Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ariyey

Dijuluki Lebay, Kenapa Sih Anak Muda Zaman Sekarang Gampang Stress?

Gaya Hidup | Tuesday, 29 Nov 2022, 18:35 WIB

Sadar nggak, sih? Sekarang banyak banget anak muda yang gampang stress dan depresi. Entah karena masalah akademik, lingkungan pergaulan, atau keluarga. Stress dan depresi seolah-olah menjadi momok menakutkan bagi anak muda karena keadaan itu bisa menuntun seseorang untuk melakukan hal-hal nekat sendirian. Sebenarnya kenapa sih anak muda zaman sekarang gampang merasa down?

Anxious Young Women by Liza Summer on Pexels

Jika dihubungkan dengan situasi masa kini, perkembangan teknologi merupakan salah satu faktor utama penyebabnya. Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat informasi terlalu mudah diakses oleh semua orang dari berbagai belahan dunia. Manusia zaman modern memang haus akan informasi, itu hal yang bagus. Akan tetapi, banyaknya informasi yang masuk ke pikiran seseorang membuat pikiran manusia menjadi terlalu penuh sehingga tidak bisa menyaring informasi mana yang dibutuhkan untuk mereka. Akibatnya, mereka menjadi mudah stress dan tidak tenang.

Selain overload informasi, teknologi juga memungkinkan kita untuk melihat pencapaian orang lain. Lewat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp, orang-orang bisa memposting pencapaiannya dengan beragam cara misalnya lewat tulisan, gambar, atau tautan berita. Tidak bisa dipungkiri kalau pencapaian merupakan hal yang patut di banggakan dalam hidup, mempostingnya di media sosial pun bukanlah hal yang salah. Bahkan, bisa saja orang yang memposting itu ingin memotivasi orang lain dengan pencapaiannya. Namun, pada kenyataannya, banyak orang yang justru merasa fomo (fear or missing out) setelah melihat konten-konten seperti itu.

Fomo merupakan istilah masa kini yang digunakan untuk menjelaskan suatu rasa kecemasan dan ketakutan untuk tetap terhubung dengan seseorang melalui aktivitas yang dilakukan di media sosial agar tidak ketinggalan hal-hal menarik di luar sana, atau bisa juga takut dianggap nggak update. Saat seseorang merasa fomo, ia akan merasa kehilangan, stress, dan tertinggal dari orang lain. Maka dari itu, ketika seseorang melihat postingan orang lain tentang pencapaian mereka, orang itu lalu membandingkan dengan diri sendiri dan merasa jauh tertinggal dari kebanyakan orang. Perasaan seperti itu menyebabkan seseorang menjadi mudah stress dan depresi. Akibatnya, banyak orang menjadi tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Orang-orang yang merasa fomo berusaha untuk selalu mengecek media sosialnya setiap saat. Selain itu, mereka mencoba memaksakan diri untuk mengikuti seluruh kegiatan yang ada agar mendapat pujian dan pengakuan sehingga tidak lagi merasa tertinggal. Padahal hal tersebut justru akan menambah kelelahan fisik dan psikologis bagi penderita fomo itu sendiri karena apa yang mereka lakukan tidak didasari oleh passion.

Jejak digital juga menjadi poin penting dalam topik kita kali ini. Jejak digital atau dikenal juga sebagai digital footprint adalah jejak data yang tertinggal setelah seeorang mengakses internet. Kegiatan seperti posting di media sosial, mengunjungi website, dan mengirim email merupakan contoh dari kegiatan yang meninggalkan jejak digital. Jejak digital ini menjadi berbahaya karena tidak bisa hilang begitu saja. Beberapa kasus yang disebabkan oleh jejak digital biasanya terjadi kepada seseorang yang sedang naik daun, misalnya saja seorang idol K-Pop. Biasanya jejak digital ini dipakai untuk mengungkapkan aib atau hal buruk yang dilakukan seseorang di masa lalu. Tujuannya kadang terlihat jelas yaitu ingin menjatuhkan orang tersebut. Tentu saja hal ini membuat orang yang terkena dampak jejak digital tersebut menjadi terbayang-bayang kembali dan semakin merasa tertekan karena banyak orang yang tahu akan sisi buruknya. Sulitnya menghadapi kenyataan bahwa jejak digital tersebut tidak bisa dihapus dengan mudah membuat beberapa orang menjadi memilih mengakhiri hidupnya sendiri untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Dari beberapa uraian di atas, bisa kita simpulkan kalau perkembangan teknologi memang berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak muda. Stress dan depresi merupakan masalah terbesar yang harus kita lawan saat ini. Sedikit tips untuk mengatasi hal ini ialah fokus terhadap diri sendiri dan jangan bertumpu pada kesuksesan orang lain. Jika media sosial terlalu membebani pikiran, lebih baik gunakan seperlunya saja. Terakhir, gunakan media sosialmu dengan bijak, jangan memposting sesuatu seenaknya sehingga bisa menjadi jejak digital yang akan menjadi boomerang bagi mu di kemudian hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image