Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Politik | Thursday, 01 Dec 2022, 16:56 WIB

gara-gara rambut itu / hari-hariku terganggu /

gara-gara rambut itu / hari-hari kucemburu/

ada rambut lain / rambut-rambut cinta yang lain

rambut siapa ini kasih / bikin tak enak hati

(dikutip dari lagu “rambut”, Evie Tamala)

Sam’un Al Ghazi terkulai lemas di atas tempat tidur. Ia benar-benar tak berdaya menggerakkan tubuhnya, padahal tubuhnya hanya terikat dengan beberapa helai rambut panjang miliknya. Istrinya sengaja melakukannya demi imbalan besar dari para raja Bani Israil dan Romawi yang akan memberinya imbalan. Ia begitu gembira dapat melumpuhkan kekuatan suaminya yang sudah beberapa malam ia selalu gagal melakukannya. Tali dan rantai yang dipakai mengikat suaminya selalu hancur luluh.

Menurut sebagian pendapat, Sam’un Al Ghazi merupakan seorang Nabi yang diutus kepada kaum Bani Israil. Tubuhnya kekar dan berambut panjang. Para Raja dari kalangan Bani Israil dan Romawi sangat ketakutan dengan Sang Nabi yang selalu mendakwahkan kebenaran dan keadilan.

Seperti halnya Nabi-Nabi yang lain, ia dibekali berbagai mukjizat, salah satu mukjizatnya seperti yang diberikan kepada Nabi Daud a.s., yakni mampu meluluhlantakkan besi. Namun demikian, ia memiliki kelemahan. Tubuhnya tak akan berdaya jika diikat dengan rambutnya meskipun hanya sehelai. Kelemahan ini pernah diceritakan kepada istrinya ketika ia mencoba beberapa kali mengikat dirinya dengan dalih untuk menguji kekuatannya.

Akhirnya istrinya memanfaatkan kelemahan suaminya. Setelah terkulai tak berdaya, ia diserahkan kepada raja, dan dijatuhi hukuman picis. Pada masa Rasulullah saw, kesabaran Sam’un Al Ghazi dalam menghadapi hukuman menjadi latar belakang keutamaan lailatul qadar.

Meskipun berlainan kisahnya, pada masa Rasulullah saw ada seorang sahabat yang sangat mencintai rambutnya. Sampai akhir hayatnya ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang, merawatnya, dan enggan memotongnya meskipun sedikit. Ia hanya membuang rambut yang benar-benar rontok sendiri. Dialah Abu Mahdzurrah.

Ia enggan memotong rambutnya, karena kepalanya pernah diusap-usap Rasulullah saw. Ia mendo’akan Abu Mahdzurrah yang ketika diusap-usap kepalanya masih membenci Rasulullah saw dan kaum mukminin. Ia dihadapkan kepada Rasulullah saw setelah meniru-niru adzan Bilal dengan maksud mengejeknya. Ketika tertangkap dan dihadapkan kepada Rasulllah saw, ia dido’akan agar menjadi seorang muslim. Do’a Rasulullah saw terkabul, ia menjadi seorang muslim, dan diangkat menjadi muazzin.

Pada era modern, kisah-kisah rambut terus berlanjut dengan berbagai ranah kepentingan ekonomi, estetika, sampai politik. Dengan kata lain, rambut bisa dijadikan ajang bisnis seperti terlahirnya berbagai produk shampo. Rambut bisa pula dijadikan sebagai simbol politik.

Dalam ranah kepresidenan Amerika, rambut pernah dipolitisasi dan diberi berbagai interpretasi yang behubungan dengan kepentingan politik. Rambut menjadi ciri khas setiap presiden Amerika. Menurut catatan Ben Shapiro (2007 : 116) dalam kumpulan esainya Project President, Bad Hair & Botox on The Road to The White House, dari 43 presiden Amerika yang pernah berkuasa, hanya lima presiden yang berkepala plontos. Hampir dalam setiap pemilihan presiden Amerika, model dan warna rambut menjadi perhatian dan konsumsi politik untuk menjadi orang nomor satu, menduduki Gedung Putih.

Jhon F Kennedi dan Ronald Reagan memiliki model rambut yang khas. Konon kabarnya, salah satu faktor kemenangan mereka berdua menjadi presiden karena faktor model rambutnya. Sementara George McGovern tidak memiliki peluang dalam pemilihan presiden Amerika tahun 1972 karena masalah rambut, meskipun yang menjadi masalahnya bukan rambut McGovern, melainkan model rambut para pendukungnya

Demikian pula halnya dengan warna rambut memiliki konotasi yang sarat makna. George Washington presiden pertama Amerika membiarkan rambutnya semakin memutih. Ia merasa bangga dengan rambut putihnya sebagai simbol dan bukti bahwa ia telah lama mengabdi kepada rakyat dan negara. Khalayak tidak perlu meragukan lagi reputasinya yang sudah terjaga dan teruji dengan baik.

Seiring dengan mulai meningkatnya suhu politik menjelang pilihan Presiden 2024, hampir sepekan “rambut putih” dan “kulit keriput” menjadi bahasan politik, mulai dari obrolan di warung kopi, café, radio, televisi, dan di berbagai acara-acara yang bernuansa politis. Hal ini berawal dari pernyataan Presiden Jokowi dalam kegiatan Gerakan Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno (26/11/2022) tentang sosok pemimpin berambut putih dan berkulit mulai keriput.

Karena terucap dari seorang presiden menjelang berakhir masa jabatannya, maka pernyataan tersebut melahirkan berbagai opini yang multitafsir, spekulalatif, dan politis. Bisa juga melahirkan sikap “cemburu” dari politisi lain yang merasa tidak berambut putih.

Kiranya sah-sah saja jika khalayak, terutama para sukarelawan pendukung Jokowi memberikan spekulasi dangkal terhadap pernyataan presiden tersebut. Spekulasi tersebut seolah-olah presiden sedang menggiring para relawan untuk meyakinkan dirinya masing-masing bahwa kelak presiden pengganti dirinya adalah politisi yang berambut putih yang kulitnya mulai keriput, sederhana, dan merakyat.

Demikian pula, khalayak sah-sah saja memberikan tafsiran atas pernyataan presiden tersebut, yakni presiden sedang memancing partai pendukungnya, PDI Perjuangan agar segera menentukan sikap dalam hal menetapkan bakal calon presiden pengganti dirinya. Pernyataan presiden bisa pula ditafsirkan untuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki pendukung fanatik yang bisa manut atas titah, petuah, dan arahannya dalam menentukan bakal calon pemimpin, dalam hal ini presiden, sekalipun harus mengambil resiko berseberangan dengan partai pendukungnya yang masih merahasiakan bakal calon presiden.

Selain itu, sangat memungkinkan pula lahirnya kecemburuan partai-partai pendukungnya atas pernyataan presiden Jokowi tersebut, terlebih-lebih bagi partai yang sudah memiliki bakal calon presiden. Kecemburuan yang bikin tak enak hati ini semakin menjadi-jadi ketika publik mengetahui bahwa sosok politisi yang berambut putih, berkulit mulai keriput, sering blusukan, dan merakyat tersebut hanya seorang, yakni Ganjar Pranowo yang digadang-gadang sebagai bakal calon kuat presiden berikutnya.

Apapun yang terjadi atas pernyataannya, penulis yakin sekali presiden Jokowi telah memperhitungkan berbagai konsekuensinya. Karenanya sangat mustahil jika pernyataan tersebut diucapkan secara spontan. Satu hal yang jelas, pernyataan presiden tersebut telah mengaduk-aduk dugaan dan perasaan khalayak laksana lagu “rambut” yang dilantunkan Evie Tamala, penyanyi dangdut asal Tasikmalaya yang sebagian liriknya dikutip pada awal tulisan ini.

Pernyataan “rambut putih” presiden Jokowi telah membuat hari-hari para politisi “terganggu” , “cemburu”, dan mengundang seribu tanya, rambut siapakah itu?

Para politisi dan khalayak pun berhak menduga-duga di hati presiden ada “rambut-rambut cinta” lain yang berseberangan dengan “rambut” partai pendukungnya. Namun demikian, mudah-mudahan pernyataan rambut putih presiden Jokowi tidak dimaksudkan untuk membikin tak enak hati partai-partai pendukungnya.

Ilustrasi : Presiden Jokowi (sumber gambar : republika.co.id)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image