Memangnya Allah sudah tidur nyenyak, tak akan melihat dan mengetahui terhadap apa yang kita lakukan

Image
Ade Sudaryat
Agama | Thursday, 29 Sep 2022, 14:25 WIB

Khalifah Umar bin Khaththab r.a. membebaskan seorang budak belian penggembala kambing. Satu hal yang mendorong membebaskannya adalah kejujuran dari sang budak tersebut.

“Kambing majikanmu ini kan sangat banyak, ia tak mungkin menghitungnya setiap kamu menggiringnya kembali ke kandang. Karenanya, aku beli satu ekor. Uangnya untuk kamu, lumayan, kan?” Demikian kata khalifah Umar bin Khattab r.a. ketika sedang melakukan blusukan.

Sebenarnya ia tidak bermaksud membeli kambing dari sang budak penggembala, ia hanya menguji sejauh mana kejujuran orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya ketika diberi amanah. Ia terkejut sekaligus terkesan ketika mendengar jawaban dari budak penggembala kambing tersebut.

“Benar sekali. Majikanku tidak akan mengetahui karena penglihatannya sangat terbatas, setahuku ia pun tidak pernah menghitung kambingnya setiap aku pulang menggembalakannya. Namun perlu Anda ketahui, pertama aku ditugaskan majikanku untuk menggembala kambing-kambing ini, bukan untuk menjualnya. Kedua, majikanku tidak akan mengetahui seandainya aku menjual beberapa ekor dari kambing-kambing ini.” Jawab budak penggembala.

“Aku akan siap menjual sebagian dari kambing-kambing ini, jangankan seekor, lebih dari itu pun aku siap menjualnya, namun tolong sembunyikan kelakuan dan tindakanku dari penglihatan Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha melihat, Zat Pencipta aku, Anda, dan majikanku.” Kata sang penggembala melanjutkan jawabannya.

Singkat cerita, Khalifah Umar bin Khaththab r.a. sangat terkesan dengan kejujuran dan keyakinan budak penggembala tersebut. Ia sangat yakin akan keberadaan Allah yang selamanya memperhatikannya.

Tak akan ada satu perbuatanpun yang lepas dari pengawasannya, bahkan sehelai daun yang jatuh di malam hari yang gelap gulita pun, pasti Ia mengetahuinya. Kemudian ia mendatangi majikan sang budak penggembala, dan ia menebus budak tersebut, dan memerdekakan statusnya dari budak belian menjadi orang yang sederajat kedudukannya dengan orang-orang pada umumnya.

Lain lagi kisah, karena hujan lebat ketika di tengah perjalanan, tiga orang pemuda berteduh di dalam sebuah goa. Ketika sedang berada di dalam goa, di luar goa terjadi longsor, dan ada sebuah batu besar yang menggelinding dan jatuh menutup lawang goa tersebut. Mereka tak bisa keluar dari goa tersebut.

Di tengah-tengah kesulitan yang menimpa mereka, salah seorang dari mereka berkata, “Kita sudah berusaha menyingirkan batu dari lawang goa ini. Namun tenaga kita terbatas, tak mungkin bisa menyingkirkannya. Kini tak ada jalan lain, kecuali memohon pertolongan kepada Allah. Masing-masing dari kita pasti memiliki amal terbaik yang pernah kita perbuat. Janji Allah mustahil bohong, Ia akan selalu membalas perbuatan baik hamba-hamba-Nya.”

Masing-masing dari mereka berdo’a, memohon kepada Alloh dengan bertawassul, menyebut kebaikan yang pernah mereka lakukan. Salah seorang dari mereka berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang membutuhkan uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (berzina). Ia pun menyetujuinya.”

Sesuai dengan kesepakan, tibalah aku dan puteri pamanku di suatu tempat pada malam hari. Tak ada orang lain kecuali aku dan dirinya. Namun ketika aku akan melakukan perbuatan bejadku, ia berkata, “Perbuatan ini tidak halal, dan tidak mungkin lepas dari pengawasan Allah. Semua orang sudah tertidur lelap, namun bagi Allah jangankan tidur nyenyak, mengantuk pun mustahil bagi-Nya. Ia selamanya terjaga dan mengetahui apa yang kita lakukan.”

Aku merinding mendengar perkataan puteri pamanku tersebut. Kemudian aku meninggalkannya karena takut kepada Allah, dan memberikan uang tersebut kepada puteri pamanku.

“Ya Allah, jikalau aku mengerjakan perbuatan tersebut dengan niat benar-benar mengharapkan keridaan-Mu, maka lepaskanlah aku dari kesukaran yang sedang aku hadapi ini.”

Tak lama kemudian, batu besar itu tiba-tiba bergeser, terbuka. Cahaya terang dari luar mulai dapat masuk ke dalam goa, namun mereka masih belum dapat keluar.

Singkat cerita, masing-masing dari mereka berdo’a, bertawasul dengan amal terbaik mereka. Do’a mereka terkabul sampai akhirnya mereka bisa selamat keluar dari goa tersebut. Kisah ini diabadikan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, hadits nomor 2272, dan Imam Muslim, hadits nomor 2743.

Dari dua kisah tersebut kita dapat menggarisbawahi, keyakinan kepada Allah akan menyelamatkan kehidupan kita sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar kita. Berbagai kemaksiatan dan tindak kejahatan yang terjadi pada saat ini pokok pangkal penyebabnya karena para pelakunya merasa tak berdosa, tak ada yang melihat serta mengawasi perbuatannya.

Seorang pejabat melakukan korupsi karena ia beranggapan atasannya atau otoritas yang berwenang memantau jabatannya sedang lalai mengawasinya. Kita sering melakukan ghibah karena kita merasa tidak ada pihak lain yang mendengarkan pembicaraan kita, kecuali diri kita dan orang yang kita ajak bicara. Padahal jika kita semua menyadari, pengawasan Allah mustahil lalai.

“Kamera pengintai” yang Allah titipkan kepada dua malaikat pencatat amal kita tak mungkin rusak, macet, atau sengaja dirusak orang sebagai upaya menghilangkan barang bukti dan kesaksian. Tak akan ada seorang pun yang mampu melakukan obstruction of justice terhadap barang bukti, kesaksian, dan pencatatan perbuatan kita di hadapan Allah. Tak ada tempat tersembunyi di hadapan Allah.

Jika suatu tempat diawasi dengan kamera CCTV 24 jam nonstop, suatu saat kamera tersebut pasti akan mengalami kerusakan atau sengaja dirusak untuk menghilangkan jejak perbuatan jahat. Jika suatu tempat diawasi petugas keamanan 24 jam nonstop, suatu saat pasti petugas keamanan tersebut akan merasa kelelahan, mengantuk, dan tertidur. Ia tak akan mengetahui peristiwa yang terjadi pada saat ia tertidur lelap.

Pengawasan Allah sangat jauh berbeda dengan kamera CCTV atau petugas keamanan. Bagi Allah jangankan tertidur, mengantuk pun sangat mustahil bagi-Nya.

Ibrahim bin Adham, salah seorang ulama sufi mengatakan, siapapun boleh bebas melakukan kemaksiatan apapun, asal memenuhi beberapa persayaratan. Salah satunya, kemaksiatan tersebut harus dilakukan di tempat yang lepas dari pengawasan Allah.

Intinya, kita harus meyakini bahwa kehidupan kita tak mungkin lepas dari pengawasan-Nya. Apapun yang kita lakukan kelak akan Allah perlihatkan kepada kita. Karenanya, ketika terbesit di hati kita untuk melakukan suatu perbuatan nista, jahat, atau maksiat, kita harus bertanya kepada diri kita, memangnya Allah sudah tidur nyenyak, tak akan melihat dan mengetahui terhadap apa yang kita lakukan?

ilustrasi : lafadz Allah
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Islamofobia dan Wanita-Wanita Muslim

Image

Lapas Narkotika Purwokerto Jalin Kerjasama dengan Kantor Pos Indonesia Cabang Purwokerto

Image

Trash-Talk dalam Dunia Game Online

Image

Kaum Feminisme dalam Cengkraman Patriarki

Image

MAdinah Iman Wisata Serahkan Donasi Bantu Korban Gempa Cianjur

Image

Menebak-nebak Rambut Putih Pak Jokowi, Menggiring atau Memancing?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image