Optimalisasi Baitul Maal di Masjid

Image
Edo Segara Gustanto
Bisnis | Monday, 19 Sep 2022, 19:31 WIB
Sumber: Republika.co.id

Saya lupa persisnya kapan, salah satu dosen ekonomi Islam yang sekarang berkiprah di BPKH RI, Muhammad Akhyar Adnan pernah menulis di sebuah media Kedaulatan Rakyat (KR) tentang potensi uang zakat, infak dan sedekah (ZIS) di masjid seluruh Yogyakarta.

Dalam tulisannya, bahwa potensinya sangat luar biasa. Sayangnya, banyak masjid yang tidak mengoptimalkan potensinya. Dan kalau mau di-update lagi datanya hari-hari ini, saya yakin lebih besar lagi potensinya.

Kenapa saya kepikiran tentang baitul maal? Terus terang karena banyak peristiwa akhir-akhir yang kemudian mendorong saya berfikir bahwa seharusnya potensi ZIS Masjid ini bisa dioptimalkan.

Banyak di sekitar saya yang terpaksa terlibat dengan rentenir dan pinjol karena desakan kebutuhan ekonomi. Hingga akhirnya harus membayar berlipat-lipat karena terlibat rentenir dan pinjol.

Lembaga Keuangan Syariah Belum Optimal

Tanpa bermaksud mengesampingkan peran bank syariah, BMT dan sejenisnya, saya melihat masih kurang optimalnya lembaga-lembaga tersebut menolong umat yang terlibat rentenir dan pinjol.

Mungkin ini agak subjektif, saat saya mencoba melunasi sebuah pinjaman di bank syariah ternyata ketika akan ditutup dan membayar sesuai jadwal saya hitung sama saja. Ya lagi-lagi ini memang tergantung akadnya, tapi mestinya ada skema yang memudahkan agar pelunasan ini hanya pokok dan basil yang sudah berjalan saja.

Pada akhirnya orang akan memilih bank konvensional, karena melihat bank syariah ini sama saja. Semoga saya salah soal ini.

Optimalisasi Baitul Maal Masjid

Jauh hari sebenarnya saya pernah mengusulkan di sebuah masjid dekat rumah agar membuat baitul maal di masjid? Untuk apa? Agar orang-orang yang secara ekonomi tidak mampu bisa terbantu dengan lembaga ini. Ya lagi-lagi responnya dingin, dan akhirnya uang infak dan sedakah tidak optimal pengelolaannya (cenderung hanya untuk pembangunan fisik).

Jika belum tau apa itu baitul maal? Baitul maal ini dalam sejarah Islam diterapkan ketika Nabi Muhammad SAW memimpin pemerintahan di Madinah, namun baitul maal saat itu belum terlembaga. Baitul Maal terlembaga saat di zaman Umar bin Khattab.

Seiring bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam, pengelolaan keuangan pun bertambah kompleks. Atas dasar pertimbangan itulah, Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk melembagakan baitul maal menjadi lembaga formal.

Baitul maal berbeda dengan BMT yang saat ini ada, Baitul maal hanya lembaga penghimpun dana dan didistribusikan untuk dhuafa. Bisa juga dipinjamkan tetapi tanpa skema bagi hasil alias hanya mengembalikan pokok saja.

Nah, saya kira jika lembaga ini bisa dioptimalkan maka akan menolong saudara-saudara kita yang terlibat rentenir dan pinjol. Bahkan dalam fiqh zakat, orang yang terlibat hutang ini memiliki hak (asnaf) dalam pendistribusian zakat (gharim). Allahu'lam.[]

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mahasiswa Doktoral Hukum Ekonomi Syariah UII Yogyakarta

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ucapan Selamat Hari Kesaktian Pancasila dari Rupbasan Palembang

Image

Pendekatan Matematika dalam Mitigasi Bencana

Image

SOLUSI EKONOMI DAN KEUANGAN ISLAM SAAT SAAT PANDEMI COVID 19

Image

Dosen Pascasarjana Uhamka Berhasil Terpilih dalam Program DRIVEN 2022 BRIN dari 374 Proposal

Image

MASINDO Ajak Seluruh Stakeholder Gaungkan Budaya Sadar Risiko

Image

Pegawai Bapas Semarang Antusias Menjaga Kebersihan Kantor

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image