Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hendri Setiawan

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Games | Thursday, 01 Dec 2022, 18:43 WIB
Sumber: fb @Mpl Indonesia

Bermain game online dapat memicu perilaku agresif. Salah satu bentuk perilaku agresif yang ditimbulkan dari bermain game online adalah perilaku trash-talk. Perilaku trash talk sudah lama menjadi masalah yang sulit dihilangkan di dunia game online, terutama game online yang mengandalkan kerjasama tim.

Anda yang sering bermain game Mobile Legends, Arena Of Valor, atau Dota 2 pasti sering menjumpai orang-orang dengan sikap seperti ini. Emosional, menyalahkan orang lain, sering berkata kasar, dan merasa benar sendiri adalah beberapa karakteristik gamer yang toxic.

Tidak hanya pemain lain, mungkin anda sendiri pun pernah melakukan trash-talking saat bermain game. Sebagian orang menganggap bahwa perilaku trash-talk adalah bagian dari permainan, dan mereka mendapat kesenangan dari melakukannya. Sebagian lainnya, seperti saya, tahu bahwa kebiasaan ini salah, tetapi tetap saja terkadang tidak bisa mengontrol emosi untuk tak melakukannya.

Sebetulnya apa sih yang menyebabkan perilaku trash-talking muncul? Apakah memang perilaku atau kebiasaan ini tak bisa dihindari? Apa dampak yang ditimbulkannya, apakah selalu negatif atau ada sisi positifnya? Melalui tulisan ini saya mengajak anda untuk merenung bersama demi menciptakan ekosistem game yang lebih asyik dan bisa dinikmati semua orang.


Apa Itu Trash-talking?

Tidak ada pengertian baku yang membahas tentang trash-talking dalam dunia game, tapi secara umum dapat kita artikan trash-talking adalah perilaku berbicara dengan kata-kata kasar yang dengan melakukannya dapat menumbuhkan rasa persaingan atau memotivasi seseorang (orang yang dihina). Bentuk perilaku trash-talk berupa perilaku menyombongkan diri, mengintimidasi, memprovokasi, atau menjatuhkan mental lawan secara verbal maupun non verbal. Trash-talk sering ditandai dengan penggunaan bahasa hiperbola atau kiasan, seperti, “lu mending main pou aja sana daripada maen ml maen kek bot” atau juga kata-kata lain yang jauh lebih kasar dan merendahkan.

Sumber: Fb @Mpl Indonesia

Menurut riset yang dilakukan oleh Haewoon Kwak (Qatar Computing Research Institute), ada beberapa hal yang membuat game online rawan menjadi tempat munculnya perilaku trash-talking, yaitu yang pertama, karena ada elemen kompetitif, yang mendorong kita untuk mengutamakan kemenangan di atas segalanya, dan kita akan merasa bahwa game itu tidak fun bila kita tidak menang. Kedua, anonimitas, karena kita berlindung dibalik nickname, dan kemungkinan besar tidak akan bertemu langsung dengan orang-orang yang di dalam game, kita menjadi merasa bahwa ucapannya atau perbuatannya saat bermain tidak memiliki konsekuensi.

Ketiga, Counterfactual Thinking, maksudnya adalah sebuah fenomena psikologi dimana ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, kita cenderung membayangkan kejadian alternatifnya. Sebagai contoh, “Andai saja tadi fighter ikut perang, pasti kita sudah menang!” Counterfactual thinking bisa berdampak positif sebagai bahan evaluasi, tapi juga bisa mendorong seseorang untuk menyalahkan orang lain. Keempat, Kultur sosial negatif, ketika kita tumbuh dikalangan masyarakat yang individualis, tidak mengajarkan empati, atau senang melihat orang lain susah, tinggal menunggu saja sebelum keburukan-keburukan itu muncul dalam diri kita.

Sumber: Fb @Mpl Indonesia

Haruskah Kita Melakukannya?

Ada sebagian orang yang menikmati perilaku trash-talking, terlepas dari hasil permainan itu sendiri apakah dia atau kalah. Mungkin tipe orang seperti ini juga senang melihat orang lain susah, setidaknya di dunia maya. Saya tidak bisa melarang atau mengatur apa yang membuat seseorang senang, dan saya rasa masuk akal bila ada orang yang mendapat kesenangan dari berkata trash-talk. Mungkin dia sedang terkena fenomena superiority complex (perilaku yang menunjukkan seseorang percaya bahwa mereka lebih unggul dari orang lain) dia menjatuhkan orang lain dan bersikap sombong di dalam game demi menutupi kelemahannya di dunia nyata. Tapi satu yang mungkin dia tak sadar, kesenangan itu didapatkannya dengan mengorbankan kesenangan yang lebih besar yaitu kemenangan.

Coba kita tanya kepada diri sendiri. Ketika ada tim kita yang bermain buruk, apakah dengan kita berperilaku trash-talk maka dia akan bermain lebih baik? Ketika tim kita sedang kalah, apakah dengan memaki-maki teman setim maka kita akan berbalik menang? Saya rasa kita semua sudah tahu jawabannya. Tidak. Lalu mengapa kita tetap berperilaku trash-talk?

Satu hal yang mungkin bisa jadi penjelasan atas perilaku ini, adalah bahwa kita berperilaku trash-talk agar setidaknya kita mendapat suatu kesenangan meskipun sedang kalah. Kalah itu tidak enak, dan perilaku trash-talk bisa jadi pelampiasan untuk sedikit mengurangi rasa tidak enak tersebut. Tapi mental seperti ini adalah mental orang yang mudah menyerah.

Sumber: Fb @Mpl Indonesia

Boleh Kompetitif Tapi Tetap Suportif

Perilaku trash-talk mungkin bisa membuat kita merasa senang atau hebat sesaat, tapi di jangka panjang, perilaku itu akan menumpuk dan mendatangkan kerugian bagi kita sendiri. Sebagai contoh, saya sering dengar orang mengeluh bahwa game MOBA kesukaannya sepi pemain, padahal salah satu penyebab sepinya adalah karena banyaknya pemain toxic yang suka berkata kasar yang membuat tidak betah.

Terlalu sering memaki atau menghina orang di dunia maya, lama-kelamaan juga bisa menular ke kehidupan nyata kita. Apalagi kata-kata kasar yang digunakan oleh para pemain toxic di game semacam Mobile Legends sudah cukup keterlaluan. Tidak hanya mengatai bodoh saja, sudah banyak yang sering memaki dengan membawa-bawa orang tua atau bahkan isu SARA. Dan kita tidak tahu, apakah pemain toxic itu remaja, bapak-bapak, atau anak SD, semuanya sama di balik perisai anonimitas internet.

Kita perlu terus menumbuhkan kultur positif agar game yang kita sukai bisa semakin menyebar luas dan menarik minat para penggemar baru. Menghilangkan kebiasaan yang sudah berjalan lama memang tidak mudah, tetapi saya yakin kita bisa melakukannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image