Revolusi Islam dan Keberagaman Di Indonesia

Image
Sri Mardaleni
Politik | Wednesday, 28 Sep 2022, 10:12 WIB

Sebagai bagian dari makhluk hidup di dunia, manusia tidak akan lepas dari masalah. Tidak hanya sekali atau dua kali masalah dihadapi manusia pada umumnya. Oleh karena itu, manusia yang memiliki masalah akan mencari akal atau ide baru guna memecahkan persoalan, dengan harapan merasakan ketenangan jiwa. Kembali kepada Tuhan adalah jalan yang membuat hidup terasa berarti dan terarah, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang dapat hidup tenang tanpa tuntunan sebuah agama.

Blue Roof Structure Under Blue Sky · Free Stock Photo (pexels.com)" />
Blue Roof Structure Under Blue Sky · Free Stock Photo (pexels.com)

Saat ini masyarakat Indonesia dan dunia sedang dilanda masalah besar, memiliki keberagaman agama tidak membuat Indonesia itu sendiri menjadi sebuah kebahagian. Akan tetapi, dalam perkembangan dan pertumbuhan keberagaman tadi menjadi sebuah penyakit. Adanya saling hina agama, Tuhan dan pelarangan memiliki tempat ibadah serta dihindari dari pergaulan.

Kejadian seperti ini tidak seberat yang dialami Mahsa Amini, ini adalah pelangaran HAM berat. Dari kronologinya hanya sebatas mengunjungi sanak saudara di daerah Teheran, Selasa, 13 September 2022. Sebelum sampai pada tujuan telah diberhentikan oleh Patroli Polisi Moral tepat di jalan masuk Raya Haqqani. Hanya persoalan tidak memakai hijab sesuai Revolui Islam sejak 1979 diberlakukanya aturan tersebut di Iran, Mahsa Amini koma selama tiga hari setelah kejadian penangkapan tersebut dan meninggal dunia pada 16 September 2022.

Apa itu Revolusi Islam? Secara umum Revolusi Iran juga dikenal dengan sebutan Revolusi Islam, Persia: انقلاب اسلامی, Enghelābe Eslāmi adalah revolusi yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam.

Bagaimana pula nasib perempuan-perempuan lain dalam hal ini? Semua terancam atas kematian yang sama. Apa kita akan diam dan tidak berbuat apa-apa? Beruntung sekali Indonesia mampu menjaga keberagaman. Kalau lah tidak seperti itu bagaimana pula nasib perempuan-perempuan Indonesia? Jika saja terjadi pula Revolusi Islam di Indonesia tentu akan memperhalus atau memudahkan masyarakatnya untuk mentaati intruksi tersebut sebab kebebasan bukan hanya persoalan Islam. Memang Indonesia lebih mayoritas penduduk pemeluk agama Islam. Akan tetapi, bukan berarti Indonesia ini hanya milik umat Islam melainkan milik bersama. Milik umat Kriten, umat Hindu, umat Budha dan umat Konghucu.

Pencegahan ini perlu dilakukan agar tidak terjadi distorsi dalam menafsirkan ajaran agama menjadi kebencian, kekerasan maupun teror terhadap kemanusiaan karena perbedaan. Mereka yang berpotensi terpapar secara langsung adalah kelompok atau individu yang memiliki kecenderungan terhadap ekstremisme dengan berbagai latar belakang. Pada dasarnya umat manusia terlahir tidak cenderung menjadi ekstrimis dan pro-kekerasan. Proses sosial, budaya dan politik tertentulah yang membentuk karakter ekstremisme kekerasan.

Perang melawan ekstremisme harus dipahami sebagai upaya untuk memulihkan kemanusiaan, mengajak manusia kembali pada jati diri manusiawi yang non-ekstrem dan menolak segala bentuk kekerasan.

Nampaknya, kita perlu mencari solusi atas kejadian ini. Jika saja ada Revolusi Islam di Indonesia tentu Pancasila mampu menjadi solusi. Solusi atas kekerasan, kebebasan dan pelangaran HAM yang terjadi karena ekstremisme kekerasan. Kenapa harus Pancasila? Pancasila sebagai dasar negara Indonesia mempunyai nilai-nilai keseimbangan hukum, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai moral. Dengan memahami Pancasila melalui pemahaman historis, tulisan ini menyimpulkan bahwa Pancasila menjadi ideologi negara yang universal dan komperhensif yang memuat relasi hablumminallah, hablumminannas, dan hablum minal alam untuk mencapai tujuan rahmatan lil alamiin.

Sebagai dasar falsafah, Pancasila memperoleh sumber nilai dalam konteks perjalanan dinamis sejarah kebudayaan bangsa. Pembentukan sumber nilai yang tercakup kedalam sistem falsafah kebangsaan telah berjalan dalam sejarah yang panjang. Eksistensi Pancasila adalah suatu pencapaian riil dalam tegaknya Negara hukum. Sebaliknya, permasalahan hukum dan tidak terstruktur konstruksi hukum akan terjadi jika tidak ada Pancasila.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Perempuan Dalam Ingatan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

9 Mahasiswi Magister Kebidanan Ikuti Program IPP ke Inggris

Image

INDONESIA MASUK DALAM DAFTAR WISATA HALAL TERBAIK DIDUNIA

Image

Download Video YouTube ke Lagu MP3 Gratis 2022 YTMP3

Image

Karutan Prabumulih Ikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Capaian Kinerja Tahun 2022

Image

Jadi Negara Arab yang Lolos Perempat Final Piala Dunia 2022, Begini Fakta The Lion Atlas

Image

Kebijakan Fiskal Dalam Perspektif Islam

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image