Ibu Pendidik Generasi, Bukan Pejuang Ekonomi

Image
Dewi Soviariani
Curhat | Tuesday, 30 Nov 2021, 05:59 WIB
ilustrasi sosok Ibu sumber: Republika.co.id

Ibu, ibu engkau lah ratu hatiku

Bila ku berduka engkau hiburkan selalu..

Ibu ibu engkau lah ratu hatiku...

Sesungguhnya tak ada dunia yang menawan bagi seorang anak selain dalam belaian ibundanya, sayang peran tersebut harus tergantikan kala sistem kehidupan tak sesuai dengan fitrah manusia. Ya, dibawah cengkeraman ideologi kapitalisme para perempuan dituntut untuk mandiri secara finansial sehingga peran penting mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga beralih fungsi sebagai pejuang ekonomi. Eksploitasi perempuan gencar digalakkan atas nama kemajuan ekonomi. Dengan berbagai macam program, perempuan dituntut perannya sukses di urusan finansial. Pemerintah turut andil dalam memberdayakan perempuan dan menyiapkan berbagai program unggulan yang diharapkan akan mengantarkan pada kemajuan bangsa.

Sebagaimana diberitakan, presiden joko Widodo dalam acara yang digelar di La Nuvola, Roma, Italia, dikutip pada Minggu, 31 Oktober 2021. Menurutnya, peran perempuan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bagi kemajuan bangsa merupakan keniscayaan. Bagi Indonesia, UMKM adalah sendi utama perekonomian. "Indonesia memiliki lebih dari 65 juta unit UMKM yang berkontribusi terhadap 61 persen perekonomian nasional," ujarnya.

Dipusatkan nya UMKM sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sangat disayangkan, karena hampir 54 persen pelaku UMKM adalah perempuan. Bahkan data menunjukkan Indonesia juga meluncurkan 1,1 miliar dolar AS bagi Program Produktif Usaha Mikro dan 63,5 persen di antaranya diterima pengusaha perempuan. Khusus untuk pengusaha perempuan mikro dan ultra-mikro, Indonesia mengembangkan skema pemodalan khusus yang disebut program Mekaar “Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera”. Dalam Bahasa Inggris, Mekar berarti to grow, to blossom. Melambangkan semangat bagi tumbuh berkembangnya peran ekonomi perempuan.

Melihat aksi nyata para perempuan dinegeri ini dalam kemajuan pertumbuhan ekonomi, pemerintah pun terus menggenjot lahirnya UMKM baru yang didominasi oleh perempuan. Penguatan peran UMKM dan perempuan sebagai wujud "Aksi nyata" Pemerintah juga akan segera memfasilitasi para perempuan untuk berkiprah dan berkarya secara luas demi ekonomi bangsa.

Dorongan peningkatan peran UMKM bisa mengalihkan dari merevisi kebijakan pengelolaan SDA dan asset negara (BUMN) yg kapitalistik dan terbukti gagal memberi solusi problem kemiskinan. Banyak nya benang kusut permasalahan dalam pengelolaan SDA dan asset negara (BUMN) akibat penerapan sistem ekonomi neoliberal gagal menyelamatkan perekonomian negeri ini.

Keterlibatan perempuan yg lebih besar justru bisa melahirkan masalah baru terkait tanggung jawabnya sebagai pendidik generasi. Ibu akan mengorbankan waktu dan kesempatan nya dalam mengurus dan mendidik anak, tak terbayangkan bagaimana nasib generasi kedepan menghadapi kemajuan zaman yang mengadopsi sistem sekuler kapitalis. Rusak nya sistem pergaulan para remaja, Seks bebas, kehamilan diluar nikah, kriminalitas anak, narkoba, pemerkosaan, pelecehan seksual, pembegalan dan lain sebagainya. Adalah bukti gagal nya negara dalam menempatkan perempuan pada posisi seharusnya. Sejak terpuruk nya kondisi ekonomi bangsa ini perempuan mengambil alih peran sebagai pejuang ekonomi, kepala keluarga yang tak berdaya akibat PHK, sistem penerimaan karyawan disebuah perusahaan pun memprioritaskan para perempuan. Bahkan skil berusaha pun lebih banyak dimiliki perempuan Akibatnya nafkah keluarga terlantar perempuan lah yang bekerja keras untuk menyelamatkan ekonomi keluarga nya. Lagi lagi perempuan harus dieksploitasi akibat penerapan sistem sekuler kapitalis ini.

Dalam perannya mendidik generasi, fitrah perempuan adalah memberikan tanggung jawab penuh terhadap kebaikan dunia akhirat keluarga nya. Dengan memberikan pendidikan terbaik sejak alam kandungan bukan lah peran yang mudah bagi perempuan. Jika mereka harus dieksploitasi dengan berperan aktif memperjuangkan ekonomi bangsa, maka akan ada pengorbanan lain yang jauh lebih buruk akibat nya. Kebijakan ini bukan solusi tapi justru mempertahankan kesalahan pengelolaan dan memunculkan problem ikutan. Kegagalan mengurus negara dengan sistem yang salah pada akhirnya mengorbankan perempuan. Jelas, kehidupan kapitalis menghalalkan segala cara, bagai bom waktu yang siap meledakkan berbagai kehancuran jika terus mempertahankan sistem sekuler kapitalis.

Bagi kapitalisme, ketercapaian partisipasi perempuan masih belum cukup mendongkrak perekonomian, sehingga diperlukan peningkatan pemberdayaan perempuan agar lebih berkualitas dalam berusaha dan menjadi mesin ekonomi yang produktif. Mereka memuja-muji dengan narasi positif seakan-akan berpihak pada perempuan. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah kegagalan ekonomi kapitalisme menciptakan kesejahteraan bagi perempuan.

Kemanakah perempuan akan mendapatkan perlindungan terbaik dan menduduki posisi nya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga? Sistem sekuler kapitalis terbukti menyengsarakan perempuan,kapitalisme bersama kesetaraan gender mendorong perempuan keluar dari posisi dan fitrah nya yakni sebagai ibu rumah tangga. Penilaian negatif tentang ibu rumah tangga sudah terlanjur melekat kuat. Ibu rumah tangga dianggap sebagai status yang mengekang, menindas, dan tidak mandiri. Menjadikan perempuan sebagai bumper ekonomi sama halnya memaksa kaum perempuan berperan ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja. Jika tak kerja, dianggap beban, dipandang tak berdaya, dan dinilai tak produktif. Menjadi kan mereka komoditas yang terus dieksploitasi sebagai kambing hitam gagal nya penanganan terhadap problematika bangsa yang terus-menerus dilanda masalah.

Jika melihat perbandingan aturan Islam dengan kapitalis maka akan kita temukan jurang perbedaan yang sangat dalam. Dalam pandangan Islam, perempuan memiliki kedudukan mulia dan terjaga, Pemberdayaan perempuan dalam Islam bukan sekadar ajang memperkaya diri dengan materi. Berdaya dalam Islam adalah memaksimalkan potensi perempuan sebagai pilar peradaban. Bukan mengeksploitasi tenaga, waktu, dan pikirannya dengan apa yang disebut sebagai pemberdayaan ekonomi perempuan. Negara dalam Islam, akan mengelola sumber pemasukannya untuk kesejahteraan rakyat. Sumber pemasukan tersebut antara lain: Fa’y, kharaj, ghonimah, pengelolaan SDA, zakat, dan sebagainya. Selain itu, negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan dan mendorong kaum laki-laki untuk giat bekerja.

“Wahai Rasulullah, apakah lelaki ini berada di jalan Allah?” Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia keluar bekerja untuk (memenuhi kebutuhan) anaknya yang masih kecil maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja untuk (memenuhi kebutuhan) kedua orang tuanya yang sudah renta maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar bekerja (memenuhi kebutuhan) dirinya agar tidak meminta-minta maka ia berada di jalan Allah, dan jika ia keluar bekerja untuk kesombongan dan riya maka ia berada di jalan setan.” (HR Thabrani).

Potensi perempuan yang cenderung penyayang dan lemah lembut menjadikan peran domestiknya sangatlah penting bagi lahirnya sebuah peradaban. Seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan, “Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.” Pemberdayaan perempuan dalam Islam bukanlah tuntutan kesetaraan gender atau mesin pendongkrak ekonomi. Pemberdayaan perempuan dalam Islam tercakup dalam dua peran. Pertama, peran domestik, yakni sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Peran ini tidak akan bisa digeser oleh siapa pun. Allah telah menempatkan potensi perempuan sebagai pendidik generasi. Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, serta mendidik anak adalah serangkaian tugas pokok bagi para ibu. Meski ayah pun memiliki kewajiban mendidik anak-anaknya, hanya saja potensi pengasuhan anak memang Allah fitrahkan pada kaum ibu. Islam memandang perempuan dengan tepat dan menempatkannya pada posisi mulia, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Adapun kewajiban mencari nafkah, dibebankan pada kaum laki-laki. Bukan untuk menunjukkan kekuatan laki-laki dan kelemahan perempuan. Peran ini diberikan sesuai dengan kemampuan fisik dan tanggung jawab yang diberikan Allah Swt. pada laki-laki. “Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah 233).

Kedua, peran publik. Dalam hal ini, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kedudukan yang sama dalam mengenyam pendidikan, menuntut ilmu, mengajarkan ilmu, dan berdakwah. Adapun jika terdapat ketentuan hukum yang berkaitan dengan predikatnya sebagai laki-laki dan perempuan, hal itu tidak bermakna tak setara. Allah Swt. memberikan ketentuan atas peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan pernikahan dan bermasyarakat tidak didasarkan pada pengertian gender, tetapi pada apa yang diperlukan secara efektif untuk mengatur kehidupan keluarga dan masyarakat secara proporsional dan berkeadilan. Sehingga, tercipta kehidupan yang harmoni dan sinergi. Perbedaan ketentuan hukum ini bukan berarti diskriminasi. Namun, di sinilah keadilan yang Allah beri untuk makhluk-Nya sesuai kapasitas dan potensi masing-masing. Dengan demikian, perempuan akan menjalankan peran domestiknya dengan baik. Perempuan bekerja dalam rangka menyalurkan ilmunya atau memberi kemaslahatan bagi ummat bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini karena mekanisme yang ditetapkan Islam adalah untuk memuliakan perempuan.

Allahu A'lam bisshawwab

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Patung Kobe Bryant Berdiri di Puncak Bukit Tempat Kecelakaan

Image

Dua Waktu Istirahat Yang Baik dan Buruk Menurut Islam

Image

Lirik Dan Link Download Lagu Satru 2 - Denny Caknan MP3 Gratis Lengkap

Image

PT SGPJB Bersama LAZ Harfa Gelar Pembinaan untuk Guru Honorer

Image

Fitur GB Whatsapp Mod Apk Terbaru, Bisa Gunakan 2 Akun Sekaligus

Image

Akad Mudharabah sebagai Sarana Perencanaan Keuangan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image