Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dimas Pratama

Nguri-Uri Budaya Memperkuat Karakter Bangsa

Eduaksi | Friday, 02 Dec 2022, 15:15 WIB

Indonesia adalah negara yang terkenal akan keindahan alamnya, melimpah hasil rempah-rempahnya dan beranekaragam suku, bangsa, agama dan budayanya. Terdiri dari beribu-ribu pulau, tak heran jika Indonesia mempunyai banyak suku yang memiliki adat dan kebudayaan yang berbeda-beda. Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia berdampak dalam aspek kehidupan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi, keanekaragaman itulah yang menjadi cirikhas tersendiri bagi Bangsa Indonesia sehingga menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung atau bahkan tak jarang pula mereka ingin ikut serta mempelajarinya secara mendalam. Keanekaragaman ini terbentuk atas kekayaan kultural dan intelektual sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Masyarakat Jawa biasa mengenal kata melestarikan budaya dengan istilah ‘Nguri-uri Budaya’. Nguri-uri berasal dari Bahasa Jawa yang artinya menabur bibit pasca masa tanam. Bercocok tanam ini merupakan kegiatan menjaga, merawat dan menumbuhkan dalam pertanian. Dalam filosofis Jawa, kata nguri-uri budaya memiliki arti merawat budaya yang sudah diwariskan oleh leluhur secara turun temurun dari generasi ke generasi agar tidak hilang begitu saja. Menurut masyarakat Jawa, istilah ‘nguri-uri’ tidak hanya berkaitan dengan kegiatan tanam-menanam saja karena semua kegiatan yang bersifat baik harus dilestarikan.

Dalam berbudaya, tradisi diibaratkan sebagai bibit tanaman yang memiliki dampak baik bagi kehidupan. Suatu budaya tercipta karena kebutuhan dari masyarakat didaerah tersebut. Oleh sebab itulah masyarakat Jawa mengibaratkan budaya seperti tanaman yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan karena manusia membutuhkannya untuk kehidupan. Selain itu, budaya juga digunakan sebagai karakter dari suatu daerah. Keanekaragaman di suatu daerah adalah potensi sosial yang dapat membentuk citra dan karakter dalam daerah itu sendiri. Semakin menarik budaya yang ada disuatu daerah itu, maka semakin berkarakter pula daerah tersebut menurut pandangan masyarakat lainnya.

Keanekaragaman budaya yang ada di indonesia tak lepas dari peran para leluhur yang berjuang untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan agar tidak hilang. Para leluhur melakukan hal tersebut supaya budaya yang mereka miliki dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. Jika kita mengingat pidato yang diucapkan oleh presiden Ir. Soekarno dalam rangka memperingati hari pahlawan, beliau mengemukakan bahwa “bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”. Hal tersebut sama artinya dengan melestarikan budaya lokal yang ada karena itu merupakan sebuah penghormatan untuk menghargai para leluhur yang telah menjaganya dengan baik.

Selain itu, nguri-uri atau melestarikan budaya ini dapat berguna pula untuk membangun sebuah karakter di Indonesia. Terlebih keanekaragaman budaya yang ada saat ini menjadikan Indonesia lebih dikenal oleh dunia. Maka dari itulah, para generasi muda harus ikut serta dalam melestarikan budaya yang ada supaya tidak hilang atau bahkan diakui oleh negara lainnya. Jika sampai hilang, sama artinya dengan kehilangan karakter dari bangsa itu sendiri. Seperti kata pepatah “mempertahankan lebih sulit daripada merebut” maka perlu perhatian lebih untuk mempertahankan budaya lokal yang ada.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman yang dibarengi dengan pesatnya kemajuan teknologi, eksistensi budaya dan nilai tradisional yang melekat dikalangan masyarakat memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Lunturnya minat akan budaya lokal oleh para generasinya tak lepas dari kemajuan teknologi yang terjadi di era saat ini. Pada era sekarang, pertukaran pandang terhadap dunia seperti gaya bicara, pemikiran, produk hingga aspek-aspek budaya lainnya sangatlah mudah untuk digapai.

Masyarakat khususnya generasi muda di era sekarang, mulai meninggalkan budaya lokal yang bersifat kuno dan lebih menyukai hal-hal yang dianggap modern seperti mengikuti trend baju dan tarian luar dibandingkan dengan menggunakan baju dan tarian didaerahnya sendiri. Ditambah maraknya kulturisasi budaya luar seperti drama, musik, animasi dan sebagainya membuat budaya lokal semakin terlupakan. Padahal budaya lokal muncul dikarenakan penduduk disuatu daerah yang memiliki pola pikir dan kehidupan yang sama sehingga menjadikan pembeda dengan penduduk daerah lainnya yang artinya budaya lokal merupakan karakter dari suatu daerah itu sendiri.

Terciptanya internet dan kemajuan infrastruktur yang ada didunia ini, menjadikan ketergantungannya aktivitas ekonomi dan budaya yang ada. Tak dapat dipungkiri munculnya media internet menciptakan ruang yang memungkinkan seseorang untuk mengaksesnya. Hal ini menjadikan seseorang khususnya generasi muda menjadi ketagihan untuk update. Di zaman yang serba ada ini justru membuat generasi muda menjadi pemalas dan lambat untuk berfikir serta kurang peka terhadap sesuatu yang terjadi. Sangat disayangkan jika kemajuan teknologi yang terjadi saat ini tidak dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya lokal. Terlebih apabila para generasi mudanya malah terbuai dan bangga atas budaya asing yang masuk. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kebudayaan lokal yang ada akan hilang karena kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan budaya lokal yang ada

Begitu banyak cara untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur. Menyangkut permasalahan diatas, masyarakat dan pemerintahan berperan sangat penting untuk mempertahankan budaya yang kian hari kian tergerus oleh kemajuan teknologi yang pesat. Pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya yang sudah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. dengan adara rasa cinta akan budaya yang mereka miliki, maka akan timbul sikap ingin menjaga agar budaya yang mereka miliki tidak hilang termakan oleh zaman. Melestarikan budaya agar tidak punah merupakan hal yang harus dilakukan karena budaya merupakan karakter dari suatu bangsa. Semakin melekatnya budaya tradisional dikalangan generasi muda yang ada disuatu bangsa, maka semakin kuat pula karakter dari suatu bangsa itu sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image