Kasus Perundungan Semakin Merebak di Negara Ini Apa Penyebabnya?

Image
Asri Hartanti on Ahaa Channel
Politik | Tuesday, 22 Nov 2022, 12:06 WIB

Kasus bullying atau perundungan yang terjadi antar pelajar di sekolah acap kali terjadi, bahkan beberapa di antaranya berujung pada kematian korban. Kasus perundungan terakhir yang sedang viral di berbagai media sosial di Indonesia adalah ditendangnya seorang nenek di pinggir jalan, dan pelakunya adalah seorang pelajar yang disinyalir berasal dari Tapanuli Selatan. Miris sekali. Tanpa ada perasaan bersalah sama sekali, pelaku melakukan hal tersebut. Teman-temannyapun tidak ada sama sekali yang merasa iba dan marah dengan perbuatan temannya tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang salah dengan remaja-remaja saat ini? Siapa yang perlu kita persalahakan dalam hal ini, apakah sistem pendidikan di negara ini, sistem sosial, atau apa? Menyalahkan dalam hal ini adalah hal yang perlu dilakukan, agar kita paham apa yang sebenarnya menjadi faktor semakin nyungsep nya attitude anak-anak zaman sekarang, sehingga selamatlah negara ini dari kehancuran.

Secara mikro, perilaku bullying bisa disebabkan oleh latar belakang keluarga yang memang tidak kondusif bagi anak untuk bertumbuh kembang. Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home misalnya, mempunyai kecenderungan untuk berperilaku menyimpang, seperti perilaku seks bebas, kekerasan, dan lain-lain. Bullying bisa dikategorikan sebagai perbuatan kekerasan di sini.

Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa terjadi keluarga broken home?Yang paling sering menjadi pemicunya adalah kasus perceraian antara suami dan istri atau hubungan ke duanya yang tidak atau kurang harmonis. Apa yang menyebabkan ketidakharmonisan atau perceraian tersebut? Salah satu faktornya dan yang paling banyak menyebabkan terjadinya hal tersebut adalah faktor ekonomi. Para suami tertekan dengan harus menghidupi keluarganya, di tengah kondisi ekonomi negara ini yang sama sekali tidak baik. Para istripun tertekan karena harus berpikir keras memberi makan anak-anaknya sementara penghasilan suami pas-pas an atau bahkan belum tentu menghasilkan. Di tengah kondisi tertekan ini, percekcokan akan sering terjadi.

Kalau sudah sampai pada persoalan ekonomi, maka mau tidak mau, kita harus mempertanyakan peran pemerintah selama ini. Semua orang paham, apalagi dengan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya, namun kekayaannya telah, sedang, dan akan selalu saja dirampas oleh pihak-pihak yang lebih berkuasa. Penggiatan pajak tidak akan mengangkat negara ini, terutama dalam bidang ekonomi. Ia malah akan semakin menambah kesengsaraan rakyat. Usaha-usaha lainpun seperti penggiatan UMKM atau gebrakan ekonomi yang berkaitan dengan bidang wisatapun tidak akan banyak membantu. Negara ini sudah terperosok ke jurang yang terlalu dalam untuk terbantu dengan gerakan-gerakan seperti itu.

Kembali pada permasalahan perundungan, selain karena faktor keluarga, kecenderungan melakukan hal ini bisa juga terjadi karena pengaruh dari luar seperti tontonan yang dikonsumsi oleh remaja dalam kesehariannya. Kebanyakan remaja masih berjiwa labil sehingga pengaruh apapun bisa dengan mudah masuk ke dalam pemahamannya.

Mau tidak mau, peran agar terhindarnya para remaja dari tontonan-tontonan yang merusak karakter mereka, harus dimainkan oleh pemerintah. Tidak mungkin seorang individual melakukan pemblokiran terhadap sebuah channel youtube atau akun di tik tok, bukan?

Belum lagi masalah carut marut sistem pendidikan di Indonesia. Ini juga bisa menjadi faktor kenapa para remaja saat ini mempunyai kecenderungan melakukan perundungan atau kekerasan. Pelajaran agama atau Pendidikan Kewarganegaraan diberikan di semua tingkat sekolah di Indonesia baik dasar, menengah maupun atas. Pendidikan karakter juga digencarkan di sekolah-sekolah. Namun agaknya usaha-usaha tersebut tidak banyak berefek banyak pada perilaku peserta didik. Kenapa demikian? Sistem pendidikan kita belum mampu memformulasikan sebuah metode pembelajaran dimana peserta didik tidak hanya dijejali teori-teori belaka, namun juga harus diberi banyak waktu untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang juga tidak kalah penting, sistem pendidikan juga harus mampu memonitor perkembangannya.

Kesimpulannya, kita semua, dari berbagai macam lini, harus bekerja ekstra keras untuk mengatasinya. Orang tua juga harus menjaga sikap agar anak-anaknya selalu bertumbuh kembang dalam keluarga yang layak. Para guru juga harus bekerja ekstra keras untuk mendidik muris-muridnya. Pemerintah juga harus bekerja lebih keras menjaga agar generasi muda tidak dirusak oleh media-media sosial tertentu, dan mengupayakan terciptanya perekonomian negara yang stabil.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image