMM itu harus mampu menjadikan diri kita untuk terus menghidupkan “Tradisi Intelektual” melakukan pembaharuan dan membuat perubahan.

Sejak kelahirannya 58 tahun yang lalu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) telah ikut menjadi bagian dalam membangun pondasi kehidupan umat dan bangsa, IMM telah menjadi bagian sejarah dalam perjalanannya yang sudah tidak perlu di pertanyakan lagi jasa dan peranya. Saat ini kita sebagai kader IMM harus mampu mengambil peran perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena kita hadir sebagai agent of change.

Sebagai Mahasiswa dan kader IMM yang hidup di atmosfer mahasiswa tentu saja kita harus mampu menghidupkan tradisi-tradisi keilmuan yang mampu mengeskalasikan pengetahuan sebagai mahasiswa. Tradisi membaca, menulis, dan diskusi adalah hal fundamental yang harus menjadi habit mahasiswa, tentu saja hari ini kita di tuntut untuk mampu memberikan produk yang jelas dan nyata sebagai agent of change.

Tradisi membaca di dunia mahasiswa bukanlah hal yang baru, tentu saja kita sebagai kader IMM harus mampu menghidupkan tradisi membaca yang konsisten dan berdampak kepada lingkungan kita tentang pentingnya menjaga literasi membaca, dengan membaca kita sama-sama menghidupkan akal, membuka cakrawala berfikir, mempertajam gagasan, dan merawat kehidupan. Kata Rene Descartes aku berfikir maka aku ada.

Kader IMM sudah menjadi bagian sejarah dan tidak akan di lupakan jasanya pada bangsa ini. Saat ini kita dituntut untuk menjadi kader-kader pemikir, konseptor, atau bahkan eksekutor, dengan segala kemampuan dan kehandalannya. Jangan sampai hari kita menjadi kader-kader acuh, afatis atau bahkan medioker.

Kader IMM harus mampu memiliki episentrum keilmuan yang luas, radikal dan mencerahkkan, tentu saja ini menjadi PR kita bersama dan harus terus semangat dalam menjalakan proses sebagai kader IMM, karena saat ini kita sama-sama di tuntut untuk terus menjadi kader umat, bangsa dan persyarikatan. Ini adalah amanah yang begitu besar untuk kita sebagai kader IMM, menjadi kader umat, bangsa dan persyaraikatan bukanlah hal yang mudah, tentu saja kita harus mampu menopang amanah itu dengan gagasan-gagasan yang mencerahkan dan berdampak dengan konsep learning by doing.

Tradisi menulis adalah hal yang wajib dilakukan oleh kader IMM dan ini harus menjadi habit yang yang harus terus di tularkan karena sebagai kaum akademisi kita di tuntut untuk memberikan gagasan-gagasan terbaik melalui tulisan, menulis adalah memberikan suatu tawaran gagasan yang mampu membuka cakrawal berfikir kita tentang suatu hal. Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer ”Jika kamu ingin mengenal dunia maka membacalah, jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah” serpihan kata dari Pramoedya Ananta Toer seperti menjadi spriti semangat kepada kita sebagai mahasiswa dan kader IMM, bagaimana tidak kita hanya di berikan 2 tawaran saja kalau kita ingin mengenal dunia kita harus membaca dan sebaliknya jika kita ingin dikenal dunia maka menulislah, ungkapan ini begitu jelas dan kongkrit dan betul-betul harus menjadi spirit semangat kita.

IMM menuntut kadernya menghasilkan ide- ide segar dalam mengintervensi sosial menuju perubahan yang progresif dengan keilmuannya. Ide-ide segar mutlak diabadikan dalam sebuah karya berupa tulisan yang tertata dengan baik oleh segenap kader IMM.

Gerakan intelektual IMM adalah gerakan menulis. Sebagai gerakan mahasiswa yang disebut gerakan elite, IMM menjadi bagian dari pelaku penghasil gagasan bagi bangsa Indonesia. Ide atau gagasan akan sangat bernilai saat digulirkan oleh kaum elite seperti aktivis IMM dengan cara menuliskannya dengan tepat. Karya tulis yang dilakukan oleh elite IMM adalah sebuah perwujudan IMM dalam mendinamiskan gerakan intelektualnya.

Keampuhan gerakan intelektual yakni gerakan menulis IMM, akan menjadi faktor utama dalam perubahan sosial. Saat karya tulis kader IMM bertebaran di Nusantara ini, pencerahan tengah dimulai oleh insan-insan muda yang peduli pada peradaban.

Tradisi diskusi adalah hal yang menarik untuk di lakukan di dunia mahasiswa, bagaimana tidak dengan diskusi kita mampu memberikan prespektif tentang suatu hal di antara banyak pandangan-pandangan yang beragam, di berikan pemanis dengan dialektika dengan retorikan yang handal dan menyegarkan yang membuat diskusi kita terasa begitu konstruktif.

Dalam diskusi tentu saja kita melihat berbagai perbedaan pandangan, tapi perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam sesi diskusi karena yang menjadi pembahasan menarik dan juga pecutan untuk kita untuk terus mencari tahu. kalau kata Hegel inilah yang dinamakan dialektika pergulatan tesis, anti tesis dan sintesis.

Mari kita perbanyak diskusi dan aksi isi otak kita dengan pikiran-pikiran yang mencerahkan. Sebagai kader IMM sudah seharus dan selayakan kita tidak boleh alergi dengan diskusi dengan perspektif yang beragam dengan corak pemikiran yang berbeda karena itu suatu keniscayaan. Mahasiswa jangan pernah alergi dengan bahasa-bahasa ilmiah yang disuguhkan karena itu adalah hal biasa bagi kalangan kaum intelektual dari bahasa, purifikasi, restorasi, sampai rekonstruksi bahasa-bahasa ilmiah yang begitu asik untuk kita ketahui.

Kedepan besarnya IMM bukan hanya dilihat dari kuantitasnya saja, tapi besarnya IMM kedepan karena laparanya kader terhadap pengetahuan, rakus dalam membaca dan radikal dalam gerakan. Mari hidupkan tradisi- tradisi intelektual yang futuristic dan mencerahkan. Melawan pendangkalan dan kebodohan adalah lawan terbesar IMM.

Semua gerakan apapun selalu memiliki prinsip perjuangan yang melandasi gerakannya untuk bisa bergerak sesuai dengan tujuan yang hendak diraih, artinya kalau gerakan tanpa adanya prinsip perjuangan, bisa jadi gerakan tersebut lebih tepat di anggap gerakan ilusi tanpa arti. Maka teruslah bergerak teruslah melawan dan hadirkanlah kemenangan, IMM akan terus hadir dengan bunga bunga revolusi baru perjuangan.

Banyak hal yang harus senantiasa direfleksikan oleh IMM, terutama memasifkan peran IMM baik terhadap persyarikatan Muhammadiyah, ummat, dan bangsa. Ingat pesan Buya Syafi'i Ma'arif, bahwa IMM selayaknya tidak hanya menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga menjadi kader umat dan kader bangsa. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM sudah saatnya untuk tampil kedepan panggung ummat dan kebangsaan, inilah yang menjadi tantangan IMM kedepan.

Gerakan intelektual tidaklah lengkap tanpa adanya perbuatan (action). Action adalah syarat utama, dalam meraih suatu perubahan, meskipun tentunya ditopang oleh gagasan-gagasan progresif dan mencerahkan. Sebagai intelektual, IMM tidak hanya berhenti di mendialogkan gagasan saja. Melainkan, mengupayakan perwujudannya. sudah 58 tahun ini, IMM semakin menghadapi persoalan yang harus disikapi dengan bijak dan kritis.

Banyaknya tantangan tentu saja menjadi sebuah energi bagi kaum muda, tak terkecuali mahasiswa Indonesia untuk mewujudkan peradaban maju, bukanlah hal yang mustahil, goncanglah dunia, maka berbahagialah manusia. Selama di dunia inin ada mahasiswa dari mereka, harapan bisa di gantungkan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Selebihnya perjuangan ini mari kita ikhtiarkan bersama-sama sebagai kader IMM, menjaga tradisi-tradisi intelektual adalah hal pertama yang harus kita lakukakan, kita harus mengingat apa yang di katakana oleh Ayahanda Prof Haedar Nasir, kurang tajdidnya Muhammadiyah yang disalahkan adalah IMM. IMM memiliki peran besar dan strategis untuk terus melakukan perubahan dan pembaharuan.

Oleh Wildan Mutaqin

Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FISIP UMJ

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image