Pemuda Bernama Jarwo

Image
Rizky Ramadhan Fuldya
Curhat | Monday, 07 Nov 2022, 20:54 WIB

Dulu sekali aku hanya pemuda polos yang hanya bersekolah di suatu daerah. Menempuh pendidikan SMA (Sekolah Menengah Akhir) yang katanya mempunyai kisah cinta, cerita, dan canda tawa ada di dalam cerita awal sampai akhir sekolah. Kata orang sekitarku bahwa menikmati masa SMA adalah anugerah yang indah, sebab masa remaja menuju dewasa atau bisa dikatakan pra-dewasa adalah hal yang tak perlu memikirkan apapun tentang kehidupan.

Aku yakin perkataan orang-orang itu ada benarnya, bahkan dapat dibuktikan dengan manusia komuter yang bolak-balik dari kota ke kota lainnya hanya untuk mencari secarik kertas bernamakan uang. Bermandikan jabatan yang mereka inginkan, kadang memakan satu sama lain. Padahal mereka sama-sama manusia, tapi kenapa mereka suka memakan sesama? Bukannya sama saja kita sebagai manusia seperti zombie di film-film barat?

Terkadang juga aku menemui mereka yang hilang arah sama sepertiku, mengelilingi kota Jakarta tanpa tujuan. Coba saja kalian tengok sedikit untuk melihat mereka yang tanpa tujuan, apakah akan dapat kesenangan dari perjalanannya? Tentu saja kurasa mereka mendapatkan kesenangan. Karena baginya kesedihan adalah sebuah kesenangan yang mereka dapatkan dari lika-liku kehidupan.

Ah, aku terlalu banyak cerita tentang mereka yang sama sekali tak ku kenal, siapa namanya? Dimana rumahnya? Kapan ia lahir? Bagaimana kehidupannya? Terlalu banyak pertanyaan dalam hidup yang tak dapat terjawab.

Bahkan aku tak sempat mengenalkan diriku sendiri pada dunia yang sedang kacau balau ini.

Aku hanyalah kebiasaan buruk manusia dari sebagian kebaikan manusia. Anggap saja sebagai delusi, bahkan bisa dikatakan dengan utopis yang suka berandai-andai dengan kekayaan dunia. Merindukan kenyataan masa kecil, menuliskan apa yang ingin dicapai, dan satu lagi yang sangat diinginkan itu mempunyai harta, tahta, bahkan kalau manusia yang tak tau apa itu feminisme yang membicarakan kemerdekaan perempuan, menjadi salah satu poin yang sempurna dengan harta, tahta, dan wanita.

Memang apa yang lebih indah dibandingkan mempunyai 3 poin itu? Tentu saja dan sangat pasti banyak yang ingin memilikinya. Entah harta untuk bersenang-senang, tahta untuk memperluas kuasa yang terbilang prestis untuk diri sendiri, dan juga perempuan yang membuat bahagia. Namun arti perempuan dalam konteks itu hanyalah bias bagi sebagian manusia. Jadi, cobalah pikirkan sendiri mengapa arti itu menjadi bias bagi kita.

Kadang juga aku bertanya pada diriku sendiri mengenai dunia yang sudah menjadi poros kehidupan untuk mencapai poin tersebut.

Anggap saja aku sedang berbicara sendiri dengan diriku yang ada di dalam ruh yang bersemayam dalam tubuhku ini.

“memang apa nikmatnya sih kamu mencari kegilaan itu?”

“yah begitulah, tanpa adanya itu, kamu gak akan lengkap hidup di dunia,”

“Loh, bisa aja lengkap tanpa adanya itu, kamu cari aja kebahagiaanmu sendiri di dunia ini. Bahkan kalaupun kamu menemukannya, kamu akan merdeka dari dunia,”

“Nggak mungkin lah, kamu yang utopis tak begitu paham soal kenyataan dunia yang ada di depan mata,”

“Oh iya, yasudah cari saja kebahagiaanmu itu dengan segala cinta yang kamu ingin miliki, bukan dengan cinta yang tumbuh bersatu di dalam ruhmu itu,”

Sejenak sebagian dari diriku menghilang.

Aku tak memikirkan perkataannya, sebab hanya diriku yang ada di dalam ilusiku itu adalah bagian utopis dari kehidupan. Bahkan sifat utopis bisa menusuk jantung yang dilapisi oleh tulang belulang di dalam dada ini. Karena berangan-angan banyak digambarkan ketika kita masih kecil. Saat dewasa, angan-angan hanyalah mimpi yang tak terpenuhi ketika mata kita sudah terjaga dari lelapnya tidur di malam hari.

Lalu aku juga berpikiran untuk menjadi utopis yang hanya berandai dunia akan terjebak dalam realitas semu di balik layar gawai yang mereka idam-idamkan dan juga hal itu akan menjadikan kita sebagai makhluk utopis yang berandai-anda melihat segala bentuk media semu. Bahkan tak adanya makna dari bayangan yang kita lihat dari layar gawai kita, informasi hanya sebagai bentuk semu, tak juga berbentuk makna yang didapatinya.

Bahkan aku juga terlena dengan kesemuan itu, beranjak dari teman-temanku yang menikmati hidup di dalam sosial media, membuat rasa yang bergejolak. Rasa itu menjadi delusi. Seperti, kapan ya aku bisa seperti itu? Atau aku ingin seperti dirinya yang menikmati hidupnya tanpa beban yang dirasa. O maaf aku terjebak lagi dalam realitas semu yang kubuat.

Mungkin ini sudah terlalu panjang aku menulis tak begitu jelas tentang diriku yang menggambarkan dirimu, anggap saja sebagai pembaca handal yang dapat memberi arti tulisanku yang acak-acakan ini. Di awal tulisan juga sudah kukatakan, kalau aku pemuda yang hilang arah.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image