Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Munawar Khalil N

Menjaga Kewarasan Diri

Gaya Hidup | Thursday, 13 Oct 2022, 00:07 WIB

Baru-baru ini seorang mahasiswa loncat dari lantai 11 salah satu hotel di Yogyakarta. Dari penyelidikan kepolisian, kuat dugaan mahasiswa ini bunuh diri karena mengalami depresi. Dari tas korban, ditemukan surat pemeriksaan psikologi dari RS. Ini peristiwa memilukan di mana satu nyawa generasi muda hilang hanya karena tidak mampu mengatasi pikirannya sendiri.

Foto: freepik.com

Fenomena bunuh diri cukup mengkhawatirkan. Dari sumber di media, di Yogyakarta kenaikan tingkat bunuh diri meningkat dari 29 kasus di tahun 2020 menjadi 38 kasus di tahun 2021. Kenaikan yg sama juga terjadi di Bali di mana pada tahun 2020 terdapat 64 orang yang bunuh diri, meningkat menjadi 125 di tahun 2021.

Ada yang berpendapat meningkatnya kasus bunuh diri di beberapa daerah disebabkan karena dampak pandemi. Perekonomian menurun dan tentu saja membuat cemas banyak orang. Studi dari World Health Organization (WHO) mencatat, pada tahun pertama pandemi, prevalensi global kecemasan dan bahkan depresi meningkat masif mencapai 25 persen.

Dunia dilanda kecemasan global. Belum lagi usai pandemi, belakangan diguncang perang Rusia - Ukraina. Memang hanya dua negara itu yang berperang, tapi dampaknya kemana-mana. Kenaikan harga BBM dan juga harga pangan semakin menambah kecemasan publik.

Momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2022 rasanya sangat relevan menjadi pengingat di tengah tantangan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan Ambiguity) yang dihadapi saat ini. Bahwa kita harus peduli pada kesehatan mental sendiri dan juga aware dengan kesehatan mental orang-orang terdekat kita.

Banyaknya kasus bunuh diri karena tidak lagi mampu mengatasi kecamuk di dalam diri. Mungkin jika si mahasiswa tadi sedikit mendapat pemahaman keagamaan atau permenungan filosofis, ia mungkin akan mendapat insight baru dalam cara pandangnya terhadap kehidupan. Bahwa sebetulnya, seperti yang perkataan Marcus Aurelius yang dikutip di dalam buku Filosofi Teras, “Kamu memiliki kendali atas pikiranmu, bukan kejadian-kejadian di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan.”

Mungkin kita juga perlu membaca kisah Viktor Frankl yang ditulis dalam buku berjudul Man’s Search For Meaning. Ini penting untuk memahami bahwa pandemi dan situasi ketidakpastian sekarang ini seharusnya tidak mengubah jiwa kita menjadi sakit. “Tidak ada yang dapat merenggut kebebasan seseorang meski itu penjara, penyiksaan atau penderitaan,” Kata Frankl.

Frankl adalah seorang psikiater keturunan Yahudi yang dijebloskan ke kamp konsentrasi. Orangtua, saudara laki-laki, dan istrinya yang tengah hamil akhirnya tewas di dalam kamp. Namun Frankl berhasil bertahan hidup dan akhirnya menulis buku tersebut.

Buku ini berisi catatan Frankl ketika berada di dalam kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan pada tahun 1942 – 1945. Kamp ini menewaskan 1,5 juta orang dan melakukan penyiksaan secara mengerikan. Bayangkan, sudah dipaksa bekerja fisik dengan biadab, makanan dan pakaian terbatas, hingga kamar gas menanti di ujung penderitaan.

Buku ini berisi dua bagian utama. Pertama, pengalaman dan makna hidup bagi Frankl ketika menjalani berbagai penyiksaan dan kekejian di Kamp Konsentrasi. Bagian kedua mengulas sekilas tentang logoterapi, teori yang dikembangkan Frankl tentang bagaimana manusia seharusnya berpusat pada pencarian makna alih-alih kebahagiaan.

Frankl mengemukakan teorinya yang ia namai logoterapi. Di bagian kedua dari buku MSfM ini ia menguraikan apa itu logoterapi. Judul buku ini sebetulnya merupakan intisari dari teorinya. Bahwa yang membuat manusia tetap bertahan hidup adalah karena ada makna ia pahami secara spesifik.

Kata “logos” dalam logoterapi berasal dari bahasa Yunani yang berarti “makna.” Logoterapi memusatkan perhatian pada makna hidup dan upaya manusia untuk mencari makna hidup tersebut (will to meaning). Berbeda dengan aliran psikoanalisis Freud yang memusatkan pada will to pleasure (keinginan untuk mencari kesenangan atau kenikmatan), dan aliran psikologi Adler yang memusatkan perhatian pada will to power (keinginan untuk mencari kekuasaan).

Bahagia menurut logoterapi bukanlah tujuan, itu hanya efek samping dari makna yang diraih seseorang dalam menghadapi situasi di hidupnya. Makna tidak berkaitan dengan situasi apa yang dihadapi oleh seseorang. Entah itu kesenangan atau penderitaan, manusia bisa mendapat makna dan karena itu mereka punya alasan untuk bertahan hidup.

Makna hidup menurut Frankl berbeda untuk setiap manusia. Dan berbeda pula dari waktu ke waktu. Karena itu, kita tidak bisa merumuskan makna hidup secara umum. Saya ingin mengutip satu cerita di buku MSfM ini tentang bagaimana Frankl mengubah cara pandang seseorang hingga akhirnya ia menemukan makna hidupnya.

Seorang dokter umum berusia lanjut datang ke tempat praktik Frankl. Dia merasa sangat tertekan. Dia yang seorang dokter tidak bisa melupakan kematian istrinya yang terjadi dua tahun lalu. Orang yang dia cintai lebih dari siapapun.

“Bagaimana saya bisa menolongnya? Apa yang harus saya katakan kepadanya?” kata si dokter.

Frankl tidak mengatakan apapun selain mengajukan satu pertanyaan, “Katakan, Dokter, apa yang mungkin terjadi jika Anda lebih dulu meninggal daripada istri Anda,?

“Oh, dia pasti akan merasa sangat sedih, betapa akan menderitanya dia!,” jawab si dokter.

Mendengar jawaban itu, Frankl berkata, “Anda lihat, Dokter, mendiang istri Anda terbebas dari penderitaan seperti itu, dan Andalah yang membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Anda harus membayarnya dengan tetap hidup dan berkabung untuknya,”

Tanpa berkata apa-apa dokter itu menyalami Frankl.

Dalam banyak hal, penderitaan tidak lagi menjadi penderitaan ketika sudah menemukan maknanya, misalnya makna dari sebuah pengorbanan yang kita lakukan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image