Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Joko Susanto

Pura-pura Menjadi Pengemis Demi Mengais Ilmu

Agama | Saturday, 26 Nov 2022, 08:24 WIB

Cerita nyata yang unik dan inspiratif ditunjukkan dalam pengalaman hidup Baqi bin Makhlad, seorang pencari ilmu dari Spanyol. Kisah ini semoga mampu memompa semangat generasi muda dalam menghadapi berbagai kendala ketika menuntut ilmu.

Baqi lahir di Cordoba, Andalusia (Spanyol) tahun 201 H. Dalam buku berjudul 'Kisah-kisah Kesabaran Para Ulama' karya syekh Abdul Fattah, terbitan Zam-zam 2021 diuraikan kisah langka sepanjang masa.

Demi mendengar keahlian Imam Ahmad bin Hambal dalam ilmu hadits, dia sangat tertarik untuk menimba ilmu langsung darinya. Dia menyeberang selat Gibraltar, melintasi Maroko, menembus gurun pasir Libya, menyusuri lembah Sungai Nil hingga tiba di Baghdad, Irak, tempat sang guru yang dicarinya tinggal. Jarak yang membentang demikian jauh itu ditempuhnya hanya dengan berjalan kaki.

Perjuangan berat yang dia lakukan demi menggapai mimpinya perlahan-lahan mulai mendekati kenyataan. Namun, kabar yang kemudian didengarnya membuatnya kecewa dan bersedih. Ketika mendekati perkampungan Imam Ahmad, dia mendengar kabar bahwa sang Imam sedang dihukum oleh sultan yang berkuasa.Guru itu diisolir Imam Ahmad tidak boleh bergaul dengan masyarakat, begitu juga sebaliknya. Ulama itu tidak boleh mengajar dan tidak boleh didatangi murid-muridnya.

Agar perjalanannya tidak sia-sia, Baqi mencari penginapan di Baghdad. Setelah meletakkan barang-barang bawaannya di sana, dia menuju Masjid Jami’ Al-Kabir. Dia duduk bergabung dengan majelis ilmu, mendengarkan pengajian yang ternyata diasuh oleh Yahya bin Ma’in. Baqi makin bersemangat ketika mendengar nama itu karena dia tahu Yahya bin Ma’in adalah ahli hadits terkemuka.

Ketika ada kesempatan, Baqi’ bertanya kepada Yahya bin Ma’in tentang sosok Imam Ahmad bin Hambal.

“Apakah lelaki sepertiku berhak berkomentar mengenai Imam Ahmad bin Hambal? Beliau adalah imam umat Islam, lelaki terbaik yang dimiliki umat,” jawab Yahya bin Ma’in.

Tidak lama kemudian, Baqi pun pergi mencari Imam Ahmad. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah dia di depan sebuah rumah. Dari seorang lelaki yang ditemuinya di jalanan Baghdad, dia tahu itulah rumah milik seseorang yang jauh-jauh dicarinya.

Dia mengetuk pintu lalu menunggu sejenak. Seseorang muncul dari balik pintu. Imam Ahmad pun heran, di hadapannya ada orang asing yang belum pernah dilihatnya. Baqi disuruh masuk ke sebuah lorong agar tidak terlihat oleh siapa pun. Imam Ahmad bertanya. "Kamu dari negeri mana? Apakah Afrika?"

Baqi menjawab,"Lebih jauh lagi wahai imam. Aku perlu menyeberangi lautan untuk sampai di Afrika. Negeriku Andalus (Spanyol), aku pencari ilmu."

Sang imam kagum, "Negerimu benar-benar jauh. Tidak ada sesuatu pun yang lebih aku sukai selain membantu orang sepertimu dengan baik untuk mewujudkan keinginanmu. Hanya saja, saat ini aku mendapat ujian yang mungkin sudah kamu dengar."

Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangannya, Imam Ahmad memperhatikan sekelilingnya kalau-kalau mata-mata sultan memergoki mereka.

Imam Ahmad menceritakan bahwa dirinya diboikot dan sangat dibatasi, meskipun sebenarnya sangat kasihan karena tidak bisa memenuhi keinginan Baqi untuk belajar. Beberapa waktu kemudian, dia mempunyai ide yang unik.

Dia usul menyamar sebagai seorang pengemis yang datang setiap hari karena apabila diketahui oleh mata-mata raja maka mereka semuanya akan dihukum. Keesokan harinya Baqi menyamar sebagai seorang pengemis yang berdiri di depan pintu lalu memanggil dan meminta-minta layaknya seorang pengemis. Saat itulah dia berkesempatan menuntut ilmu meskipun sedikit karena waktunya terbatas. Imam setuju usul itu dengan syarat Baqi tidak memunculkan diri di majelis-majelis umum yang lain.

Pada hari berikutnya, Baqi mengambil ranting pohon, lalu membebat kepalanya dengan kain. Kertas dan tinta disembunyikan di balik lengan baju. Kemudian, dia berteriak-teriak di depan pintu seperti pengemis di sana. Imam lalu keluar menyampaikan hadits sebanyak dua, tiga, atau lebih.

Sedikit ilmu berupa hadits setiap hari cukup bagi dia kemudian pergi ke sebuah lokasi yang tersembunyi. Rencana itu berlanjut. Tidak terasa, hadits yang dia peroleh mencapai sekitar 300 hadits.

Cara belajar antik ini berlangsung selama puluhan hari hingga akhirnya raja yang menghukum Imam Ahmad meninggal dunia. Sultan penggantinya membebaskan Imam Ahmad dari segala hukuman. Murid-muridnya pun kembali normal seperti sedia kala. Di setiap pengajiannya Imam Ahmad menceritakan kisah kegigihan muridnya dari Spanyol itu dalam mencari ilmu di hadapan murid-muridnya yang lain.

Dia bangga dengan keuletan dan ketekunan murid yang satu ini. “Ini adalah sosok penuntut ilmu sejati,” tutur Imam Ahmad di hadapan murid-muridnya yang lain. Baqi bin Makhlad menulis kitab tafsirnya sekitar abad ketiga hijriah. Selama 24 tahun lebih, dia menjelajahi daerah pusat-pusat kajian Islam di Makkah, Madinah, Baghdad, Kufah, Damaskus, maupun Kairo. Baqi wafat tahun 276 H di Andalusia. Semoga Allah merahmatinya dan kita semua.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image